Way4n's Blog

 

 

PEMERINTAH KABUPATEN PASER

DINAS PENDIDIKAN

SEKOLAH DASAR NEGERI 011 LONG IKIS

Ulangan Tengah Semester (UTS) I

Tahun Pelajaran 2011/2012

 

 

Mata Pelajaran            :   Bahasa Indoensia

                                    Kelas                           :   IV (Empat)

Hari/Tanggal               :   Selasa, 11 Oktober 2011

Lamanya                     :   120 Menit

Dimulai Pukul             :   07.30 wita

Diakhiri Pukul             :   09.30 wita

Nama                           : ……………………………………………..

 

 

PETUNJUK

 

  1. Tulislah lebih dahulu nomor kode sekolah dan nama peserta ulangan pada baris paling atas ( baris nomor 1 ) pada lembar jawaban yang disediakan!
  2. Periksa dan bacalah soal-soal sebelum menjawab!
  3. Laporkan kepada pengawas ualangan kalau terdapat tulisan yang kurang jelas, rusak atau jumlah soal kurang!
  4. Jumlah soal sebanyak 25 item berbentuk pilihan ganda, isian, dan essay.
  5. Dahulukan menjawab soal-soal yang dianggap mudah!
  6. Kerjakan pada lembar jawaban yang tersedia, dengan bolpoint/pulpen yang bertinta biru atau hitam sesuai dengan petunjuk pada masing-masing jenis soal!
  7. Khusus untuk pilihan ganda apabila ada jawaban yang kamu anggap salah dan kamu ingin memperbaikinya, coretlah dengan dua garis lurus mendatar pada jawabanmu yang salah, kemudian berilah tanda silang ( X ) pada huruf yang kamu anggap betul!

 

 

Contoh                        :                       A         B         C         D

 

 

A         B         C         D

8.  Periksalah pekerjaan kamu sebelum diserahkan kepada pengawas ulangan tengah semester (UTS)!

 

 

Selamat bekerja

 

Bacaan di bawah ini untuk soal no. 1 – 5

 

Dahulu orang beranggapan tanah adalah unsur pokok di dalam pertanian. Tidak mungkin bercocok tanam tanpa tanah karena akarTidak mungkin bercocok tanam tanpa tanah karena akar tumbuhan mencari makanan di tanah. Batang pohon pun menancap kuat di tanah. Oleh karena itu, kepemilikan luas tanah sering menjadi ukuran kekayaan petani.

Kini anggapan seperti itu sudah kedaluwarsa. Tanpa tanah, ternyata orang bisa membudidayakan aneka bunga dan sayuran. Teknik ini dikenal dengan istilah hidroponik. Sebagai ganti tanah, orang menggunakan kerikil, pecahan genting, pasir kali, atau gabus orang menggunakan kerikil, pecahan genting, pasir kali, atau gabus putih; pokoknya, benda yang berpori sebagai tempat perumbuhan putih; pokoknya, benda yang berpori sebagai tempat perumbuhan tanaman. Nutrisi untuk tumbuhan dilarutkan di dalam air supaya tetap dapat diserap oleh akar.

Teknik baru ini tampaknya dapat mengatasi keterbatasan lahan pertanian. Orang kota yang tidak punya lahan luas senang menanam dengan cara ini. Keuntungan yang lain, kegiatan tanam menanam dapat dilakukan dengan praktis dan bersih. Tanaman pun lebih bebas hama dan penyakit karena kebanyakan hama penyakit berkembang biak di tanah.

(Agripos, Desember 2007)

 

  1. Pilihan Ganda
    1. Pikiran pokok paragraf pertama bacaan di atas adalah ….
      1. Dahulu orang menganngap tanah sebagau unsur pokok pertanian.
      2. Tanah adalah tempat akar mencari makanan
      3. Tanah adalah tempat batang pohon berdiri.
      4. Tanah menjadi ukuran kekeyaan petani.

 

  1. Anggapan itu sudah kedaluwarsa.

Persamaan kata kedaluwarsa adalah….

a. kuno                       b. modern                    c. ketinggalan zaman               d. kampungan

 

  1. Benda yang tidak dapat digunakan untuk bertanam secara hidroponik adalah ….

a. kerikil                     b. pecahan genting      c. gabus putih                          d. kertas

 

  1. Berikut adalah keuntungan bercocok tanam secara hidoponik adalah ….
  2. Tidak dapat mengatasi lahan sempit.
  3. Kegiatan yang dilakukan membutuhkan waktu dan tenaga yang besar.
  4. Hasilnya lebih banyak dan berkualitas.
  5. Tanaman lebih bebas hama dan penyakit.

 

  1. Judul yang paling tepat untuk bacaan di atas adalah ….
    1. Sistem Bertanam yang Praktis dan Bersih
    2. Hidroponik Mudah dan Praktis
    3. Bertanam di Lahan Sempit
    4. Bertanam Gaya Modern.

 

  1. Tempat landasan dan parkir pesawat disebut ….
    1. Bandara                b. terminal                   c. bengkel                    d. satasiun

 

  1. Penulisan dengan  angka yang benar untuk bilangan seribu dua ratus rupiah lima puluh sen adalah ….
    1. Rp. 1.200,50        b. Rp 1.200,50                        c. Rp 1.200.50             d. Rp. 1.200.50

 

  1. Pak Hasan adalah pakar dalam bidang pendidikan.

Arti istilah pakar adalah ….

  1. Ahli                      b. pandai                     c. pintar                       d. peneliti

 

 

 

  1. Obat-obat ini hanya dapat dibeli dengan … dokter.

Kata yang tepat untuk melengkapi kalimat di atas adalah ….

  1. Resi                      b. kartu berobat           c. resep                        d. surat.

 

  1. Contoh kalimat berita adalah ….
    1. Kapan Paman pergi ke Samarinda?
    2. Duduklah di bangku itu!
    3. Anita duduk di kelas IV
    4. Kapan lomba itu dilaksanakan?

 

  1. Isian Singkat
    1. Kata tanya di mana digunakan untuk menanyakan ….
    2. Siapa yang piket hari ini (…)

Tanda baca yang tepat untuk menutup akhir kalimat di atas adalah ….

  1. a. Sinta gemar menari.
  2. Sinta gemar menyanyi.

Kata sambung yang tepat untuk menggabungkan kedua kalimat di atas adalah ….

  1. Pengemudi kereta api disebut ….

Berdasarkan gambar di samping, kedua orang tersebut      bepergian menggunakan …..

 

 

 

 

 

  1. Meskipun sederhana, sepeda termasuk kendaraan penting di pedesaan. Banyak hasil pertanian yang dapat diangkut dengan sepeda. Padahal, dahulu mereka harus memikul atau menggendong jika membawa barang bawaan. Kini dengan sepeda, beban manusia dalam mengangkut barang terasa lebih ringan.

Pokok pikiran wacana di atas adalah ….

  1. Para korban gempa bumi mengungsi ke tanah lapang.

Pertanyaan yang tepat untuk jawaban di atas adalah ….

  1. Sis, jangan membuang sampah di got (…)

Tanda baca yang tepat untuk menutup kalimat di atas adalah ….

  1. Dokter puskesmas mengukur tekanan darah nenek dengan ….
  2. Penyakit pada tanam-tanaman disebut ….

 

  1. Essai
    1. Apa artinya minum obat 3 × 1 hari dalam petunjuk aturan minum obat?
    2. Jelaskan arti istilah-istilah di bawah ini!
      1. kasus
      2. jalan tol
      3. resep
    3. Tulislah masing-masing sebuah kalimat dengan menggunakan kata depan di, ke, pada, dan dari dengan tepat!
    4. Jelaskan arti simbol-simbol di bawah ini!

 

  1. Bajak merupakan salah satu alat pertanian. Coba jelaskan arti atau gambaran tentang bajak!

Secara etimologis, ideologi berasal dari kata “ideo” dan “logos”. Ideo berarti gagasan-gagasan, sementara logos adalah ilmu. Jadi, secara etimologis (asal-usul bahasa) ideologi berarti ilmu tentang gagasan-gagasan atau ilmu yang mempelajari asal-usul ide. Ada pula yang menyatakan ideologi sebagai seperangkat gagasan dasar tentang kehidupan dan masyarakat, misalnya pendapat yang bersifat agama atau pun politik.

Selain makna etimologis, ideologi dapat dikatakan mengacu pada apa yang orang pikir dan percaya mengenai masyarakat, kekuasaan, hak, tujuan kelompok, yang kesemuanya menentukan jenis tindakan mereka. Ideologi berpengaruh terhadap tindakan politik tertentu. Apa yang orang pikir dan percaya mengenai masyarakat ini dapat berkisar pada bidang ekonomi, politik, social, dan filosofis.

Definisi yang biasa diberikan, menyebutkan bahwa ideologi adalah sistem gagasan politik, yang dibangun untuk melakukan tindakan-tindakan politik seperti misalnya memerintah suatu negara, melakukan gerakan sosial/politik, partai politik, mengadakan revolusi, ataupun kontrarevolusi. Ideologi, sebab itu, bercorak duniawi dalam artian ia diciptakan manusia untuk memetakan kondisi sosial yang ada di lingkungannya. Peta yang melukiskan realitas tersebut kemudian digunakan sebagai pedoman arah dalam bertindak.

Tidak dapat dipungkiri bahwa ideologi pun dapat mengambil akar dari agama. Misalnya liberalisme, yang banyak memperoleh inspirasi dari reformasi agama Kristen yang dibawakan oleh Martin Luther abad ke-16. Meskipun memiliki inspirasi dari agama, pada perkembangannya, liberalisme lebih berfokus pada dimensi sekular, khususnya gagasan-gagasan mengenai kemanusiaan, individualitas manusia, dan pembatasan kekuasaan negara atas individu.

Contoh lainnya adalah fundamentalisme agama yang dinyatakan memperoleh inspi      rasi dari kita suci. Zionisme misalnya, menyatakan dirinya berdasarkan janji Tuhan di dalam Taurat, bahwa Tanah Palestina adalah Tanah yang Dijanjikan kepada bangsa Israel. Pada perkembangannya, Zionisme kemudian menjadi ideology sekuler dan penuh muatan politik.

Selain agama, ideologi pun ada yang berakar dari kondisi ekonomi. Cara produksi manusia, penguasaan alat produksi, tujuan produksi, melahirkan sejumlah ideologi seperti Kapitalisme dan Komunisme. Kedua ideologi tersebut memiliki akar yang kuat dari kondisi ekonomi di Eropa tahun 1800-an.

Pengertian ideologi lainnya diajukan oleh Teun A. van Dijk dalam studi mengenai analisis wacana. Dijk menyatakan bahwa “… ideologi adalah sebuah sistem yang merupakan basis pengetahuan sosio-politik suatu kelompok. Sebab itu, ideologi mampu mengorganisir perilaku kelompok yang terdiri atas opini menyeluruh yang tersusun secara skematis seputar isu-isu sosial yang relevan seperti aborsi, enerji nuklir ataupun affirmative action.” Bagi Dijk, istilah organisasi dapat digunakan guna menjelaskan ideologi-ideologi post-materialism seperti feminism, environmentalisme, racism, dan sebagainya.

Pendidikan termasuk wilayah muamalah duniawi-yah, maka menjadi tugas manusia untuk memikirkannya terus menerus seirama dengan perubahan zaman.

Ideologi bagi pengikutnya memiliki fungsi positif. Menurut Vago yang dikutip oleh Haidar Nashir, ideologi memiliki fungsi: (1) memberikan legitimasi dan rasionalisasi terhadap perilaku dan hubungan-hubungan sosial dalam masyarakat; (2) sebagai dasar atau acuan pokok bagi solidaritas sosial dalam kehidupan kelompok atau masyarakat, dan (3) memberikan motivasi bagi para individu mengenai pola-pola tindakan yang pasti dan harus dilakukan.

Menurut golongan positivistik yang dikategotikan ideologi adalah segala penilaian etis, norma, teori-teori metafisik dan keagamaan. Semua yang termasuk ideologi itu merupakan keyakinan yang tidak ilmiah karena tidak rasional dan hanya merupakan keyakinan subyektif. Bila ideologi dikaitkan dengan ilmu pengetahuan, menurut Kuntowijoyo ideologi bersifat subyektif, normatif, dan tertutup sedangkan ilmu pengetahuan memiliki watak obyektif, faktual dan terbuka.

Untuk meminimalkan sisi negatif ideologi perlu dibatasi pada ideologi dalam arti netral dan ideologi terbuka. Ideologi dalam arti netral adalah sistem berfikir, nilai-nilai, dan sikap dasar rohani sebuah gerakan kelompok sosial atau kebudayaan. Dalam hal ini ideologi tergantung sisinya, kalau isinya baik maka ideologi itu baik, begitu pula sebaliknya. Ideologi terbuka adalah ideologi yang hanya menetapkan nilai-nilai dasar, sedang penerjemahannya ke dalam tujuan dan norma-norma sosial/ politik selalu dapat dipertanyakan dan disesuaikan dengan prinsip-prinsip moral dan perkembangan cita-cita masyarakat. Operasinalisasinya tidak ditentukan secara apriori, melainkan harus disepakati secara demokratis.oleh karena it ideologi terbuka bersifat inklusif, tidak totaliter, dan tidak dimaksudkan unntuk melegatimasi kepentingan sekelompok orang.

Filsafat pendidikan adalah bagian dari ilmu filsafat, maka dalam mempelajari filsafat pendidikan perlu memahami terlebih dahulu tentang pengertian filsafat terutama dalam kaitannya dengan filsafat pendidikan. Kata filsafat atau falsafat, berasal dari bahasa Yunani. Kalimat ini berasal dari kata philosphia yang berarti cinta pengetahuan. Terdiri dari kata philos yang berarti cinta, senang, suka dan kata Sophia berarti pengetahuan, hikmah dan kebijaksanaan. Hasan Shadly mengatakan bahwa filsafat menurut arti katanya adalah cinta akan kebenaran. Dengan demikian dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa filsafat adalah cinta kepada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka kepada hikmah dan kebijaksanaan. Jadi orang yang berfilsafat adalah orang yang mencintai akan kebenaran, berilmu pengetahuan, ahli hikmah dan bijaksana.

Berbagai pengertian tentang filsafat pendidikan yang telah dikemukakan oleh para ahli, Al Syaibany mengartikan bahwa filsafat pendidikan ialah aktivitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat tersebut sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan. Artinya, bahwa filsafat pendidikan dapat menjelaskan nilai-nilai dan maklumat-maklumat yang diupayakan untuk mencapainya, maka filsafat pendidikan dan pengalaman kemanusian merupakan faktor yang integral atau satu kesatuan. Sementara itu, filsafat juga didefinisikan sebagai pelaksana pandangan falsafah dan kaidah falsafah dalam bidang pendidikan, falsafah tersebut menggambarkan satu aspek dari aspek-aspek pelaksana falsafah umum dan menitik beratkan kepada pelaksanaan prinsip-prinsip dan kepercayaan yang menjadi dasar dari filsafat umum dalam upaya memecahkan persoalan-persoalan pendidikan secara praktis.

Barnadib mempunyai versi pengertian atas filsafat pendidikan, yakni ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam bidang pendidikan. Karenanya, dengan bersifat filosofis, bermakna bahwa filsafat pendidikan.

Dalam rangka menggali, menyusun, dan mengembangkan pemikiran kefilsafatan tentang pendidikan, maka perlu diikuti pola dan pemikiran kefilsafatan pada umumnya. Adapun pola dan sistem pemikiran kefilsafatan sebagai suatu ilmu adalah :

  1. Pemikiran kefilsafatan harus bersifat sistematis, dalam arti cara berpikirnya bersifat logis dan rasional tentang hakikat permasalahan yang dihadapi. Hasil pemikirannya tersusun secara sistematis artinya satu bagian dengan bagian lainnya saling berhubungan.
  2. Tinjauan terhadap permasalahan yang dipikirkan bersifat radikal artinya menyangkut persoalan yang mendasar sampai keakar-akarnya.
  3. Ruang lingkup pemikirannya bersifat universal, artinya persoalan-persoalan yang dipikirkan mencakup hal-hal yang menyeluruh dan mengandung generalisasi bagi semua jenis dan tingkat kenyataan yang ada di alam ini, termasuk kehidupan umat manusia, baik pada masa sekarang maupun masa mendatang.
  4. Meskipun pemikiran yang dilakukan lebih bersifat spekulatif, artinya pemikiran-pemikiran yang tidak didasari dengan pembuktian-pembuktian emperis atau eksperimental (seperti dalam ilmu alam), akan tetapi mengandung nilai-nilai obyektif. Dimaksud dengan nilai obyektif oleh permasalahannya adalah suatu realitas (kenyataan) yang ada pada obyek yang dipikirkannya.

Pola dan sistem berpikir filosofis demikian dilaksanakan dalam ruang lingkup yang menyangkut bidang-bidang sebagai berikut :

  1. Cosmologi yaitu pemikiran dalam permasalahan yang berhubungan dengan alam semesta, raung dan waktu, kenyataan hidup manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan, serta proses kejadian-kejadian dan perkembangan hidup manusia di alam nyata dan sebagainya.
  2. Ontologi yaitu suatu pemikiran tentang asal-usul kejadian alam semesta, dari mana dan kearah mana proses kejadiannya. Pemikiran ontologis akhirnya akan menentukan suatu kekuatan yang menciptakan alam semesta ini, apakah pencipta itu satu zat (monisme) ataukah dua zat (dualisme) atau banyak zat (pluralisme). Dan apakah kekuatan penciptaan alam semesta ini bersifat kebendaan, maka paham ini disebut materialisme.

Secara makro (umum) apa yang menjadi obyek pemikiran filsafat, yaitu dalam ruang lingkup yang menjangkau permasalahan kehidupan manusia, alam semesta dan sekitarnya adalah juga obyek pemikiran filsafat pendidikan. Tetapi secara mikro khususnya yang menjadi obyek filsafat pendidikan meliputi :

  1. Merumuskan secara tegas sifat hakikat pendidikan (The Nature of Education).
  2. Merumuskan sifat hakikat manusia sebagai subyek dan obyek pendidikan (The Nature Of Man).
  3. Merumuskan secara tegas hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, agama, dan kebudayaan.
  4. Merumuskan hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan dan teori pendidikan.
  5. Merumuskan hubungan antara filsafat negara (ideologi, filsafat pendidikan dan politik pendidikan (sistem pendidikan).
  6. Merumuskan sistem nilai norma atau isi moral pendidikan yang merupakan tujuan pendidikan.

Dengan demikian dari uraian tersebut diperoleh suatu kesimpulan bahwa yang menjadi obyek filsafat pendidikan ialah semua aspek yang berhubungan dengan upaya menusia untuk mengerti dan memahami hakikat pendidikan itu sendiri, yang berhubungan dengan bagaimana pelaksanaan pendidikan dan bagaimana tujuan pendidikan itu dapat dicapai seperti yang dicita-citakan.

Masalah pendidikan adalah merupakan masalah hidup dan kehidupan manusia. Proses pendidikan berada dan berkembang bersama proses perkembangan hidup dan kehidupan manusia, bahkan pada hakikatnya keduanya adalah proses yang satu.

Dengan pengertian pendidikan yang luas, berarti bahwa masalah kependidikan pun mempunyai ruang lingkup yang luas pula, yang menyangkut seluruh aspek hidup dan kehidupan. Sebagai contoh, berikut ini akan dikemukakan beberapa masalah kependidikan yang memerlukan analisa filsafat dalam memahami dan memecahkannya, antara lain :

  1. Masalah pendidikan pertama yang mendasar adalah tentang apakah hakikat pendidikan. Mengapa harus ada pada manusia dan merupakan hakikat hidup manusia.
  2. Apakah pendidikan itu berguna untuk membina kepribadian manusia?
  3. Apakah sebenarnya tujuan pendidikan itu?

Problema-problema tersebut merupakan sebagian dari contoh-contoh problematika pendidikan yang dalam pemecahannya memerlukan usaha-usaha pemikiran yang mendalam dan sistematis atau analisa filsafat. Dalam memecahkan masalah-masalah tersebut analisa filsafat menggunakan berbagai macam pendekatan yang sesuai  dengan permasalahannya. Diantara pendekatan yang digunakan antara lain adalah :

  1. Pendekatan secara spekulatif.
  2. Pendekatan normatif.
  3. Pendekatan analisa konsep.
  4. Analisa ilmiah.

Selanjutnya Harry Scofield, sebagaimana dikemukakan oleh Imam Barnadid dalam bukunya Filsafat Pendidikan, menekankan bahwa dalam analisa filsafat terhadap masalah-masalah pendidikan digunakan dua macam pendekatan yaitu pendekatan filsafat historis dan pendekatan dengan menggunakan filsafat kritis.

Dengan pendekatan filsafat historis yaitu dengan cara mengadakan deteksi dari pertanyaan-pertanyaan filosofis yang diajukan, mana-mana yang telah mendapat jawaban dari para ahli filsafat sepanjang sejarah. Dalam sejarah filsafat telah berkembang dalam bentuk sistematika, jenis dan aliran-aliran filsafat tertentu.

Pembiayaan Pendidikan Terpadu pada Sekolah Negeri

Oleh  :

I Wayan Adnyana, S.Pd

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Pendidikan merupakan upaya yang dapat mempercepat pengembangan SDM untuk mampu mengemban tugas yang dibebankan kepadanya. Pendidikan merupakan salah satu faktor sangat penting dalam kehidupan manusia masa akan datang, sebab pendidikan merupakan suatu proses pembentukan manusia untuk menumbuh kembangkan potensi yang ada. Sangat jelas dinyatakan dalam UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; Pasal 3, fungsi dan tujuan pendidikan nasional adalah penyelenggaraan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu cakap, kreatif, dan mandiri.

Pembiayaan pendidikan merupakan suatu konsep yang seharusnya ada dan tidak dapat dipahami tanpa mengkaji konsep-konsep yang mendasarinya. Ada anggapan bahwa pembicarakan pembiayaan pendidikan tidak lepas dari persoalan ekonomi pendidikan. Johns dan Morphet (1970:85) “Mengemukakan bahwa pendidikan itu mempunyai peranan vital terhadap ekonomi dan negara modern. Dikemukakan hasil penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa pendidikan merupakan a major contributor terhadap pertumbuhan ekonomi”. Secara umum pembiayaan pendidikan adalah sebuah kompleksitas, yang didalamnya akan terdapat saling keterkaitan pada setiap komponen, yang memiliki rentang yang bersifat mikro (satuan pendidikan) hingga yang makro (nasional), yang meliputi sumber-sumber pembiayaan pendidikan, sistem dan mekanisme pengalokasiannya, efektivitas dan efisiensi dalam penggunaannya, akutabilitas hasilnya yang diukur dari perubahan-perubahan yang terjadi pada semua tataran, khususnya sekolah, dan permasalahan-permasalahan yang masih terkait dengan pembiayaan pendidikan.

Sehubungan itu, pemerintah berencana menganggarkan sektor pendidikan sebesar 20 persen pada tahun 2010. Rencana kebijakan itu diapresiasi sebagai langkah mulia memajukan sektor pendidikan. Apakah persoalan pendidikan akan berhenti dengan kebijakan itu?

Harus diakui permasalahan pembiayaan pendidikan di negeri ini merupakan permasalahan klasik yang tak berujung. Dana bantuan operasional sekolah (BOS) Rp 397.000 per siswa SD per tahun dan Rp 570.000 per siswa SMP per tahun yang diberikan ke sekolah sesuai jumlah siswa setiap 3 bulan sebenarnya belum mencukupi. Banyak sekolah yang hanya mengandalkan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) sehingga sering kali memungut biaya dari orangtua siswa. Akibatnya, hampir setiap saat ditemui protes terkait urusan biaya sekolah. Anak putus sekolah meskipun berusaha diminimalisir, di berbagai daerah sebenarnya ada yang tidak terpantau. Khusus di Sekolah Dasar dan SLTP, banyak elemen masyarakat menentang kebijakan memungut biaya pendidikan dari masyarakat. Apalagi adanya program pendidikan gratis untuk SD dan SLTP pada beberapa daerah di Indonesia termasuk kabupaten Paser.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

  1. Konsep Biaya
  2. Pengertian Biaya

Menurut Harnanto (1992, hal. 24), pengertian biaya adalah sebagai berikut : Beban (expenses) adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk arus keluar atau berkurangnya aktiva atau terjadi kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada penanam modal.

Menurut lAl/SAK (1994), pengertian biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu, sehingga biaya dalam arti luas diartikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva.

Menurut Supriyono (2000;16), Biaya adalah harga perolehan yang dikorbankan atau digunakan dalam rangka memperoleh penghasilan atau revenue yang akan dipakai sebagai pengurang penghasilan.

Menurut Henry Simamora (2002;36), Biaya adalah kas atau nilai setara kas yang dikorbankan untuk barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat pada saat ini atau di masa mendatang bagi organisasi.

Menurut Mulyadi (2001;8), Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis  yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi, sedang terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.

Menurut Masiyah Kholmi, Biaya adalah pengorbanan sumber daya atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat di saat sekarang atau di masa yang akan datang bagi perusahaan.

Konsep biaya merupakan konsep yang terpenting dalam akuntasi manajemen akuntasi biaya. Adapun tujuan memperoleh informasi biaya digunakan untuk proses perencanaan, pengendalian, dan pembuatan keputusan.

Menurut Hansen dan Mowen (2004:40), biaya didefinisikan sebagai kas atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberikan manfaat saat ini atau di masa yang akan dating bagi organisasi.(Prepared by Ridwan Inskandar Sudayat, S.E). Sedangkan menurut Supriyono (2000:185), biaya adalah pengorbanan ekonomis yang dbuat untuk memperoleh barang atau jasa.

The Commite on Cost Consepts and Standards of The American Accounting Association memberikan definisi untuk istilah Cost sebagai berikut : “Cost is foregoing measured in monetary term incurred or potentially to be incurred to achieve a specific objective” yang berarti biaya merupakan pengeluaran-pengeluaran yang diukur secara terus-menerus dalam uang atau pontesial harus dikeluarkan untuk mencapai suatu tujuan.

Istilah-istilah dan konsep dalam menghitung biaya digunakan dalam pengertian yang berbeda-beda, oleh karena tergantung dari kondisi, tujuan dan pihak yang akan menggunakannya (Adikoesumah, 1982 -1 ).

Pass, Lowes dan Davis menyatakan bahwa biaya merupakan pembayaran (termasuk biaya eksplesit dan memperoduksi implicit) yang ditimbulkan oleh perusahaan untuk memproduksi outputnya (1998 – 118).

Jadi memrut beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa biaya merupakan kas atau nilai ekuivalen kas yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan guna untuk memeberikan suatu manfaat yaitu peningkatan laba.

 

  1. Penggolongan Biaya

Menurut Mulyadi (2005:13), Biaya digolongkan sebagai berikut;

  1. Menurut Objek Pengeluaran.

Penggolongan ini merupakan penggolongan yang paling sederhana, yaitu berdasarkan penjelasan  singkat mengenai suatu objek pengeluaran, misalnya pengeluaran yang berhubungan dengan telepon disebut “biaya telepon”.

  1. 2.    Menurut Fungsi Pokok dalam Perusahaan

Biaya dapat digolongkan menjadi 3 kelompok, yaitu: (1). Biaya Produksi, yaitu semua biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi atau kegiatan pengolahan bahan baku menjadi produk selesai. Biaya produksi dapat digolongkan ke dalam biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik. (2). Biaya Pemasaran, adalah biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk, contohnya biaya iklan, biaya promosi, biaya sampel, dll. (3). Biaya Administrasi dan Umum, yaitu biaya-biaya untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan produksi dan pemasaran produk, contohnya gaji bagian akuntansi, gaji personalia, dll.

  1. 3.    Menurut Hubungan Biaya dengan Sesuatu Yang Dibiayai.

Ada 2 golongan, yaitu: (1). Biaya Langsung (direct cost), merupakan biaya yang terjadi dimana penyebab satu-satunya adalah karena ada sesuatu yang harus dibiayai. Dalam kaitannya dengan produk, biaya langsung terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. (2). Biaya Tidak Langsung (indirect cost), biaya yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai, dalam hubungannya dengan produk, biaya tidak langsung dikenal dengan biaya overhead pabrik.

  1. 4.    Menurut Perilaku dalam Kaitannya dengan Perubahan Volume Kegiatan

Biaya dibagi menjadi 4, yaitu (1). Biaya Tetap (fixed cost), biaya yang jumlahnya tetap konstan tidak dipengaruhi perubahan volume kegiatan atau aktivitas sampai tingkat kegiatan tertentu, contohnya; gaji  direktur produksi. (2). Biaya Variabel (variable cost), biaya yang jumlah totalnya berubah secara sebanding dengan perubahan volume kegiatan atau aktivitas, contoh; biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung. (3). Biaya Semi Variabel, biaya yang jumlah totalnya berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Biaya semi variabel mengandung unsur biaya tetap dan biaya variabel, contoh; biaya listrik yang digunakan. (4). Biaya Semi Fixed, biaya yang tetap untuk tingkat volume kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada volume produksi tertentu.

 

 

 

  1. 5.    Menurut Jangka Waktu Manfaatnya,

Biaya dibagi 2 bagian, yaitu; (1). Pengeluaran Modal (Capital Expenditure), yaitu pengeluaran yang akan memberikan manfaat/benefit pada periode akuntansi atau pengeluaran yang akan dapat memberikan manfaat pada periode akuntansi yang akan datang. (2). Pengeluaran Pendapatan (Revenue Expenditure), pengeluaran yang akan memberikan manfaat hanya pada periode akuntansi dimana pengeluaran itu terjadi.

 

  1. Konsep Biaya Pendidikan

Biaya dalam pendidikan meliputi biaya langsung (direct cost) dan tidak langsung (indirect cost), biaya langsung terdiri dari biaya-biaya yang dikeluarkan untuk keperluan pelaksanaan pengajaran dan kegiatan-kegiatan belajar siswa berupa pembelian alat-alat pembelajaran, sarana belajar, biaya transportasi, gaji guru, baik yang dikeluarkan oleh pemerintah, orang tua maupun siswa sendiri. Sedangkan biaya tidak langsung berupa keuntungan yang hilang (earning forgone) dalam bentuk biaya kesempatan yang hilang (opportunity cost) yang dikorbankan oleh siswa selama belajar.

Anggaran biaya pendidikan terdiri dari dua sisi yang berkaiatan satu sama lainnya, yaitu sisi anggaran penerimaan dan anggaran pengeluaran untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Anggaran penerimaan adalah pendapatan yang diperoleh setiap tahun oleh sekolah dari berbagai sumber resmi dan diterima secara teratur. Sedangkan anggaran dasar pengeluaran adalah jumlah yang yang dibelanjakan setiap tahun untuk kepentingan pelaksanaan pendidikan di sekolah. Belanja sekolah sangat ditentukan oleh komponen-komponen yang jumlah dan proporsinya bervariasi diantara sekolah yang satu dan daerah yang lainnya. Serta dari waktu ke waktu. Berdasarkan pendekatan unsure biaya pengeluaran sekolah dapat dikategorikan ke dalam beberapa item pengeluaran, yaitu :

  1. Pengeluaranuntuk pelaksanaan pembelajaran
  2. Pengeluaran untuk tata usaha sekolah
  3. Pemeliharaan sarana dan prasarana
  4. Kesejahteraan pegawai
  5. Administrasi
  6. Pembiayaan teknis educative
  7. Pendataan

Secara rinci dalam makalah ini akan dijelaskan konsep biaya pendidikan, antara lain :

  1. Secara konseptual efesiensi pendidikan meliputi efesiensi atau disebut juga keefektifan biaya (cost effectiveness), dan efesiensi eksternal atau disebut manfaat biaya (cost benefit).
  2. Cost benefit dikaitkan dengan analisis keuntungan atas investasi pendidikan dari pembentukan kemampuan, sikap dan keterampilan.
  3. Dalam perhitungan investasi terdapat dua hal penting yaitu :
    1. Investasi hendaknya menghasilkan kemampuan yang memiliki nilai ekonomi di luar nilai instrinsiknya,
    2. Nilai guna dari kemampuan
    3. Anaisis biaya manfaat (cost benefit analysis) merupakan analisis investasi pendidikan.
    4. Metode analisis biaya manfaat dapat membantu para pengambil keputusan dalam menentukan pilihan diantara alternative alokasi sumber-sumber pendidikan yang terbatas tetapi memberikan keuntungan yang tinggi.
    5. Investasi dibidang pendidikan perlu untukl merespon kebutuhan ekonomi tenaga kerja menurut jenjang dan jenis pendidikan.
    6. Analisis tingkat balik (Rates of Return Analysis) ekonomi dari investasi ini diperoleh dengan membandingkan produktivitas dari tenaga kerja terdidik yang biasanya digambarkan oleh profil upah dengan produktivitas tenaga kerja yang tidak terdidik.
    7. Nilai investasi pendidikan dapat berbeda tergantung acuannya, apakah acuannya dari sudut pandang masyarakat atau individu.
    8. Tidak semua biaya pendidikan ditanggung oleh individu, tetapi sebagian ditanggung oleh masyarakat melalui subsidi pemerintah.

10. Perluasaan dan pembatasan pendidikan harus diciptakan bersama, dengan ini dilakukan upaya peningkatan investasi dan relevansi pendidikan secara lebih merata dan meluas dalam berbagai jenis, jenjang dan jalur pendidikan.

11. Investasi pendidikan di Negara-negara berkembang, dimana kondisi ekonomi sudah relative majun dengan berbasis perindustrian, maka strategi investasi pendidikan diarahkan untuk memenuhi lapangan dunia kerja.

12. Pengembangan investasi pendidikan perlu dilakukan untuk peningkatan kualitas pendidikan.

13. Investasi kebutuhan tenaga kerja dalam jangka pendek berdasarkan estimasi kebutuhan tnaga kerja dalam perspektif jangka panjang merupakan peluang untuk melakukan investasi pendidikan.

 

  1. Komponen Biaya Pendidikan

Konsep biaya pendidikan sifatnya lebih kompleks dari keuntungan, karena komponen biaya terdiri dari lembaga jenis dan sifatnya. Biaya pendidikan bukan hanya berbentuk uang dan rupiah, tetapi juga dalam bentuk biaya kesempatan (opportunity cost). Biaya kesempatan ini sering disebut “Income Forgone” yaitu potensi pendapatan bagi seorang siswa selama ia mengikuti pelajaran atau mengikuti study. Sebagai contoh, seorang lulusan SMP yang tidak diterima untuk melanjutkan pendidikan SMA, jika ia bekerja tentu memperoleh penghasilan dan jika melanjutkan besarnya pendapatan (upah/gaji) selama tiga tahun belajar di SMA harus diperhitungkan. Oleh karena itu, biaya pendidikan akan terdiri dari biaya langsung dan biaya tidak langsung atau biaya kesempatan.

Biaya pendidikan merupakan dasar emperis untuk memberikan  gambaran karakteristik keuangan sekolah. Analisis efesiensi keuangan sekolah dalam pemanfaatan sumber-sumber keuangan sekolah dan hasil (output) sekolah dapat dilakukan dengan cara menganalisa biaya satuan (unit cost) persiswa. Biaya satuan persiswa adalah biaya rata-rata persiswa yang dihitung dari total pengeluaran sekolah dibagi seluruh siswa yang ada di sekolah dalam kurun waktu tertentu. Dengan mengetahui besarnya biaya satuan persiswa menurut jenjang dan jenis pendidikan berguna untuk menilai berbagai alternative kebiajakan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.

Di dalam menentukan biaya satuan terdapat dua pendekatan, yaitu pendekatan makro dan mikro. Pendekatan makro mendasarkan perhitungan pada keseluruhan jumlah pengeluaran pendidikan yang terima dari berbagai sumber dana kemudian dibagi jumlah siswa. Pendekatan mikro mendasarkan perhitungan biaya berdasarkan alokasi pengeluaran perkomponen pendidikan yang digunakan oleh siswa.

Menurut Abdullah N.S, komponen biaya pendidikan meliputi :

  1. Peningkatan kegiatan belajar mengajar
  2. Pemeliharaan dan penggantian sarana dan prasaran
  3. Peningkatan pembinaan kegiatan siswa
  4. Kesejahteraan
  5. Rumah tangga sekolah
  6. Biaya pembinaan, oemantauan, pengawaasan, dan pelaporan
  7. Pembinaan tenaga kependidikan
  8. Pengadaan alat-alat belajar
  9. Penagadaan bahan pelajaran

10. Perawatan

11. Sarana kelas

12. Sarana sekolah

13. Pembinaan siswa

14. Pengelolaan sekolah

15. Prosedur anggaran

16. Prosedur akuntasi keuangan

17. Pembelajaran, pergudangan dan pendistribusian

18. Prosedur investasi

19. Prosedur pemeriksaan

20. Laju perkembangan pendidikan yang lamban

21. Tuntutan masyarakat adanya perbaikan dalam system pendidikan nasional

22. Kebiajakan pemerintahan untuk menampung semua anak umur 7 – 12 tahun  di tingkat pendidikan dasar dan mensukseskan wajib belajar 9 tahun.

23. Peningkatan mutu pada semua jenis dan jenjang pendidikan

24. Keterkaitan dan kepadanan antara pendidikan dengan kebutuhan pembangunan

25. Peningkatan kemampuan dalam menguasai iptek.

BAB IV

PEMBAHASAN

  1. Pembiayaan Dalam Pengembangan Pendidikan.

Pendidikan merupakan salah satu faktor penting untuk miningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Dalam UUD 1945 pasal 31 “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran.” Hal ini membuktikan adanya langkah pemerataan pendidikan bagi seluruh warga negara Indonesia. Kenyataannya, tidak semua orang dapat memperoleh pendidikan yang selayaknya, dikarenakan berbagai faktor termasuk mahalnya biaya pendidikan yang harus dikeluarkan. Kondisi inilah kemudian mendorong dimasukannya klausal tentang pendidikan dalam amandemen UUD 1945. Konstitusi mengamanatkan kewajiban pemerintah untuk mengalokasikan biaya pendidikan 20% dari APBN maupun APBD agar masyarakat dapat memperoleh pelayanan pendidikan. Ketentuan ini memberikan jaminan bahwa ada alokasi dana yang secara pasti digunakan untuk penyelenggaraan pendidikan. Namun, dalam pelaksanaanya pemerintah belum punya kapasitas finansial yang memadai, sehingga alokasi dana tersebut dicicil dengan komitmen peningkatan alokasi tiap tahunnya.

Peningkatan kualitas pendidikan diharapkan dapat menghasilkan mamfaat berupa peningkatan kualitas SDM. Disisi lain, prioritas alokasi pembiayaan pendidikan seyogianya diorientasikan untuk mengatasi permasalahan dalam hal aksebilitas dan daya tampung. Karena itu, dalam mengukur efektifitas pembiayaan pendidikan, terdapat sejumlah prasyarat yang perlu dipenuhi agar alokasi anggaran yang tersedia dapat terarah penggunaannya.

 

Menurut Adam Smith, Human Capital yang berupa kemampuan dan kecakapan yang diperoleh melalui Pendidikan, belajar sendiri, belajar sambil bekerja memerlukan biaya yang dikeluarkan oleh yang bersangkutan. Perolehan ketrampilan dan kemampuan akan menghasilkan tingkat balik Rate of Return yang sangat tinggi terhadap penghasilan seseorang. Berdasarkan pendekatan Human Kapital ada hubungan Lenier antara Investment Pendidikan dengan Higher Productivity dan Higher Earning. Manusia sebagai modal dasar yang di Infestasikan akan menghasilkan manusia terdidik yang produktif dan meningkatnya penghasilan sebagai akibat dari kualitas kerja yang ditampilkan oleh manusia terdidik tersebut,dengan demikian manusia yang memperoleh penghasilan lebih besar dia akan membayar pajak dalam jumlah yang besar dengan demikian dengan sendirinya dapat meningkatkan pendapatan Negara.

Peningkatan ketrampilan yang dapat mengahasilkan tenaga kerja yang Produktivitasnya tinggi dapat dilakukan melalui Pendidikan yang dalam pembiayaannya menggunakan efesiensi Internal dan Eksternal. Dalam upaya mengembangkan suatu sistem pendidikan nasional yang berporos pada pada pemerataan, relevansi, mutu, efisiensi, dan efektivitas dikaitkan dengan tujuan dan cita-cita pendidikan kita, namun dalam kenyataannya perlu direnungkan, dikaji, dibahas, baik dari segi pemikira tioritis maupun pengamatan emperik.
Untuk dapat tercapai tujuan pendidikan yang optimal, maka salah satunya hal paling penting adalah mengelola biaya dengan baik sesuai dengan kebutuhan dana yang diperlukan. Administrasi pembiayaan minimal mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan. Penyaluran anggaran perlu dilakukan secara strategis dan intergratif antara stakeholder agar mewujutkan kondisi ini, perlu dibangun rasa saling percaya, baik internal pemerintah maupun antara pemerintah dengan masyarakat dan masyarakat dengan masyarakat itu sendiri dapat ditumbuhkan. Keterbukaan, partisipasi, akuntabilitas dalam penyelenggaraan pendidikan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan menjadi kata- kata kunci untuk mewujutkan efektivitas pembiayaan pendidikan.

 

  1. Faktor Mempengaruhi Biaya Pendidikan dan Macam Jenisnya
  2. Faktor yang Mempengaruhi Biaya Pendidikan.

Lembaga pendidikan sebagai produsen jasa pendidikan, seperti halnya pada bidang usaha lainnya menghadapi masalah yang sama, yaitu biaya produksi, tetapi ada beberapa kesulitan khusus mengenai penerapan perhitungan biaya produksi. J Hallack (2004:63) mengemukakan tiga macam kesulitan, yaitu berkenaan dengan (1) definisi biaya produksi, (2) identifikasi transaksi ekonomi yang berhubungan dengan pendidikan, dan (3) suatu kenyataan bahwa pendidikan mempunyai sifat sebagai pelayan umum.

Produksi pendidikan diartikan sebagai unit pelayanan khusus (units of specific services). Unit output harus meliputi dimensi waktu, seperti tahun belajar atau jam belajar agar biaya-biaya dalam mempersiapkan output dibandingkan input. Input meliputi barang-barang yang dibeli dan orang-orang yang disewakan untuk menyediakan jasa itu. Diantara masukan (input) yang penting dalam sistem bidang pendidikan ruang, peralatan, buku, material, dan waktu para guru dan karyawan lain. Output menjadi hasil tambahan yang diakibatkan oleh suatu kenaikan biaya pendidikan yang diterima disekolah, selagi masukan (input) menjadi bagian biaya kenaikan itu. Suatu unsur biaya tambahan, yang tidak hadir di fungsi produksi yang terdahulu, menjadi biaya kesempatan dari siswa.
Analisis mengenai biaya produksi pendidikan pada dasarnya menggunakan model teori ”input-proses-output” dimana sekolah dipandang sebagai suatu system industri jasa.

Prof Mark Blaug, (idochi, 2004:182) ”……Kita menghadapi suatu kelemahan yang merembes pada fungsi produksi pendidikan, bahwa hubungan antara inputs sekolah disatu pihak, dan output sekolah dipihak lain yang secara konvensional diukur melalui skors-skors achievement.” Faktor-faktor yang mempengaruhi biaya dan pembiayaan pendidikan sekolah hal ini dipengaruhi oleh :

  1. Kenaikan harga (rising prices)
  2. Perubahan relatif dalam gaji guru (teacher’s sallaries)
  3. Perubahan dalam populasi dan kenaikannya presentase anak di sekolah negeri.
  4. Meningkatnya standard pendidikan (educational standards)
  5. Meningkatnya usia anak yang meninggalkan sekolah
  6. Meningkatnya tuntutan terhadap pendidikan lebih tinggi (higher education)

 

  1. Macam-Macam Jenis Biaya

Beberapa jenis dan golongan biaya pendidikan yang dapat penulis paparkan berikut ini dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman lebih lanjut mengenai konsep pembiayaan pendidikan

  1. Biaya Langsung dan Tidak langsung (Direct and Indirect Cost)

Biaya langsung (direct cost) diartikan sebagai pengeluaran uang yang secara langsung membiayai penyelenggaraan pendidikan, pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat Anwar (1991:30). Biaya yang secara langsung menyentuh aspek dan proses pendidikan. Contohnya biaya untuk gaji guru, dan pengadaan fasilitas belajar mengajar Gaffar (1991:57). Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk keperluan pelaksanaan pengajaran dan kegiatan belajar siswa berupa pembelian alat-alat pelajaran, sarana belajar, biaya transportasi, gaji guru baik yang dikeluarkan oleh pemerintah, orang tua, maupun siswa sendiri Fattah (2000 : 23).

Biaya tidak langsung (indirect cost) diartikan sebagai biaya yang umum nya meliputi hilangnya pendapatan peserta didik karena sedang mengikuti pendidikan (earning foregone by students), bebasnya beban pajak karena sifat sekolah yang tidak mencari laba (cost of tux exemption), bebas nya sewa perangkat sekolah yang tidak dipakai secara langsung dalam proses pendidikan serta penyusutan sebagai cermin pemakaian perangkat sekolah yang sudah lama dipergunakan (implicit rent and depreciation) Fattah (2000:24).

  1. b.  Biaya Rutin dan Biaya Pembangunan (Recurrent and Capital Cost)

Biaya rutin dan pembangunan merupakan bagian dari biaya langsung (direct cost). Biaya rutin (recurrent cost) adalah biaya yang digunakan untuk membiayai kegiatan operasional pendidikan selama satu tahun anggaran.Biaya ini digunakan untuk menunjang pelaksanan program pengajaran, pembayaran gaji guru dan personil sekolah, administrasi kantor, pemeliharaan dan perawatan sarana dan prasarana.
Menurut Gaffar (1987:162) biaya rutin dihitung berdasarkan “per student enrolled”. Menurutnya biaya rutin dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu: rata-rata gaji guru per tahun, ratio guru, murid dan proporsi gaji guru terhadap keseluruhan biaya rutin.
Biaya pembangunan (capital cost) adalah biaya yang digunakan untuk pembelian tanah, pembangunan ruang kelas, perpustakaan, lapangan olah raga, konstruksi bangunan, pengadaan perlengkapan mobelair, biaya penggantian dan perbaikan. Menurut Gaffar (1987:165) biaya pembangunan dihitung atas dasar “per student place”. Menurutnya dalam menghitung biaya pembangunan ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan, yaitu: tempat yang menyenangkan untuk murid belajar, biaya lokasi atau tapak (site), dan biaya perabot dan peralatan.

  1. Biaya Pribadi dan Biaya Masyarakat (Private and Social Cost)

Biaya pribadi (private cost) adalah biaya yang dikeluarkan keluarga untuk membiayai sekolah anak nya dan termasuk di dalamnya forgone opportunities. Dalam kaitan ini Jones (1985:5) mengatakan “In the context of education these include tuitions, fees and other expenses paid for by individuals”. Dengan kata lain biaya pribadi adalah biaya sekolah yang dibayar oleh keluarga atau individu.
Biaya masyarakat (social cost) adalah biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat untuk membiayai sekolah (di dalamnya termasuk biaya pribadi). Dalam kaitan ini Jones (1985:5) mengatakan “Sometimes called public cost, the include cost of educations financed through taxation. Most public school expenses are examples of sosial costs”. Dengan kata lain biaya masyarakat adalah biaya sekolah yang dibayar oleh masyarakat.

  1. Monetary Cost dan Non Monetery Cost

Monetery cost adalah semua bentuk pengeluaran dalam bentuk uang baik langsung maupun tidak langsung yang dikeluarkan untuk kegiatan pendidikan. Sedangkan Non monetery cost adalah semua bentuk pengeluaran yang tidak dalam bentuk uang, meskipun dapat dinilai ke dalam bentuk uang, baik langsung maupun tidak langsung yang dikeluarkan untuk kegiatan pendidikan, misalnya materi, waktu, tenaga, dan lain-lain.

Berdasarkan uraian mengenai klasifikasi biaya pendidikan, maka jelaslah bahwa biaya pendidikan memiliki pengertian yang luas. Hal ini sebagaimana dipertegas oleh Anwar (1991:31) bahwa “Hampir segala pengeluaran yang bersangkutan dengan penyelenggaraan pendidikan dianggap sebagai biaya”. Maka diperlukan kebijaksanaan dalam melakukan klasifikasi biaya pendidikan untuk mencapai tujuan yang dituju semua pihak yaitu kesuksesan pelaksanaan pendidikan.

 

 

 
 

KONSEP DAN JENIS-JENIS PENDIDIKAN

Oleh : I Wayan Adnyana, S.Pd

  1. 1. Apa itu Pendidikan?

Pendidikan adalah suatu proses untuk membawa perubahan dalam prilaku manusia. Pendidikan itu juga dapat digambarkan sebagai suatu proses memberikan atau menyampaikan atau memperoleh pengetahuan dan kebiasaan melaui istruksi atau belajar. Ketika pelajaran sedang melakah maju pada tujuan yang telah ditentukan sesuai dengan filosofi yang telah digambarkan untuk dipahami oleh siswa itulah yang disebut “Pendidikan”.

Jika pendidikan ingin berjalan dengan efektif perlu diadakan perubahan pada semua komponen prilaku.

Prilaku

Prilaku pada sesorang, di dalam pengertian secara luas mengacu pada apapun yang dilakukan oleh seseorang. Ini adalah beroriantasi pada tujuan, meliputi tujuan seseorang memilih dan rata-rata sesorang memilih untuk mencapai tujuan yang berorientasi pada tujuan.

Parsons dan Shils (1965) mengemukakan suatu teori tindakan yang bisa bertindak sebagai suatu model konseptual untuk analisa prilaku manusia. Mereka berkata :

(1)   Perilaku berorientasi kepada pencapaian akhir atau tujuan atau kondisi antisipasi lain.

(2)   Berlangsung pada suatu situasi.

(3)   Berdasarkan peraturan norma yang berlaku

(4)   Melibatkan pengeluaran energy atau usaha atau motivasi.

Menurut Leagans (1961), prilaku mengacu pada pengetahuan seseorang, apa yang dia kerjakan, apa yang dia pikirkan (sikap), dan apa yang dia lakukan.

Oleh karena itu, prilaku adalah suatu fungsi orang dalam  interaksi dengan situasi tertentu. Faktor-faktor yang memepengaruhi  motivasi prilaku orang atau situasi, adalah :

(1)   Situasi lingkungan tertentu.

(2)   Himbauan dari dalam, harapan, perasaan, emosi, pengarah, naluri/bakat, kebutuhan, kekurangan,keinginan, permintaan, tujuan, minat, aspirasi atau alasan memberikan penghargaan kepada tindakan.

(3)   Perangsang dari sebuah organisasi.

Dalam suatu percobaan tentang prilaku manusia, ada tiga permasalah pokok muncul, antara lain :

(1)   Tentukan factor yang penting mempengaruhi prilaku itu di bawah penyelidikan.

(2)    Tentukan bagaimana factor tersebut menentukan prilaku, dan

(3)   Putuskan jalan di mana factor tersebut bereaksi.

  1. Kebutuhan Pendidikan

Sebagai masyarakat berkembang, kumpulan pengalaman dan pengetahuan yang penting menjadi sangat mendesak bagi politis, ekonomi, social dan perkembangan lain harus dilalui pada generasi baru, atau kepada orang-orang yang memerlukan pengetahuan ini. Kebiasaan yang diterima, norma-norma, nilai-nilai, ketrampilan, yang diperlukan untuk dipelihara perlu untuk diberikan generasi berikutnya.

Pendidikan sebagai  pengalaman belajar  mempunyai beberapa segi. Sebelum segi ini diuji, dalil basis dasar dari pendidikan adalah suatu pengalaman pelajaran memerlukan beberapa pengujian. Pendidikan meliputi instruksi, teknik, mengumpulkan informasi, mengumpulkan pengetahuan  dan transmitans, belajar dan pengalaman, diskusi, demonstrasi dan perumusan program.

Pendidikan mempunyai beberapa sasaran hasil. Tempat yang paling idealistis dan yang paling tinggi, memerlukan pelajaran menjadi suatu utuh dan orang laki-laki lengkap, yang meliputi  secara phisik, secara mental, spritual.

Pelajaran juga mempunyai suatu yang lebih spesifik, dan relevan sasaran, yakni,  lakukan, dengan melakukan, dan untuk melakukan. Pelajaran mengacu pada dua aktivitas yang saling berhubungan, belajar dan lakukan.

  1. Jenis Pendidikan

Dengan perkembangan pada masyarakat, pendidikan telah mengambil banyak bentuk, seperti:

  1. Pendidikan anak-anak
  2. Pendidikan orang dewasa
  3. Pendidikan teknik
  4. Pendidikan kemanusiaan dan ilmu social
  5. Pendidikan seni dan keterampilan
  6. Pendidikan rohani
  7. Pendidikan jasmani dan beberapa yang lainnya.

Pendidikan dan Komunikasi untuk Pengembangan.

Pendidikan Formal

Pendidikan Formal pada dasarnya merupakan suatu kegiatan kelembagaan, seragam dan subjek berorientasi, penuh-waktu, konsekuen, terstruktur secara hirarki, mendapat sertifikat, derajat dan diploma.

Non- Formal

Pendidikan Non-formal atau tidak formal, yang berarti:

-        Fleksibel

-        Kehidupan, berorientasi pada lingkungan dan pelajar.

-        Diversifikasi dalam isi dan metode.

-        Tidak otoriter

-        Membangun partisipasi pelajar.

-        Memobilisasi sumber daya lokal.

-        Memperkaya potensi maunsia dan lingkungan.

Pendidikan Perluasan

Ini istilah baru Pendidikan Perluasan menggabungkan kedua pendidikan orang dewasa dan pendidikan informal. Hal ini berkaitan dengan mendidik orang dewasa, yaitu, petani atau ibu rumah tangga, tidak dalam huruf dan huruf, tata bahasa atau bahasa, tetapi dalam teknik raisiflg tanaman yang lebih baik, lebih baik hewan, pohon-pohon buah yang lebih baik, mengelola rumah dengan cara yang lebih efisien, pemeliharaan ilmiah anak-anak, mengurus gizi keluarga, dll.

Bidang yang menjadi perhatian kami dapat didefinisikan sebagai berikut:

(a)    Perluasan pertanian – perluasan pengetahuan petani.

(b)   Kedokteran Hewan dan Perluasan Peternakan – memperluas pengetahuan tentang peternakan, mengelola, makan dan perawatan hewan, dan burung, dll;

(c)    Rekayasa Pertanian Penyuluhan-memperluas pengetahuan tentang mesin pertanian seperti traktor dan pompa, yang meratakan tanah, penggunaan air, konservasi tanah, dll;

(d)   Perluasan rumah sains – memperluas pengetahuan teknis untuk istri pertanian, atau wanita-wanita di perkotaan dan pedesaan pada makanan, penitipan anak, dekorasi rumah, berkebun dapur;

(e)    Perluasan Industri – memperluas pengetahuan tentang mengelola dan menjalankan industri.

Demikian pula dapat sanitasi dan penyuluhan kesehatan, atau daerah yang bertujuan untuk memperluas pengetahuan teknis dan ilmiah untuk sistem klien atau penonton atau orang-orang yang harus dididik di sepanjang baris inovasi yang dikembangkan dalam disiplin teknologi masing-masing.

Pemikiran Induktif dan Deduktif dalam Ilmu Matematika

Oleh : I Wayan Adnyana, S.Pd

  1. Latar belakang

Akal dan pikiran merupakan perlengkapan yang paling sempurna yang dianungrahkan Tuhan kepada manusia. Dengan akal dan pikiran, manusia dapat mengubah dan mengembangkan taraf kehidupannya dari tradisional, berkembang dan hingga modern. Sifat tidak puas yang secara alamiah ada dalam diri manusia mendorong manusia untuk selalu ingin mengubah keadaan. Ketidakpuasan tersebut menimbulkan perubahan-perubahan sehingga tercipta peradaban dunia yang maju.

Kemajuan yang dihasilkan oleh akal dan pikiran munusia membawa dampak positif dan negatif. Untuk meminimalisasi atau mengatasi masalah-masalah yang timbul dari dampak negatif, manusia tetap memerlukan akal untuk berpikir secara benar.

Berpikir secara logis ialah berpikir tepat dan benar yang memerlukan kerja otak dan akal sesuai dengan ilmu-ilmu logika. Setiap apa yang akan diperbuat hendaknya disesuaikan dengan keadaan yang ada pada dirinya masing-masing. Jika hal tersebut sesuai dengan kenyataan dan apabila dikerjakan mendapat keuntungan, maka segera laksanakan. Berpikir secara logis juga berarti bahwa selain memikirkan diri kita sendiri juga harus memperhatikan lingkungan, serta berpikir tentang akibat yang tidak terbawa emosi.

Dewasa ini, kemampuan berpikir logis dan kreatif sangat diperlukan khususnya dalam upaya mengembangkan ilmu pengetahuan yang humanis. Berbagai macam pengetahuan berhasil dikembangkan manusia dengan beragam metode berpikir. Hal paling sederhana yang dapat kita amati adalah sekelompok anak sekolah dasar yang sedang melakukan riset IPA. tanpa disadari, mereka menggunakan proses-proses berpikir tertentu yang berbeda dengan riset-riset pada jenis ilmu pengetahuan lainnya.

Beberapa ahli menyebut cara berpikir dengan istilah top-down dan bottom-up. Kedua cara berpikir tersebut diimplementasikan dalam pengembangan ilmu yang berbeda. Lantas bagaimana dengan ilmu matematika. Apakah para ahli matematika memulai analisa matematika dari pengambilan teori tertentu untuk kemudian dipersempit dengan penentuan hipotesa yang pada akhirnya menuju pada proses pengujian kebenaran hipotesa tersebut? Ataukah sebaliknya, yaitu mengadakan pengamatan penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari di lapangan untuk kemudian digeneralisasi kesimpulan dan teorinya. Pertanyaan-pertanyaan tersebutlah yang menjadi fokus penulisan tugas ini, mengingat pentingnya cara berpikir dalam proses pertumbuhan dan perkembangan suatu disiplin ilmu. Diasumsikan bahwa seorang ilmuwan yang tidak memperhatikan cara berpikir dengan tepat dan benar, maka hal tersebut akan mempengaruhi kematangan hasil  pemikiran yang ia hasilkan yang tentu saja berimbas pada kemapanan disiplin ilmu yang sedang dikaji. Dengan kata lain, cara berpikir yang tepat mengarah pada hasil pemikiran yang tepat pula, meskipun hal ini tidak bisa dijadikan tolok ukur karena ada faktor-faktor lain yang juga membawa pengaruh terhadap tingkat kebenaran suatu hal. Karena disiplin ilmu yang sedang ditekuni penulis adalah matematika, maka matematika dan keilmuwan matematikalah yang dijadikan fokus pengamatan dalam ulasan pendek ini.

Sekali lagi ditekankan bahwa berpikir adalah berbicara dengan diri sendiri mempertimbangkan, menganalisa dan membuktikan, bertanya mengapa dan untuk apa sesuatu terjadi. Orang yang berbahagia dan tenteram hidupnya ialah orang yang memikirkan setiap langkahnya secara akal sehat dan tepat.

  1. Proses Perpikir

Berpikir merupakan suatu aktivitas pribadi yang mengakibatkan penemuan yang terarah kepada suatu tujuan. Manusia berpikir untuk menemukan pemahaman atau pengertian, pembentukan pendapat, dan kesimpulan atau keputusan dari sesuatu yang dikehendaki. Menurut  J.S Suriasumantri (1997: 1) manusia tergolong ke dalam homo sapiens, yaitu makhluk yang berpikir. Hampir tidak ada masalah yang menyangkut dengan aspek kehidupannya yang terlepas dari jangkuan pikiran.

Berpikir merupakan ciri utama bagi manusia untuk membedakan dengan makhluk lain. Maka dengan dasar berpikir, manusia dapat mengubah keadaan alam sejauh akal dapat memikirkannya. Berpikir merupakan proses bekerjanya akal, manusia dapat berpikir karena manusia berakal. Ciri utama dari berpikir adalah adanya abstraksi. Dalam arti yang luas, berpikir adalah bergaul dengan abstraksi-abstraksi, sedangkan dalam arti sempit berpikir adalah mencari hubungan atau pertalian antara abstraksi-abstraksi ( Puswanti, 1992 : 44). Secara garis besar berpikir dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : berpikir alamiah dan berpikir ilmiah. Dalam proses berpikir alamiah, pola penalaran didasarkan pada kebiasaan sehari-hari dari pengaruh alam sekelilingnya. Di sisi lain, dalam proses berpikir ilmiah, pola penalaran didasarkan pada sasaran tertentu secara teratur dan sistematis.

Berpikir merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dengan mengikuti jalan pemikiran tertentu agar sampai pada sebuah kesimpulan yaitu berupa pengetahuan (Suriasumantri 1997: 1). Oleh karena itu, proses berpikir memerlukan sarana tertentu yang disebut dengan sarana berpikir ilmiah. Sarana berpikir ilmiah merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Pada langkah tertentu biasanya juga diperlukan sarana tertentu pula. Tanpa penguasaan sarana berpikir ilmiah kita tidak akan dapat melaksanakan kegiatan berpikir ilmiah yang baik. Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik diperlukan sarana berpikir ilmiah berupa : bahasa ilmiah, logika dan matematika, logika dan statistika ( Tim Dosen Filsafat Ilmu. 1996: 68). Bahasa ilmiah merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah. Bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran seluruh proses berpikir ilmiah kepada orang lain. Logika dan matematika mempunyai peran penting dalam berpikir deduktif sehingga mudah diikuti dan dilacak kembali kebenarannya. Sedangkan logika dan statistika mempunyai peran penting dalam berpikir induktif untuk mencari konsep-konsep yang berlaku umum.

Sarana berpikir ilmiah digunakan sebagai alat bagi cabang-cabang pengetahuan untuk mengembangkan materi pengetahuannya berdasarkan metode-metode ilmiah. Dalam mendapatkan pengetahuan ilmiah pada dasarnya ilmu menggunakan penalaran induktif dan deduktif. Fungsi sarana berpikir ilmiah adalah untuk membantu proses metode ilmiah, baik secara deduktif maupun secara induktif.

Kemampuan berpikir ilmiah yang baik sangat didukung oleh penguasaan sarana berpikir dengan baik pula, maka dalam proses berpikir ilmiah diharuskan untuk mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana berpikir tersebut dalam keseluruhan proses berpikir ilmiah. Berpikir ilmiah menyadarkan diri kepada proses metode ilmiah baik logika berpikir deduktif maupun logika berpikir induktif. Ilmu dilihat dari segi pola pikirnya merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan induktif.

  1. Logika

Istilah logika berasal dari kata “logos” (bahasa Yunani) yang berarti kata atau pikiran yang benar. Jika ditinjau dari segi istilah saja, maka ilmu logika itu berarti ilmu berkata benar atau ilmu berpikir benar ( Bakry, 1981 : 18). Dalam Kamus Filsafat, logika yang dalam bahasa Inggris “logic”. Latin “logica”, Yunani “logike” atau “logikos” berarti apa yang dapat dimengerti atau akal budi yang berfungsi baik, teratur, dan sistematis (Bagus, 1996: 519). Dalam pengertian lain, logika merupakan ilmu berpikir tepat yang dapat menunjukkan adanya kekeliruan-kekeliruan di dalam rantai proses berpikir. Dengan batasan itu, logika pada hakikatnya adalah teknik berpikir. Logika mempunyai tujuan untuk memperjelas isi suatu istilah. Dalam arti luas logika adalah sebuah metode dan prinsip-prinsip yang dapat memisahkan secara tegas antara penalaran yang benar dengan penalaran yang salah (Kusumah, 1986 : 2 ). Logika sebagai cabang filsafat membicarakan aturan-aturan berpikir agar dapat mengambil kesimpulan yang benar. Menurut Louis O. Kattsoff (1986:71), logika membicarakan teknik-teknik untuk memperoleh kesimpulan dari suatu perangkat bahan tertentu, oleh karena itu logika juga dapat didefinisikan sebagi ilmu pengetahuan tentang penarikan kesimpulan.

Fungsi logika diantaranya adalah untuk membedakan satu ilmu dengan yang lainnya jika objeknya sama dan menjadi dasar ilmu pada umumnya dan falsafah pada khususnya (Kasmadi, dkk. 1990 : 45). Sejak keberadaan manusia di muka bumi hingga sekarang, akal pikiran selalu digunakan dalam melakukan setiap aktivitas, baik aktivitas berpikir alamiah maupun berpikir kompleks. Dalam melakukan kegiatan berpikir seyogyanya digunakan kaidah-kaidah tertentu yaitu berpikir yang tepat, akurat, rasional, okjektif dan kritis sehingga proses berpikir tersebut membuahkan pengetahuan yang bermanfaat bagi kemaslahatan hidup manusia itu sendiri.

Agar pengetahuan yang dihasilkan dari proses berpikir mempunyai dasar kebenaran, maka proses berpikir dilakukan dengan cara tertentu. Cara berpikir logis dibagi menjadi dua bagaian, yaitu :

  1. Logika induktif

Logika induktif dimana cara berpikir dilakukan dengan cara menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Untuk itu, penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum. Penarikan kesimpulan secara induktif menghadapkan kita kepada sebuah permasalahan mengenai benyaknya kasus yang harus kita amati sampai kepada suatu kesimpulan yang bersifat umum. Misalnya, jika kita ingin mengetahui berapa    penghasilan rata-rata perbulan petani kelapa sawit di Kabupaten Paser, lantas bagaimana caranya kita mengumpulkan data sampai pada kesimpulan tersebut. Hal yang paling logis adalah melakukan wawancara terhadap seluruh petani kelapa sawit yang ada di Kabupaten Paser. Pengumpulan data seperti ini tak dapat diragukan lagi akan memberikan kesimpulan mengenai  penghasilan rata-rata perbulan petani kelapa sawit tersebut  di Kabupaten Paser, tetapi kegiatan ini tentu saja akan menghadapkan kita kepada kendala tenaga, biaya, dan waktu.

Untuk berpikir induktif dalam bidang ilmiah yang bertitik tolak dari sejumlah hal khusus untuk sampai pada suatu rumusan umum sebagai hukum ilmiah, menurut Herbert L. Searles (Tim Dosen Filsafat Ilmu, 1996 : 91-92), diperlukan proses penalaran sebagai berikut :

  1. Langkah pertama adalah mengumpulkan fakta-fakta khusus.

Pada langkah ini, metode yang digunakan adalah observasi dan eksperimen. Observasi harus dikerjakan seteliti mungkin, sedangkan eksperimen dilakukan untuk membuat atau mengganti obyek yang harus dipelajari.

  1. Langkah kedua adalah perumusan hipotesis.

Hipotesis merupakan dalil atau jawaban sementara yang diajukan berdasarkan pengetahuan yang terkumpul sebagai petunjuk bagi penelitian lebih lanjut. Hipotesis ilmiah harus memenuhi syarat, diantaranya dapat diuji kebenarannya, terbuka dan sistematis sesuai dengan dalil-dalil yang dianggap benar serta dapat menjelaskan fakta yang dijadikan fokus kajian.

  1. Langkah ketiga adalah mengadakan verifikasi.

Hipotesis merupakan perumusan dalil atau jawaban sementara yang harus dibuktikan atau diterapkan terhadap fakta-fakta atau juga diperbandingkan dengan fakta-fakta lain untuk diambil kesimpulan umum. Proses verifikasi adalah satu langkah atau cara untuk membuktikan bahwa hipotesis tersebut merupakan dalil yang sebenarnya. Verifikasi juga mencakup generalisasi untuk menemukan dalil umum, sehingga hipotesis tersebut dapat dijadikan satu teori.

  1. Langkah keempat adalah perumusan teori dan hukum ilmiah berdasarkan hasil verifikasi.

Hasil akhir yang diharapkan dalam induksi ilmiah adalah terbentuknya hukum ilmiah. Persoalan yang dihadapi adalah oleh induksi ialah untuk sampai pada suatu dasar yang logis bagi generalisasi dengan tidak mungkin semua hal diamati, atau dengan kata lain untuk menentukan pembenaran yang logis bagi penyimpulan berdasarkan beberapa hal untuk diterapkan bagi semua hal. Maka, untuk diterapkan bagi semua hal harus merupakan suatu hukum ilmiah yang derajatnya dengan hipotesis adalah lebih tinggi.

  1. Logika deduktif

Logika dedutif yaitu suatu cara berpikir di mana pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir silogismus yang secara sederhana digambarkan sebagai penyusunan dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Pernyataan yang mendukung silogismus disebut premis yang kemudian dapat dibedakan sebagai premis mayor dan premis minor. Kesimpulan merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut (Suriasumantri, 1988: 48-49).

Dengan kata lain, penalaran deduktif adalah kegiatan berpikir yang merupakan kebalikan dari penalaran induktif. Contoh penarikan kesimpulan berdasarkan penalaran deduktif adalah :

            Semua makhluk hidup perlu makan untuk mempertahankan hidup (Premis mayor)

            Joko adalah seorang makhluk hidup (Premis minor)

            Jadi, Joko perlu makan untuk mempertahankan hidupnya (kesimpulan).

Kesimpulan yang diambil bahwa Joko juga perlu makan untuk mempertahankan hidupnya adalah sah  menurut penalaran deduktif, sebab kesimpulan ini ditarik secara logis dari dua premis yang mendukungnya. Pertanyaan apakah kesimpulan ini benar harus dikembalikan kepada kebenaran premis-premis yang mendahuluinya. Apabila kedua premis yang mendukungnya benar maka dapat dipastikan bahwa kesimpulan yang ditariknya juga adalah benar. Mungkin saja kesimpulannya itu salah, meskipun kedua premisnya benar, sekiranya cara penarikan kesimpulannya tidak sah. Ketepatan kesimpulan bergantung pada tiga hal yaitu kebenaran premis mayor, kebenaran premis minor, dan keabsahan penarikan kesimpulan

  1. Matematika, Ilmu Matematika, dan Logika Berpikir

1.  Pengertian Matematika

Matematika dibandingkan dengan disiplin-disiplin ilmu yang lain mempunyai karateristik tersendiri. Banyak para ahli menyebutkan bahwa matematika itu berhubungan dengan ide-ide atau konsep-konsep yang abstrak yang penalarannya bersifat deduktif, namun orang-orang sering menyebut matematika itu ilmu hitung.

Matematika berasal dari bahasa latin manthanein atau mathema yang berarti belajar atau hal yang dipelajari, sedang dalam bahasa Belanda disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran. Matematika memiliki bahasa dan aturan yang terdefinisi dengan baik, penalaran yang jelas dan sistematis, dan struktur atau keterkaitan antarkonsep yang kuat. Unsur utama pekerjaan matematika adalah penalaran deduktif yang bekerja atas dasar asumsi (kebenaran konsistensi). Selain itu, matematika juga bekerja melalui penalaran induktif yang didasarkan fakta dan gejala yang muncul untuk sampai pada perkiraan tertentu. Tetapi perkiraan ini, tetap harus dibuktikan secara deduktif, dengan argumen yang konsisten.

Dari segi pengetahuan, arti matematika sangat luas dan dapat dikelompokkan dalam subsistem sesuai dengan semesta pembicaraannya. Dalam setiap subsistem itu ada objek pembicaraan, ada metode pembahasan dan selalu dipenuhi keajegan (konsisten) pembahasan. Menurut Karso (1994:16) matematika adalah ilmu deduktif tentang struktur yang terorganisir, sebab berkembang dari unsur yang tidak didefinisikan ke unsur yang didefinisikan ke aksioma dan teori.

Anton Moeliono dalam Amin Suyitno (1997:1) berpendapat bahwa matematika sebagai ilmu tentang bilangan-bilangan, hubungan antarbilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan. Sedangkan menurut Mohammad Soleh (1998:12) pada dasarnya objek pembicaran matematika adalah objek abstrak, metodeloginya adalah deduktif, yaitu berawal dari pengertian dan pernyataan lalu diturunkan dari pengertian dan pernyataan pangkal sebelumnya yang telah dijelaskan atau dijabarkan atau dibuktikan kebenarannya.

Berdasarkan penjelasan di atas ditarik suatu kesimpulan bahwa matematika sebagai ilmu deduktif berkaitan struktur yang terorganisir, berkembang dari unsur yang tidak didefinisikan ke unsur yang didefinisikan ke aksioma dan teori, di mana objek peembicaraannya abstrak, serta selalu dipenuhi keajegan (konsistensi) pada pembahasannya. Dalam pembelajarannya, matematika biasanya terdiri bilangan-bilangan, hubungan antarbilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam menyelesaikan masalah mengenai bilangan.

  1. Peranan Matematika Sebagai Sarana Berpikir Ilmiah

Perkembangan  Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) sekarang ini di satu sisi memungkinkan untuk memperoleh banyak informasi dengan cepat dan mudah dari berbagai tempat di dunia, di sisi lain tidak mungkin untuk mempelajari keseluruhan informasi dan pengetahuan yang ada, baik karena sangat banyak dan tidak semuanya diperlukan. Karena itu diperlukan kemampuan cara mendapatkan, memilih, dan mengolah informasi.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, dituntut sumber daya yang handal dan mampu berkompetisi secara global, sehingga diperlukan keterampilan tinggi yang melibatkan pemikiran kritis, sistematis, logis, kreatif, dan kemauan berkerjasama yang efektif. Cara berpikir seperti ini dapat dikembangkan melalui matematika. Hal ini sangat dimungkinkan karena matematika memiliki struktur dengan kerterkaitan yang kuat dan jelas satu dengan lainnya serta berpola pikir yang bersifat deduktif dan konsisten.

Matematika merupakan alat yang dapat memperjelas dan menyederhanakan suatu keadaan atau situasi melalui abstraksi, idealisasi, atau generalisasi untuk suatu studi ataupun pemecahan masalah.

Pentingnya matematika tidak terlepas dari perannya dalam segala jenis dimensi kehidupan. Misalnya banyak persoalan kehidupan yang memerlukan kemampuan menghitung dan mengukur. Menghitung mengarah pada aritmatika (studi tentang bilangan) dan mengukur mengarah pada geometri (studi tentang bangun, ukuran dan posisi benda). Aritmatika dan geometri merupakan fondasi atau dasar dari matematika.

Saat ini, banyak ditemukan kaidah atau aturan untuk memecahkan masalah-masalah yang berhubungan dengan pengukuran, yang biasanya ditulis dalam rumus  atau formula matematika, dan ini dipelajari dalam aljabar. Namun, perkembangan dalam navigasi, transportasi, dan perdagangan, termasuk kemajuan teknologi sekarang ini membutuhkan diagram dan peta serta melibatkan proses pengukuran yang dilakukan secara tak langsung. Akibatnya, perlu studi tentang trigonometri.

Untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi, orang dapat menyampaikan informasi dengan bahasa matematika, misalnya menyajikan persoalan atau masalah ke dalam model matematika yang dapat berupa diagram, persamaan matematika, grafik, ataupun tabel.

Mengkomunikasikan gagasan dengan bahasa matematika justru lebih praktis, sistematis, dan efesien. Begitu pentingnya matematika sehingga bahasa matematika merupakan bagian dari bahasa yang digunakan dalam masyarakat.

Hal tersebut menunjukkan  pentingnya peran dan fungsi matematika, terutama sebagai sarana untuk memecahkan masalah baik pada matematika maupun dalam bidang lainnya. Peranan matematika tersebut, terutama sebagai sarana berpikir ilmiah oleh Erman Suherman (1995:56) disebutkan dapat diperolehnya kemampuan-kemampuan sebagai berikut :

  1. Menggunakan algoritma

Yang termasuk ke dalam kemampuan ini antara lain adalah melakukan operasi hitung, operasi himpunan, dan operasi lainnya. Juga menghitung ukuran tendensi sentral dari data yang banyak dengan cara manual.

  1. Melakukan manipulasi secara matematika

Yang termasuk ke dalam kemampuan ini antara lain adalah menggunakan sifat-sifat atau rumus-rumus atau prinsip-prinsip atau teorema-teorema ke dalam pernyataan matematika.

  1. Mengorganisasikan data

Kemampuan ini antara lain meliputi : mengorganisasikan data dan informasi, misalnya membedakan atau menyebutkan apa yang diketahui dari suatu soal atau masalah dari apa yang ditanyakan.

  1. Memanfaatkan simbol, tabel, grafik, dan membuatnya.

Kemampuan ini antara lain meliputi : menggunakan simbol, tabel, grafik untuk menunjukkan suatu perubahan atau kecendrungan dan membuatnya.

  1. Mengenal dan menemukan pola.

Kemampuan ini antara lain meliputi : mengenal pola susunan bilangan dan pola bangun gometri.

  1. Menarik kesimpulan

Kemampuan ini antara lain meliputi : kemampuan menarik kesimpulan dari suatu hasil hitungan atau pembuktian suatu rumus.

  1. Membuat kalimat atau model matematika

Kemampuan ini antara lain meliputi : kemampuan secara sederhana dari fenomena dalam kehidupan sehari-hari ke dalam model matematika atau sebaliknya dengan model ini diharapkan akan mempermudah penyelesaiannya.

  1. Membuat interpretasi bangun geometeri

Kemampuan ini antara lain meliputi : kemampuan menyatakan bagian-bagian dari bangun geometri dasar maupun ruang dan memahami posisi dari bagian-bagian itu.

  1. Memahami pengukuran dan satuannya

Kemampuan ini antara lain meliputi : kemampuan memlilih satuan ukuran yang tepat, melakukan setimasi, mengubah satuan ukuran ke satuan lainnya.

  1. Menggunakan alat hitung dan alat bantu lainnya dalam matematika, seperti tabel matematika, kalkulator, dan komputer.

Sementara itu dalam tujuan umum pendidikan matematika (Depdiknas, 2002:3) menyebutkan berbagai peranan matematika sebagi sarana berpikir ilmiah ditekankan pada kemampuan untuk memiliki :

  1. Kemampuan yang berkaitan dengan matematika yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah matematika, pelajaran lain, ataupun masalah yang berkaitan dengan kehidupan nyata.
  2. Kemampuan menggunakan matematika sebagai alat komunikasi.
  3. Kemampuan menggunakan matematika sebagai cara bernalar yang dapat dialihgunakan pada setiap keadaan, seperti berpikir kritis, berpikir logis, berpikir sistematis, bersifat objektif, bersifat jujur, bersifat disiplin dalam memandang dan menyelesaikan sesuatu masalah.

Kemampuan-kemampuan di atas berguna bagi seseorang untuk  berpikir ilmiah dalam pendidikan dan berguna untuk hidup dalam masyarakat, termasuk bekal dalam dunia kerja.

  1. Kesimpulan

Berpikir ilmiah menjadi titik tolak karya ilmiah dan perkembangan kegiatan ilmiah yang di dalamnya memuat proses berpikir ilmiah. Dalam proses berpikir ilmiah, terdapat dua logika yang memiliki pola berbeda, yaitu logika berpikir deduktif dan induktif.

  1. Berpikir deduktif didasarkan pada logika deduktif dimana kesimpulan ditarik dari pernyataan umum menuju pernyataan khusus menggunakan penalaran. Hasil berpikir deduktif dapat digunakan untuk menyusun hipotesis untuk selanjutnya diadakan pembuktian atas hipotesis melalui analisa dan penalaran.
  2. Berpikir induktif merupakan satu langkah pengambilan kesimpulan yang dimulai dari fakta khusus menuju kesimpulan bersifat umum. Langkah berpikir induktif dimulai dari pengamatan lapangan, penyusunan hasil pengamatan, pengujian data, dan penarikan kesimpulan. Pengujian hipotesis tidak melalui pengkajian teori akan tetapi melalui kajian data lapangan.
  3. Gabungan kedua cara berpikir tersebut disebut metode ilmiah yang pada akhirnya ditujukan untuk menghasilkan pengetahuan ilmiah. Berpikir ilmiah adalah gabungan berpikir deduktif dan induktif. Dalam perspektif  disiplin ilmu matematika, kedua logika berpikir tersebut secara aktif diterapkan berdasarkan objek dan tujuan kajian. Jika tujuan kajian matematika adalah yang berhubungan dengan ide-ide atau konsep-konsep yang abastrak maka penalarannya bersifat deduktif, akan tetapi  tujuan kajian diarahkan pada fakta-fakta dan gejala yang muncul sampai pada perkiraan tertentu maka penalarannya bersifat induktif.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bagus, Lorens,  Kamus Filsafat, Jakarta : Gramedia, 1996.

Bakry, Hasbullah, Sistematika Filsafat, Jakarta : Wijaya. 1981.

Kasmadi, Hartono, dkk, Filsafat Ilmu, Semarang : IKIP Semarang Press, 1990.

Kattsoff, Louis O, Pengantar Filsafat, Yogyakarta : Tiara Wacana, 1986.

Kusumah, Yay S, Logika Matenatika Elementer, Bandung, 1986.

Purwati, M. Ngalim, Psikologi Pendidikan, Bandung : PT. Rosdakarya, 1992.

Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu. Sebuah Pengantar Populer, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1988.

            Ilmu dalam Perspektif, Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakikat Ilmu, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 1997.

Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2004.

The New Oxfort Dictionary of English, UK : Oxford University Press, 2003.

Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, Yogyakarta : Liberty, 1996.

Penggunaan Multimedia dalam Pembelajaran

Oleh : Kelompok X

Genru, S.Pd

Hj. Risliana, S.Pd

Akhmad Fitriansyah, S.Pd

I Wayan Adnyana, S.Pd

Sahrudin, S.Pd

Muhammad Zamroni, S.Pd

Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Manajemen Pendidikan Universitas Mulawarnan Kelas Kabupaten Paser Tahun 2009/2010

  1. Latar belakang

Dalam sudut pandang proses pembelajaran, presentasi merupakan salah satu metode pembelajaran. Penggunaannya yang menempati frekwensi paling tinggi dibandingkan dengan metode lainnya. Berbagai alat yang dikembangkan, telah mernberikan pengaruh yang sangat besar bukan hanya pada pengembangan kegiatan praktis dalam kegiatan presentasi pembelajaran akan tetapi juga pada terori-teori yang mendasarinya. Perkembangan terakhir pada bidang presentasi dengan alat bantu komputer telah menyebabkan perubahan tuntutan penyelenggaraan pembelajaran di kelas. Diantaranya tuntutan terhadap peningkatan kemampuan dan keterampilan para guru / dosen, instruktur/widiaiswara serta para professional lainnya di dalam mengolah bahan-bahan pembelajaran/pelatihan ke dalam media presentasi yang berbasis komputer.

  1. Pengertian Multimedia

William Ditto (2006) menyatakan definisi multimedia dalam ilmu pengetahuan mencakup beberapa aspek yang saling bersinergi, antara teks, grafik, gambar statis, animasi, film dan suara. Sejumlah penelitian membuktikan bahwa penggunaan multimedia dalam pembelajaran menunjang efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran. Penelitian tersebut antara lain yang dilakukan oleh Francis M. Dwyer. Hasil penelitian ini antara lain menyebutkan bahwa setelah lebih dari tiga hari pada umumnya manusia dapat mengingat pesan yang disampaikan melalui tulisan sebesar 10 %, pesan audio 10 %, visual 30 % dan apabila ditambah dengan melakukan, maka akan mencapai 80 %. Berdasarkan hasil penelitian ini maka multimedia interaktif (user melakukan) dapat dikatakan sebagai media yang mempunyai potensi yang sangat besar dalam membantu proses pembelajaran.

Dalam perkembangannya multimedia dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok, yaitu multimedia linier dan multimedia interaktif. Multimedia linier adalah suatu multimedia yang tidak dilengkapi dengan alat pengontrol apapun di dalamnya. Sifatnya sekuensial atau berurutan dan durasi tayangannya dapat diukur. Film dan televisi termasuk dalam kelompok ini.

Sedangkan multimedia interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi dengan alat pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna, sehingga pengguna dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya. Ciri khasnya, multimedia ini dilengkapi dengan beberapa navigasi yang disebut juga dengan graphical user interface (GUI), baik berupa icon maupun button, pop-up menu, scroll bar, dan lainnya yang dapat dioperasikan oleh user untuk sarana browsing ke berbagai jendela informasi dengan bantuan sarana hyperlink. Penerapan multimedia interaktif ini didapat pada multimedia pembelajaran serta aplikasi game. Multimedia interaktif tidak memiliki durasi karena lama penayangannya tergantung seberapa lama pengguna mem-browsing media ini.

  1. Fungsi Multimedia dalam Pembelajaran

Manfaat media pendidikan dalam proses belajar menurut Hamalik (1986) antara lain sebagai peletakkan dasar-dasar yang kongkrit dalam berfikir untuk mengurangi ‘verbalisme’, memperbesar minat siswa, membuat pelajaran lebih menyenangkan sehingga berdampak kepada hasil pembelajaran yang lebih memuaskan.

Multimedia dalam pembelajaran dapat digolongkan kedalam tiga karakteristik. Pertama, multimedia digunakan sebagai salah satu unsur pembelajaran di kelas. Misal jika guru menjelaskan suatu materi melalui pengajaran di kelas atau berdasarkan suatu buku acuan, maka multimedia digunakan sebagai media pelengkap untuk menjelaskan materi yang diajarkan di depan kelas. Multimedia dengan jenis ini dinamakan juga dengan ‘presentasi pembelajaran’. Materi yang ditayangkan tidak terlalu kompleks dan hanya menampilkan beberapa item yang dianggap penting, baik berupa teks, gambar, video maupun animasi. Latihan dan tes kurang cocok diletakkan pada presentasi pembelajaran ini, kecuali bersifat quiz guna membangun suasana kelas agar lebih dinamis.

Kedua, multimedia digunakan sebagai materi pembelajaran mandiri. Pada tipe kedua ini multimedia mungkin saja dapat mendukung pembelajaran di kelas mungkin juga tidak. Berbeda dengan tipe pertama, pada tipe kedua seluruh kebutuhan instruksional dari pengguna dipenuhi seluruhnya di dalam paket multimedia. Artinya seluruh fasilitas bagi pembelajaran, termasuk latihan, feedback dan tes yang mendukung tujuan pembelajaran disediakan di dalam paket.

Ketiga, multimedia digunakan sebagai media satu-satunya di dalam pembelajaran. Dengan demikian seluruh fasilitas pembelajaran yang mendukung tujuan pembelajaran juga telah disediakan di dalam paket ini. Paket semacam ini sering disebut CBL (Computer Based Learning).

  1. Keunggulan Multimedia dalam Pembelajaran

Bates (1995) menekankan bahwa diantara media-media lain, interaktivitas multimedia atau media lain yang berbasis komputer adalah yang paling nyata (overt). Interaktivitas nyata di sini adalah interaktivitas yang melibatkan fisik dan mental dari pengguna saat mencoba program multimedia. Sebagai perbandingan media buku atau televisi sebenarnya juga menyediakan interaktivitas, hanya saja interaktivitas ini bersifat samar (covert) karena hanya melibatkan mental pengguna.

Interaktivitas secara fisik dalam multimedia pembelajaran bervariasi dari yang paling sederhana hingga yang kompleks. Interaktivitas sederhana misalnya menekan keyboard atau melakukan klik dengan mouse untuk berpindah halaman (display) atau memasukkan jawaban dari suatu latihan yang diberikan oleh komputer. Interaktivitas yang komplek misalnya aktivitas di dalam suatu simulasi sederhana di mana pengguna bisa mengubah-ubah suatu variabel tertentu atau di dalam simulasi komplek di mana pengguna menggerakkan suatu joystick untuk menirukan gerakan mengemudikan pesawat terbang.

Keunggulan multimedia di dalam interaktivitas adalah media ini secara inheren mampu memaksa pengguna untuk berinteraksi dengan materi baik secara fisik dan mental. Tentu saja kemampuan memaksa ini tergantung pada seberapa efektif instruksi pembelajaran mampu menarik pengguna untuk mencoba secara aktif pembelajaran yang disajikan. Sebagai contoh adalah program multimedia pembelajaran yang berisi materi mengenai oscilloscope. Dengan menggunakan multimedia pembelajaran pengguna akan diajak secara langsung mencoba dan menggunakan simulasi oscilloscope yang tersedia. Berbeda halnya jika materi yang sama disajikan dengan buku atau video. Dalam hal ini pengguna hanya pasif (secara fisik) melihat bagaimana cara menggunakan oscilloscope ditampilkan. Aktivitas mental ( pengguna menyerap cara menggunakan dan mengatur oscilloscope) mungkin terjadi akan tetapi aktivitas fisik (dalam hal ini mencoba sendiri cara mengatur oscilloscope) tidak terjadi. Dengan kata hal lain – dalam hal suatu simulasi – dengan menggunakan multimedia pembelajaran pengguna akan mencoba secara langsung bagaimana sesuatu terjadi.

Selanjutnya Fenrich (1997) menyimpulkan keunggulan multimedia pembelajaran antara lain:

•    siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan , kesiapan dan keinginan mereka. Artinya pengguna sendirilah yang mengontrol proses pembelajaran.

•     siswa belajar dari  tutor yang sabar (komputer) yang menyesuaikan diri dengan kemampuan dari siswa.

•     siswa akan terdorong untuk mengejar pengetahuan dan memperoleh umpan balik yang seketika.

•     siswa menghadapi suatu evaluasi yang obyektif melalui keikutsertaannya dalam latihan/tes yang disediakan.

•     siswa menikmati privasi di mana mereka tak perlu malu saat melakukan kesalahan.

•     belajar saat kebutuhan muncul (“just-in-time” learning).

•     belajar kapan saja mereka mau tanpa terikat suatu waktu yang telah ditentukan.

  1. Penutup
    1. Kesimpulan

Selengkap dan secanggih apa pun prasarana dan sarana dalam Proses Belajar Mengajar (PBM), tanpa didukung oleh mutu dan motivasi guru yang baik, prasarana dan sarana tersebut tidak memiliki arti yang signifikan terhadap peningkatan mutu pendidikan. Oleh sebab itu seluruh stekholders yang berperan di dalam pendidikan harus memperhatian betul kebutuhan dunia pendidikan yang selalu berkembang dengan pesat seiring berkembangnya teknologi infomasi dan komunikasi.

Media memiliki multi makna, baik dilihat secara terbatas maupun secara luas. Oleh sebab itu peranan multimedia sangat besar dalam proses pembelajaran. Lebih-lebih dalam dunia globalisasi saat ini. Komputer dan internet bukan madia asing lagi pada dunia anak-anak terutama siswa SD, SMP, SMA bahkan perguruan tinggi. Apabila kita tidak mampu mengikuti perkebangan teknologi informasi dan komunikasi ini, maka kita akan selalu ketinggalan.

  1. Saran
  2. Karena begitu pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini diharapkan semua sekolah terutama yang ada kecamatan Long Ikis khususnya dan kabupaten Paser umumnya untuk mampu menerapkan multimedia dalam pembelajaran.
  3. Kepada semua guru diharapkan mampu menguasai dan menerapkannya multimedia  dalam proses pembelajaran di sekolah masing-masing.
  4. Kepada seluruh kepala sekolah dari SD sampai SLTA, selalu memberikan pembinaan dan dukungan sarana dan prasarana multimedia kepada seluruh guru untuk selalu menggunakan multimedia dalam proses pembelajaran sehingga pembelajaran dapat berjalan secara efektif.
  5. Kepada pemerintah dapat selalu mengadakan pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan dalam penggunaan multimedia dalam proses pembelajaran.



BIODATA

Posted on: Mei 16, 2010

Saya adalah seorang anak desa yang dilahirkan sebuah desa yang sangat terpencil pada tanggal 25 Desember 1970, yaitu Desa Pengelumbaran Kecamatan Susut Kabupaten Bangli Provinsi Bali yang sampai saat ini belum bisa dilalui oleh kendaraan bermotor. Kedua orangtua saya adalah buruh tani, dimana ayah saya tidak tamat sekolah dasar dan ibu tidak pernah mengenyam pendidikan.

Kemiskinan sangat identik dengan  desa saya. Namun itu bukanlah halangan bagi saya dan saudara-saudara saya untuk keluar dari keterbelakangan ini. Kami bersaudara 10 orang dan rata-rata mampu untuk mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi. Saya adalah anak tertua dari 10 bersaudara tersebut.

Namun dalam hal pendidikan kedua orang tua kami sangat maju pandangannya. Sehingga saya dan saudara-saudara saya diharapkan untuk tetap bersekolah walaupun dalam impitan kemiskinan. Orang tua berpesan kalau mau maju harus berusaha. Setiap usaha pasti ada jalan.

Ada pesan orang tua kami yang boleh dikatakan ekstrim bagi kami adalah “Jangan kamu lakukan apa yang bapa (Bapak : dalam bahasa Bali) lakukan”

Contoh :

  1. Orangtua saya adalah penjudi sabung ayam yang paling maniak, maka anaknya tidak boleh melakukan itu.
  2. Orangtua saya perokok berat, maka anaknya tidak boleh melakukan itu.
  3. Orangtua saya adalah tukang batu, maka anaknya tidak boleh melakukan itu.
  4. Dan masih banyak lagi pesan-pesan orangtua yang ekstrim yang tidak boleh kami lakukan.

Demikian sekelumit kisah hidup saya. Untuk lebih jelasnya akan saya sampaikan biodata saya sebagai berikut :

  1. Nama                                                   :  I Wayan Adnyana, S.Pd
  2. Tempat Tanggal Lahir                         :  Bangli, 25 Desember 1970
  3. Jenis Kelamin                                      :  Laki-laki
  4. Agama                                                 :  Hindu
  5. Status                                                  :  Menikah
  6. Pendidikan                                          :
    1. SD                                                 :  SDN 4 Kawan Bangli, 1984
    2. SLTP                                             :  SMP N 1 Bangli, 1987
    3. SLTA                                            :  SPG N Singaraja, 1990
    4. Perguruan Tinggi                           :

-          D II – PGSD                           :  FKIP Unud Denpasar Bali, 1992

-          S 1 – PGSD                            :  Universitas Terbuka (UT) Jakarta, 2008

-          S 2 – MP                                 :  Universitas Mulawarman (sedang berjalan)

  1. Pekerjaan                                             :
    1. Tugas Pokok                                 :  Guru SD
    2. Tugas Tambahan                           :  Pengelola UT Pokjar Long Kali dan Tutor
    3. Lain-lain                                        :  Petani kelapa sawit
    4. Instansi                                                :  SDN 011 Long Ikis Kabupaten Paser
    5. Alamat                                                            :  RT.04 RW.02 Kelurahan Long Ikis Kec. Long

Ikis Kab. Paser, Prov. Kalimantan Timur.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.