Way4n's Blog

Kebenaran Pengetahuan

Posted on: Mei 16, 2010

Kebenaran Pengetahuan dan Kebenaran Ilmiah

Dalam Perspektif Filsafat Ilmu

(Pendekatan Teoritik)

Oleh : I Wayan Adnyana, S.Pd

  1. A. Pendahuluan

  1. 1. Latar Belakang

Membicarakan pengetahuan maka identik dengan penalaran, kemampuan penalaran manusia menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya. Manusia satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh, binatang hanya terbatas mempunyai pengetahuan, hanya untuk kelangsungan hidupnya saja (survival).

Hakikat penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik kesimpulan yang berupa pengetahuan, penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berpikir dan bukan karena perasaan.

Penalaran merupakan sebuah kegiatan berpikir yang mempunyai ciri-ciri. Pertama logika, ialah suatu pola berpikir yang secara luas dengan pola yang bersifat jamak (plural). Kedua proses berpikir analitik (berpikir yang menyandarkan kepada suatu analisis dan kerangka berpikir yang digunakan untuk analisis).

Penalaran tersebut merupakan proses manusia dalam berfilsafat. Filsafat merupakan induk dari semua ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan didapat dari kumpulan teori-teori. Teori-teori tersebut tak lain dari buah pikiran-pikiran mendalam (berfilsafat) dari para pemikirnya (filsuf/filosof). Begitu banyak aliran dalam filsafat sehingga lahirlah berbagai pandangan-pandangan atau pemikiran-pemikiran mengenai cara pandang para filosof atas segala sesuatu yang ada baik di dalam dunia itu sendiri maupun di luar dunia atau dengan kata lain luar angkasa, alam semesta secara globalnya.

Berbicara tentang arti kebenaran ilmiah sesungguhnya adalah membicarakan apa yang disebut kebenaran serta syarat-syarat apa yang menyebabkan sesuatu pengetahuan dapat dikatakan benar.

Berbicara tentang kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Di samping itu proses untuk mendapatkannya haruslah melalui tahapan-tahapan yang sistematis yang kemudian disebut dengan metode ilmiah.

Kriteria ilmiah dari suatu ilmu memang tidak dapat menjelaskan fakta dan realitas yang ada. Apalagi terhadap fakta dan kenyataan yang berada dalam lingkup religi ataupun yang metafisika dan mistik, ataupun yang non ilmiah lainnya. Di sinilah perlunya pengembangan sikap dan kepribadian yang mampu meletakkan manusia dalam dunianya.

Penegasan di atas dapat kita pahami karena apa yang disebut ilmu pengetahuan diletakkan dengan ukuran: pertama, pada dimensi fenomenalnya yaitu bahwa ilmu pengetahuan menampakkan diri sebagai masyarakat, sebagai proses dan sebagai produk. Kedua, pada dimensi strukturalnya, yaitu bahwa ilmu pengetahuan harus terstruktur atas komponen-komponen, obyek sasaran yang hendak diteliti (begenstand), yang diteliti atau dipertanyakan tanpa mengenal titik henti atas dasar motif dan tata cara tertentu, sedang hasil-hasil temuannya diletakkan dalam satu kesatuan sistem (Wibisono, 1982). Tampaknya anggapan yang kurang tepat mengenai apa yang disebut ilmiah telah mengakibatkan pandangan yang salah terhadap kebenaran ilmiah dan fungsinya bagi kehidupan manusia. Ilmiah atau tidak ilmiah kemudian dipergunakan orang untuk menolak atau menerima suatu produk pemikiran manusia.

  1. Tujuan

Selain untuk memenuhi salah satu tugas filsafat ilmu, juga untuk menambah wawasan pengetahuan kita tentang Filsafat Ilmu pada umumnya, dan Teori Ilmu Pengetahuan pada khususnya.

  1. Metode

Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini ialah metode pustaka, yaitu materi makalah bersumber dari berbagai buku dan informasi lainnya yang relavan.

  1. B. Pembahasan

  1. 1. Pengertian  Kebenaran

Maksud dari hidup ini adalah untuk mencari kebenaran. Tentang kebenaran ini, Plato pernah berkata “Apakah kebenaran itu? Lalu pada waktu yang tak bersamaan, bahkan jauh belakangan Bradley menjawab “Kebenaran itu adalah kenyataan”, tetapi bukanlah kenyataan (dos sollen) itu tidak selalu yang seharusnya (dos sein) terjadi. Kenyataan yang terjadi bisa saja berbentuk ketidakbenaran (keburukan). Jadi ada 2 pengertian kebenaran, yaitu kebenaran yang berarti nyata-nyata terjadi di satu pihak, dan kebenaran dalam arti lawan dari keburukan (ketidakbenaran) (Syafi’i, 1995).

Dalam bahasan ini, makna “kebenaran” dibatasi pada kekhususan makna “kebenaran keilmuan (ilmiah)”. Kebenaran ini mutlak dan tidak sama atau pun langgeng, melainkan bersifat nisbi (relatif), sementara (tentatif) dan hanya merupakan pendekatan (Wilardo, 1985:238-239). Kebenaran intelektual yang ada pada ilmu bukanlah suatu efek dari keterlibatan ilmu dengan bidang-bidang kehidupan. Kebenaran merupakan ciri asli dari ilmu itu sendiri. Dengan demikian maka pengabdian ilmu secara netral, tak bermuara, dapat melunturkan pengertian kebenaran sehingga ilmu terpaksa menjadi steril. Uraian keilmuan tentang masyarakat sudah semestinya harus diperkuat oleh kesadaran terhadap berakarnya kebenaran (Daldjoeni, 1985:235).

Selaras dengan Poedjawiyatna (1987:16) yang mengatakan bahwa persesuaian antara pengetahuan dan obyeknya itulah yang disebut kebenaran. Artinya pengetahuan itu harus yang dengan aspek obyek yang diketahui. Jadi pengetahuan  yang benar adalah pengetahuan yang obyektif.

Meskipun demikian, apa yang dewasa ini kita pegang sebagai kebenaran mungkin suatu saat akan hanya menjadi pendekatan kasar saja dari suatu kebenaran yang lebih sejati lagi dan demikian seterusnya. Hal ini tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan manusia yang transenden, dengan kata lain, keresahan ilmu bertalian dengan hasrat yang terdapat dalam diri manusia. Dari sini terdapat petunjuk mengenai kebenaran yang trasenden, artinya tidak henti dari kebenaran itu terdapat di luar jangkauan manusia.

  1. 2. Hakikat Kebenaran

Setiap orang menginginkan suatu kebenaran. Kebenaran menjadi sebuah kebutuhan pokok untuk meyakinkan seseorang ketika diambang sebuah kebingungan dari sebuah konsep yang masih meragukan. Lalu apa sebenarnya sebuah kebenaran itu? Secara jelas Depdikbud (1995) menyatakan bahwa kebenaran merupakan keadaan (hal dan dan sebagainya) yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya atau sesuatu yang sesungguhnya. Dari penjelasan itu dapat dikatakan bahwa kebenaran adalah soal kesesuaian sebagai kenyataan yang sesungguhnya. Benar atau salahnya sesuatu adalah masalah sesuai atau tidaknya tentang kebenaran dinyatakan oleh Mudyaharjo (2002:49) bahwa kebenaran terletak pada kesesuaian antara subyek dan obyek, yaitu apa yang diketahui subyek dan realita sebagaimana adanya. Misalnya, setiap orang mengatakan bahwa “matahari merupakan sumber energi” adalah suatu pernyataan yang benar, karena pernyataan itu dapat didukung oleh kesesuaian terhadap kenyataan.

  1. 3. Teori-Teori kebenaran

Filsafat memiliki tiga cabang kajian yaitu ontology, epistemology, dan aksiology. Ontology membahas tentang apa itu realitas. Dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan, filsafat ini membahas tentang apa yang bisa dikategorikan sebagai obyek ilmu pengetahuan. Dalam ilmu pengetahuan modern, realitas hanya dibatasi pada hal-hal yang bersifat materi dan kuantitatif. Ini tidak terlepas dari pandangan yang materialistik-sekularistik. Kualifikasi obyek ilmu pengetahuan modern berarti bahwa aspek-aspek alam yang bersifat kualitatif menjadi diabaikan. Epistemelogis membahas masalah metodologi ilmu pengetahuan. Dalam ilmu pengetahuan modern, jalan bagi diperolehnya ilmu pengetahuan adalah metode ilmiah dengan pilar utamanya rasionalisme dan emperisme. Aksiology menyangkut tujuan diciptakannya ilmu pengetahuan, mempertimbangkan aspek pragmatis-materialistis.

Untuk menentukan kepercayaan dari sesuatu yang dianggap benar, para filosof bersandar kepada beberapa cara untuk menguji kebenaran, yaitu:

  1. 1. Teori Kebenaran Korespondensi

Teori pertama ialah Teori kebenaran korespondensi ( Correspondence Theory of Truth), atau juga disebut The accordance Theory of Truth.

“Kebenaran/keadaan benar itu berupa kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh sebuah pendapat dengan apa yang sungguh merupakan halnya/faktanya”.

Menurut teori ini dinyatakan bahwa, kebenaran atau keadaan benar itu berupa kesesuaian (correspondence) antara  arti yang dimaksud oleh suatu pernyataan dengan apa yang sungguh-sungguh terjadi merupakan kenyataan atau faktanya.

Jadi berdasarkan teori korespondensi ini, kebenaran/keadaan benar itu dapat dinilai dengan membandingkan antara preposisi dengan fakta atau kenyataan yang berhubungan dengan preposisi tersebut. Bila antara keduanya terdapat kesesuaian (correspondence), maka preposisi tersebut dapat dikatakan memenuhi standar kebenaran/keadaan benar.

Sebagai contoh dapat dikemukakan : “Samarinda adalah Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur sekarang” ini adalah sebuah pernyataan ; dan apabila kenyataannya memang Samarinda adalah Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur, pernyataan ini benar, maka pernyataan itu adalah suatu kebenaran.

Rumusan teori korespondensi tentang kebenaran itu bermula dari Aristoteles (384-322 S.M) dan disebut teori penggambaran yang definisinya berbunyi sebagai berikut :

“VERITAS EST ADAEQUATIO INTELCTUS ET RHEI”

(Kebenaran adalah persesuaian antara pikiran dan kenyataan)

Teori ini selanjutnya dikembangkan oleh Bertrand Russel (1872-1970). Penganut teori ini adalah mazhab realisme dan materialisme. Teori ini berprinsip pada pemikiran induksi, yaitu pengambilan kesimpulan dari umum ke khusus. Kebenaran diperoleh setelah diadakan pengamatan dan pembuktian (observasi dan verifikasi).

Ujian kebenaran yang dinamakan teori korespondensi adalah teori yang paling banyak diterima secara luas oleh kelompok realis. Menurut teori ini, kebenaran adalah kesetiaan kepada realita obyektif (fidelity to objective reality). Kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan tentang fakta dan fakta itu sendiri, atau antara pertimbangan (judgement) dan situasi yang menjadi pertimbangan itu, karena kebenaran mempunyai hubungan erat dengan pernyataan atau pemberitaan yang kita lakukan tentang sesuatu (Titus, 1987:237).

Jadi, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori korespondensi suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut (Suriasumantri, 1990:57). Misalnya jika seseorang mengatakan “kota Samarinda terletak di pulau Kalimantan” maka pernyataan itu adalah benar sebab pernyataan itu sesuai dengan obyek yang bersifat faktual, yakni  kota Samarinda memang benar-benar berada di pulau Kalimantan. Sekiranya orang lain yang mengatakan bahwa “kota Samarinda berada di pulau Sumatra” maka pernyataan itu adalah tidak benar sebab tidak terdapat obyek yang sesuai dengan pernyataan tersebut. Dalam hal ini maka secara faktual “kota Samarinda bukan berada di pulau Sumatra melainkan di pulau Kalimantan”.

Menurut teori koresponden, ada atau tidaknya keyakinan tidak mempunyai hubungan langsung terhadap kebenaran atau kekeliruan, oleh karena atau kekeliruan itu tergantung kepada kondisi yag sudah ditetapkan atau diingkari. Jika sesuatu pertimbangan sesuai dengan fakta, maka pertimbangan ini benar, jika tidak, maka pertimbangan itu salah(Jujun, 1990:237).

  1. b. Teori Kebenaran Koherensi

Teori yang kedua adalah Teori Konsistensi. The Consistence Theory of Truth, yang sering disebut juga dengan The Coherence Theory Of Truth.

Menurut teori ini kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan (judgement) dengan sesuatu yang lalu, yaini fakta atau realitas, tetapi atas hubungan antara putusan-putusan itu sendiri.

Berdasarkan teori ini suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar (Jujun, 1990:55), artinya pertimbangan adalah benar jika pertimbangan itu bersifat konsisten dengan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya, yaitu yang koheren menurut logika.

Misalnya, bila kita menganggap bahwa “semua manusia pasti akan mati” adalah suatu pernyataan yang benar, maka pernyataan bahwa “si Hasan seorang manusia dan si Hasan pasti akan mati” adalah benar pula, sebab pernyataan kedua adalah konsisten dengan pernyataan yang pertama.

Teori ini dianut oleh mazhab idealisme. Penggagas teori ini adalah Plato (427-347 S.M) dan Aristoteles (384-322 S.M), selanjutnya dikembangkan oleh Hegel dan F.H Bradley (1864-1924).

Seorang sarjana Barat A.C Ewing (1951:62) menulis tentang teori koherensi, ia mengatakan bahwa koherensi yang sempurna merupakan suatu ideal yang tak dapat dicapai, akan tetapi pendapat-pendapat dapat dipertimbangkan menurut jaraknya dari ideal tersebut. Sebagaimana pendekatan dalam aritmatik, dimana pernyataan-pernyataan terjalin sangat teratur sehingga tiap pernyataan timbul dengan sendirinya  dari pernyataan tanpa berkontradiksi dengan pernyataan-pernyataan lainnya. Jika kita menganggap bahwa 2 + 2 = 5, maka tanpa melakukan kesalahan lebih lanjut, dapat ditarik kesimpulan yang menyalahi tiap kebenaran aritmatik tentang angka apa saja.

Kelompok idealis, seperti Plato juga filosof-filosof modern seperti Hegel, Bradley dan Royce memperluas prinsip koherensi sehingga meliputi dunia, dengan begitu maka tiap-tiap pertimbangan yang benar  dan tiap-tiap sistem kebenaran yang parsial bersifat terus menerus dengan keseluruhan realitas dan memperolah arti dari keseluruhan tersebut (Titus, 1987:239). Meskipun demikian perlu lebih dinyatakan dengan referensi kepada konsistensi faktual, yakni persetujuan antara suatu perkembangan dan suatu situasi lingkungan tertentu.

Jadi, teori kebenaran koherensi adalah teori kebenaran yang didasarkan kepada kreteria keheren atau konsisten. Suatu pernyataan disebut benar bila sesuai dengan jaringan komprehensif dari pernyataa-pernyataan yang berhubungan secara logis. Pernyataan-pernyataan ini mengikuti atau membawa kepada pernyataan yang lain. Seperti sebuah percepatan terdiri dari konsep-konsep yang saling berhubungan dari massa, gaya dan kecepatan dalam fisika.

Kebenaran tidak hanya terbentuk oleh hubungan antara fakta atau realitas saja, tetapi juga hubungan antara pernyataan-pernyataan itu sendiri. Dengan kata lain, suatu pernyataan adalah benar apabila konsisten dengan pernyataan-pernyataan yang terlebih dahulu kita terima dan kita ketahui kebenarannya. Salah satu dasar teori ini adalah hubungan logis dari suatu proposisi dengan proposisi sebelumnya. Proposisi atau pernyataan adalah apa yang dinyatakan, diungkapkan dan dikemukakan atau menunjuk pada rumusan verval berupa rangkaian kata-kata yang digunakan untuk mengemukakan apa yang hendak dikemukakan. Proposisi menunjukkan pendirian atau pendapat tentang hubungan antara dua hal dan merupakan gabungan antara faktor kuantitas dan kualitas.

  1. c. Teori Kebenaran Pragmatik

Teori ketiga adalah teori pragmatisme tentang kebenaran, The Pragmatic (Pragmatist) Theory Of Truth. Pragmatisme berasal dari bahasa Yunani pragma, yang artinya yang dikerjakan, yang dapat dilaksanakan, dilakukan, tindakan atau perbuatan.

Teori pragmatik dicetuskan oleh Charles S. Peirce (1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yangberjudul “How to Make Ideals Clear”. Teori ini kemudian dikembangkan oleh beberapa ahli filsafat yang kebanyakan adalah berkebangsaan Amerika yang menyebabkan filsafat ini sering dikaitkan dengan filsafat Amerika. Ahli-ahli filasafat itu di antaranya adalah William James (1842-1910), John Dewey (1859-1952), George Hobart Mead (1863-1931) dan C.I. Lewis (Jujun, 1990:57).

Menurut filsafat ini dinyatakan, bahwa sesuatu ucapan, hukum, atau sebuah teori semata-mata bergantung kepada asas manfaat. Sesuatu dianggap benar jika mendatangkan manfaat. Dinyatakan sebuah kebenaran jika memiliki ”hasil yang memuaskan”(satisfactory result), bila :

-          Sesuatu itu benar jika memuaskan keinginan dan tujuan manusia.

-          Sesuatu itu benar jika dapat diuji benar dengan eksperimen.

-          Sesuatu itu benar jika mendorong atau membantu perjuangan biologis untuk tetap ada.

Jadi, teori kebenaran pragmatis adalah teori yang berpandangan bahwa arti dari ide dibatasi oleh referensi pada konsekuensi ilmiah, personal, atau sosial. Benar tidaknya suatu dalil atau teori tergantung kepada berfaedah tidaknya dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk kehidupannya. Kebenaran suatu pernyataan harus bersifat fungsional dalam kehidupan praktis.

Pragmatisme menentang segala otoritanianisme, intelektualisme dan rasionalisme. Bagi mereka ujian kebenaran adalah manfaat (utility), kemungkinan dikerjakan (workability) atau akibat  yang memuaskan (Titus, 1987:241), Sehingga dapat dikatakan bahwa pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pegangan pragmatis adalah logika pengamatan dimana kebenaran itu membawa manfaat bagi hidup praktis (Hadiwijono, 1980:130) dalam kehidupan manusia.

Kriteria pragmatisme juga dipergunakan oleh ilmuan dalam menentukan kebenaran ilmiah dalam perspektif waktu. Secara historis pernyataan ilmiah yang sekarang dianggap benar suatu waktu mungkin tidak lagi demikian. Dihadapkan dengan masalah seperti ini maka ilmuan bersifat pragmatis selama pernyataan itu fungsional dan mempunyai kegunaan maka pernyataan itu dianggap benar, sekiranya pernyataan itu tidak lagi bersifat demikian, disebabkan perkembangan ilmu itu sendiri yang menghasilkan pernyataan baru, maka pernyataan itu ditinggalkan (Jujun, 1990:59), demikian seterusnya. Tetapi kriteria kebenaran cenderung menekankan satu atau lebih dari tiga pendekatan (1) yang benar adalah yang memuaskan keinginan kita, (2) yang benar adalah yang dapat dibuktikan dengan eksperimen, (3) yang benar adalah yang membantu dalam perjuangan hidup biologis. Oleh karena teori-teori kebenaran (koresponden, koherensi, dan pragmatisme) itu lebih bersifat saling menyempurnakan daripada saling bertentangan, maka teori tersebut dapat digabungkan dalam suatu definisi tentang kebenaran. kebenaran adalah persesuaian yang setia dari pertimbangan dan ide kita kepada fakta pengalaman atau kepada alam seperti adanya. Akan tetapi karena kita dengan situasi yang sebenarnya, maka dapat diujilah pertimbangan tersebut dengan konsistensinya dengan pertimbangan-pertimbangan lain yang kita anggap sah dan benar, atau kita uji dengan faidahnya dan akibat-akibatnya yang praktis (Titus, 1987:245).

  1. d. Teori Kebenaran Sintaksis

Para penganut teori kebenaran sintaksis, berpangkal tolak pada keteraturan sintaksis atau gramatika yang dipakai oleh suatu pernyataan atau tata bahasa yang melekatnya. Dengan demikian suatu pernyataan dikatakan memiliki nilai benar bila pernyataan itu mengikuti aturan-aturan sintaksis yang baku. Atau dengan kata lain apabila proposisi itu tidak mengikuti syarat atau keluar dari hal yang disyaratkan maka proposisi itu tidak mempunyai arti. Teori ini berkembang di antara para filsuf analisa bahasa, terutama yang begitu ketat terhadap pemakaian gramatika seperti Friederich Schleiermacher (1768-1834).

Menurut Schleiermacher sebagaimana dikutip oleh Poespoprojo (1987), pemahaman adalah suatu rekonstruksi, bertolak dari ekpresi yang selesai diungkapkan menjurus kembali ke suasana kejiwaan dimana ekspresi tersebut diungkapkan. Di sini terdapat dua momen yang saling terjalin dan berinteraksi, yakni momen tata bahasa dan momen kejiwaan.

  1. e. Teori Kebenaran Semantis

Teori kebenaran semantis dianut oleh faham filsafat analitika bahasa yang dikembangkan pasca filsafat Bertrand Russell sebagai tokoh pemula dari filsafat Analitika Bahasa. Manurut teori kebenaran semantik suatu proposisi memiliki nilai benar ditinjau dari segi arti atau makna. Apakah proposisi yang merupakan pangkal tumpunya itu mempunyai pengacu (referent) yang jelas. Oleh karena itu teori ini memiliki tugas untuk menguak kesyahan proposisi dalam referensinya itu.

Teori Kebenaran semantis, sebenarnya berpangkal atau mengacu pada pendapat Aristoteles sebagaimana yang digambarkan oleh White (1978) yaitu “To say of what is that it is or of what is not, is true”, atau bahkan mengacu pada teori tradisional korespondensi yang mengatakan “… that truth consists in correspondence of what is said and what is fact”.

Dengan demikian, teori kebenaran semantik menyatakan bahwa proposisi itu mempunyai nilai kebenaran bila proposisi itu memiliki arti. Arti ini dengan menunjukkan makna yang sesungguhnya dengan menunjuk pada referensi atau kenyataan, juga arti yang dikemukakan itu memiliki arti yang bersifat definitif arti yang jelas dengan menunjuk ciri yang khas dari sesuatu yang ada).

Di dalam teori kebenaran semantik ada beberapa sikap yang dapat mengakibatkan apakah proposisi itu mempunyai arti yang esoterik, arbitrer, atau hanya mempunyai arti sejauh dihubungkan dengan nilai praktis dari subjek yang menggunakannya. Sikap-sikap yang terdapat dalam teori ini antara lain adalah pertama, sikap epistemologis skeptik, maksudnya ialah suatu sikap kebimbangan taktis atau sikap keragu-raguan untuk menghilangkan rasa ragu dalam memperoleh pengetahuan. Dengan sikap yang demikian dimaksudkan untuk mencapai suatu makna yang esoterik yaitu makna yang benar-benar pasti yang dikandung oleh suatu pernyataan. Kedua, sikap epistemologik yakin dan ideologik, artinya adalah bahwa proposisi itu memiliki anti namun arti itu bersifat arbitrer (sewenang-wenang) atau kabur, dan tidak memiliki sifat pasti. Jika mencapai kepastian, maka kepastiannya itu hanyalah berdasar pada kepercayaan yang ada pada dirinya sendiri. Ketiga, sikap episternologik pragmatik, yaitu makna dari suatu pernyataan yang amat tergantung pada dan berdasar pada nilai guna dan nilai praktis dari pemakai proposisi, Akibat semantisnya adalah kepastian yang terletak pada subjek yang menggunakan proposisi itu.

  1. f. Teori Kebenaran Non-Deskripsi

Teori kebenaran non-deskripsi dikembangkan oleh penganut filsafat fungsionalisme. Karena pada dasarnya suatu statemen atau pernyataan itu akan mempunyai nilai benar yang amat tergantung peran dan fungsi pernyataan itu. White (1978) mengambarkan tentang kebenaran sebagaimana dikemukakannya:

“… to say. It is true that not many people are likely to do that” is a way of agreeing with the opinion that not many people are likely to do that and not a way of talking about the opinion, much less of talking about the sentence used to express the opinion”.

Menilik pernyataan di atas, pengetahuan akan memiliki nilai benar sejauh pernyataan itu memiliki fungsi yang amat praktis dalam kehidupan sehari-hari. Pernyataan itu juga merupakan kesepakatan bersama untuk menggunakan secara praktis dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itulah White (1978) lebih lanjut menjelaskan: “The theory non-descriptive gives us an important insight into function of the use of “true” and “false”, but not an analysis of their meaning”.

  1. g. Teori Kebenaran Logik yang berlebihan (Logical-Superfluity Theory of Truth).

Teori ini dikembangkan oleh kaum Positivistik yang diawali oleh Ayer. Pada dasarnya menurut teori kebenaran ini adalah bahwa problema kebenaran hanya merupakan kekacauan bahasa saja dan hal ini akibatnya merupakan suatu pemborosan, karena pada dasarnya apa pernyataan yang hendak dibuktikan kebenarannya memiliki derajat logik yang sama yang masing-masing saling melingkupinya. Dengan demikian, sesungguhnya setiap proposisi yang bersifat logik dengan menunjukkan bahwa proposisi itu mempunyai isi yang sama, memberikan informasi yang sama dan semua orang sepakat, maka apabila kita membuktikannya lagi hal yang demikian itu hanya merupakan bentuk logis yang berlebihan. Hal yang demikian itu sesungguhnya karena suatu pernyataan yang hendak dibuktikan nilai kebenarannya sesungguhnya telah merupakan fakta atau data yang telah memiliki evidensi, artinya bahwa objek pengetahuan itu sendiri telah menunjukkan kejelasan dalam dirinya sendiri (Gallagher, 1984). Misalnya suatu lingkaran adalah bulat, ini telah memberikan kejelasan dalam pernyataan itu sendiri tidak perlu diterangkan lagi, karena pada dasarnya lingkaran adalah suatu yang terdiri dari rangkaian titik yang jaraknya sama dari satu titik tertentu, sehingga berupa garis yang bulat.

  1. h. Teori Kebenaran Performatif

Teori ini menyatakan bahwa kebenaran diputuskan atau dikemukakan oleh pemegang otoritas tertentu. Contoh pertama mengenai penetapan 1 Syawal. Sebagian muslim di Indonesia mengikuti fatwa atau keputusan MUI atau pemerintah., sedangkan  sebagian yang lain mengikuti fatwa ulama tertentu atau organisasi tertentu. Contoh kedua adalah pada masa rezim orde baru, PKI adalah partai terlarang dan semua hal yang berhubungan atau memiliki atribut PKI tidak berhak hidup di Indonesia. Contoh lainnya pada masa pertumbuhan ilmu, Cupernicus (1473-1543) mengajukan teori heliosentis dan bukan sebaliknya seperti difatwakan gereja. Masyarakat menanggapi hal yang benar adalah apa-apa yang diputuskan oleh gereja walaupun bertentangan dengan bukti-bukti emperis.

Dalam fase hidupnya, manusia kadang kala harus mengikuti kebenaran performatif. Pemegang otoritas yang menjadi rujukan bisa pemerintah, pemimpin agama, pemimpin adat, pemimpin masyarakat, dan sebagainya. Kebenaran performatif dapat membawa kepada kehidupan social yang rukun, kehidupan beragama yang tertib, adat yang stabil dan sebagainya.

Masyarakat yang mengikuti kebenaran performatif tidak terbiasa berpikir dan rasional. Mereka kurang inisiatif dan inovatif, karena terbiasa mengikuti kebenaran dari pemegang otoritas. Pada beberapa daerah yang mesyarakatnya masih sangat patuh pada adat, kebenaran ini seakan-akan kebenaran mutlak. Mereka tidak berani melanggar keputusan pemimpin adat dan tidak terbiasa menggunakan rasio untuk mencari kebenaran.

  1. i. Teori Kebenaran Konsensus

Suatu teori dinyatakan benar jika teori itu berdasarkan pada paradigma atau perspektif tertentu dan ada komunitas ilmuwan yang mengakui atau mendukung paradigma tersebut.

Banyak sejarahwan dan filsof sains masa kini menekankan bahwa serangkaian fenomena atau relaitas yang dipilih untuk dipelajari oleh kelompok ilmiah tertentu ditentukan oleh pandangan tertentu tentang realitas yang telah diterima secara apriori oleh kelompok tersebut. Pandangan ini disebut paradigma Oeh Kuhn dan world view oleh Sardar. Paradigma ialah apa yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota suatu masyarakat sains atau dengan kata lain masyarakat sains adalah orang-orang yang memiliki suatu paradigma bersama.

Masyarakat sains bisa mencapai consensus yang kokoh karena adanya paradigma. Sebagai konstelasi komitmen kelompok, paradigma merupakan nilai-nilai bersama yang bisa menjadi determinan penting dari prilaku kelompok meskipun tidak semua anggota kelompok menerapkannya dengan cara yang sama. Paradigma juga menunjukkan keanekaragaman individual dalam penerapan nilai-nilai bersama yang bisa melayani fungsi-fungsi esensial ilmu pengetahuan. Paradigma berfungsi sebagai keputusan yudikatif yang diterima dalam hukum tak tertulis.

Pengujian suatu paradigma terjadi setelah adanya kegagalan berlarut-larut dalam memecahkan masalah yang menimbulkan krisis. Pengujian ini adalah bagian dari kompetisi di antara dua paradigma yang bersaingan dalam memeperebutkan kesetiaan masyarakat sains. Faisifikasi terhadap suatu paradigma akan menyebabkan suatu teori yang telah mapan ditolak karena hasilnya negative. Teori baru yang memenangkan kompetisi akan mengalami verifikasi . Proses verifikasi-faisifikasi memiliki kebaikan yang sangat mirip dengan kebenaran dan memungkinkan adanya penjelasan tentang keseuaian atau ketidaksesuaian antara fakta dan teori.

Pengalih kesetiaan dari paradigma lama ke paradigma baru adalah pengalaman konversi yang tidak dapat dipaksakan. Adanya perdebatan antar paradigma bukan mengenal kemampuan relative suatu paradigma dalam memecahkan masalah, tetapi paradigma mana yang pada masa mendatang dapat menjadi pedoman riset untuk memecahkan berbagai masalah secara tuntas. Adanya jaringan yang kuat dari para ilmuwan sebagai peneliti konseptual, teori istrumen, dan metodelogi merupakan sumber utama yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan pemecahan berbagai masalah.

  1. 4. Sifat Kebenaran Ilmiah

Kebenaran ilmiah muncul dari hasil penelitian ilmiah. Artinya suatu kebenaran tidak mungkin muncul tanpa adanya prosedur baku yang harus dilaluinya. Prosedur baku yang harus dilalui itu adalah tahap-tahap untuk memperoleh pengetahuan ilmiah yang pada hakikatnya berupa teori melalui metodologi ilmiah yang telah baku sesuai dengan sifat dasar ilmu. Maksudnya adalah bahwa setiap ilmu secara tegas menetapkan jenis objek secara ketat apakah objek itu berupa hal konkret atau abstrak. Pembicaraan tentang objek secara rinci telah dijelaskan di muka. Lain dari pada itu juga, ilmu menetapkan langkah-langkah ilmiah sesuai dengan objek yang dihadapinya itu.

Kebenaran dalam ilmu adalah kebenaran yang sifatnya objektif, maksudnya ialah bahwa kebenaran dari suatu teori atau lebih tinggi lagi aksioma atau paradigma harus didukung oleh fakta-fakta yang berupa kenyataan dalam keadaan objektivanya. Kebenaran yang benar-benar lepas dari keinginan subjek. Kenyataan yang dimaksud adalah kenyataan yang berupa suatu yang dapat dipakai acuan atau kenyataan yang pada mulanya merupakan objek dalam pembentukan pengetahuan ilmiah itu.

Mengacu pada status ontologis objek, maka pada dasarnya kebenaran dalam ilmu dapat digolongkan dalam dua jenis teori yaitu teori kebenaran korespondensi atau teori kebenaran koherensi. Ilmu-ilmu kealaman pada umumnya menuntut kebenaran korespondensi, karena fakta-fakta objektif amat dituntut dalam pembuktian terhadap setiap proposisi atau pernyataan (statement). Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu kemanusiaan, ilmu-ilmu sosial, ilmu logika dan matematik. Ilmu-ilmu tersebut menuntut konsistensi dan koherensi diantara proposisi-proposisi, sehingga pembenaran bagi ilmu-ilmu itu mengikuti teori kebenaran koherensi.

Hal yang cukup penting dan perlu mendapatkan perhatian dalam hal kebenaran ini yaitu bahwa kebenaran dalam ilmu harus selalu merupakan hasil persetujuan atau konvensi dari para ilmuwan pada bidangnya. Para ilmuwan ini pada umumnya mereka adalah para sarjana. Disebabkan oleh karena itulah maka sifat kebenaran ilmu memiliki sifat universal sejauh kebenaran ilmu itu dapat dipertahankan. Pernyataan tersebut karena kebenaran ilmu harus selalu merupakan kebenaran yang disepakati dalam konvensi, maka keuniversalan sifat ilmu masih dibatasi oleh penemuan-penemuan baru atau penemuan lain yang hasilnya menolak penemuan terdahulu atau bertentangan sama sekali. Jika terdapat hal semacam ini maka diperlukan suatu penelitian ulang yang mendalam. Dan, jika hasilnya memang berbeda maka kebenaran yang lama harus diganti oleh penemuan baru atau kedua-duanya berjalan bersama dengan kekuatannya atas kebenarannya masing-masing. Contoh kasus yang terjadi adalah teori geometri Euklides dan teori geometri Reinman yang bersama-sama dengan Labocevsky tentang jumlah besar 3 sudut dari suatu segitiga. Atau contoh lain adalah tentang peralihan teori tentang pusat alam raya dari bumi menjadi matahari atau bahkan teori baru menunjukkan bahwa pusat alam raya ada pada pusat galaksi bima sakti.

  1. C. Penutup

  1. 1. Kesimpulan

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Bahwa pada dasarnya setiap proses mengetahui akan memunculkan suatu bentuk kebenaran sebagai kandungan isi pengetahuan itu. Akan tetapi setiap kebenaran pada saat pembuktiannya harus kembali pada status ontologis objek, sikap epistemologis (dengan cara dan sikap bagaimana pengetahuan terjadi), dan akhirnya dengan sikap aksiologis yang bagaimana. Dengan demikian, muncullah begitu banyak teori kebenaran. Namun dalam teori keilmuan untuk membuktikan kebenaran ilmiah suatu pernyataan ilmiah maka harus sesuai dengan sifat dasar metodologis yang digunakan dan amat tergantung pada konvensi. Itulah sebabnya peran masyarakat ilmiah juga menentukan karakteristik dari kebenaran ilmiah itu.
  2. Teori kebenaran yang sesuai pada masa kini adalah Teori Kebenaran Konsensus. Dengan kekuatan paradigma dan masyarakat sains pendukungnya, diharapkan kebenaran konsensus dapat menjawab berbagai problema kehidupan manusia di masa depan. Krisis global berupa krisis lingkungan dan krisis kemanusiaan yang selama ini telah dialami oleh manusia karena sains modern, cepat atau lambat akan dijawab oleh consensus baru dengan paradigma yang menghasilkan metode yang lebih tepat dalam mengantisipasi krisis global tersebut.
  3. Teori kebenaran yang paling lemah argumennya, adalah kebenaran performatif. Kebenaran yang kuat adalah yang didasari oleh rasio, logika, dan fakta emperis serta fungsional bagi umat manusia. Kebenaran yang didukung luas oleh masyarakat ilmiah, dan menjadi ukuran kebenaran tidak hanya dalam sains tetapi juga masalah budaya dan sosial lebih baik dan kuat lagi.
  4. Kesembilan macam teori kebenaran di atas adalah merupakan berbagai cara yang dilakukan manusia dalam memeperoleh kebenaran yang sifatnya relatif atau nisbi. Kebenaran absolut atau kebenaran mutlak berasal dari Tuhan yang disampaikan kepada manusia melalui wahyu. Alam dan kehidupan merupakan sumber kebenaran yang tersirat dari Tuhan untuk dipelajari dan diobservasi guna kebaikan umat manusia.
  5. Saran

Kami sangat menyadari betul akan kekuarangan dalam penulisan makalah ini. Maka dari itu, penulis sangat mengharapkan sekali saran dan kritik yang bersifat konstruktif guna perbaikan dalam penulisan makalah atau karya ilmiah selanjutnya. Selebihnya kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Anshari, Endang Saifuddin, Ilmu, Filsafat, dan Agama. PT. Bina Ilmu : Surabaya, 1987.

Awing, A.C., The Fundamental Questions of Philosophy, London: Routledge and Kegan Paul, 1951.

Bakker, Anton dan Achmad Chairis Zubair. Pustaka Filsafat: Metotologi Penelitian Filsafat. Kanisius : Jakarta, 1994.

Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat, Jakarta: Bumi Aksara, cet. iii, 1995.

Butler, J. Donald, Four Philosophies and Their Practice in Education and Religion, New York: Horper and Brothers, 1951.

Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat  Barat II, Yogyakarta: Kanisius, 1980.

Inu kencana Syafi’i, Filsafat kehidupan (Prakata), Jakarta: Bumi Aksara, 1995.

Irawati, Intan. Teori-teori Kebenaran Dalam Ilmu Pengetahuan.

http://www.pewarta-kabarindonesia.blogsport.com, 2008.

I.R. Poedjawijatna, Tahu dan Pengetahuan, Pengantar ke IImu dan Filsafat, Jakarta: Bina Aksara. 1987.

Jujun S. Sumiasumantri (ed), Ilmu dalam Prespektif, Jakarta: Gramedia, cet. 6, 1985.

———-, Filsafat Ilmu,Sebuah Pengantar Populer, Jakarata: Pustaka Sinar harapan, 1990.

Kneller, George F., Movement of Thought in Modern Education, New York: John Witey and Sound, 1984

Kuhn, Thomas S. Peran Paradigma dan Revolusi Sains. Remaja Rosdakarya : Bandung, 1993.

Koento Wibisono, Arti Perkemabangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste Comte, Yogyakarta: Gadjah Mada Univercity Press, cet. ke 2, 1982.

———–, Hubungan Filsafat, Ilmu Pengetahuan dan Budaya, makalah Pengantar kuliah Filsafat Ilmu, (t.t., t.tp.).

Rapar, Jan Hendrik, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: kanisius, 1996

Richard Pratte, Conteporary Theories of Education, Scranton, N. J: Intext International Publisher, 1977.

Titus, Harold H., dkk., Living Issues in Philasophy, Terj. H. M. Rasyidi,  Persoalan-Persoalan Filsafat, Jakarta: Bulan Bintang, 1987.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: