Way4n's Blog

Penerapan Prinsip Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi pada Kerangka berpikir Tesis yang Direncanakan

Posted on: Mei 16, 2010

TUGAS 1

Oleh : I Wayan Adnyana, S.Pd

Mahasiswa Pascasarjana Progam Studi Manajemen Pendidikan Universitas Mulawarman Kelas Kabupaten Paser Tahun 2009/2010

Nama Tugas :

Penerapan Prinsip Ontologi,Epistemologi dan Aksiologi pada kerangka berfikir tesis yang direncanakan

Judul Tesis :

Upaya Peningkatan Profesionalisme   dan   Motivasi  Guru  Gugus Sekolah Inti III Kecamatan Long Ikis Melalui Pertemuan Kelompok Kerja Guru ( KKG)

ABSTRAK

I WAYAN ADNYANA, S.Pd, NIM : ……………………………, UPAYA PENINGKATAN PROFESIONALISME DAN MOTIVASI GURU GUGUS SEKOLAH INTI III KECAMATAN LONG IKIS MELALUI PERTEMUAN

KELOMPOK KERJA GURU (KKG)

Profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian. Profesionalisme guru yang dimaksud dalam tesis ini adalah guru Sekolah Dasar (SD) yang profesional. Adapun guru profesional itu sendiri adalah guru yang berkualitas, berkompetensi, dan guru yang dikehendaki untuk mendatangkan prestasi siswa dan menpengaruhi proses belajar mengajar siswa, yang nantinya menghasilkan prestasi siswa yang lebih baik. Kompetensi guru yang diteliti meliputi. Pertama, kemampuan guru dalam merencanakan program belajar mengajar. Kedua, kemampuan guru dalam mengusai bahan pelajaran. Ketiga kemampuan guru dalam melaksanakan dan memimpin/mengelola proses belajar mengjar. Dan keempat, kemampuan dalam menilai kemajuan proses belajar mengajar.

Motivasi merupakan suatu keadaan atau kondisi yang mendorong, merangsang atau menggerakan seseorang untuk melakukan suatu kegiatan yang dilakukannya sehingga ia dapat mencapai tujuannya. Dalam konsep motif terkandung makna (1) motif merupakan daya pendorong dari dalam diri individu, (2)  motif merupakan penyebab terjadinya aktivitas, dan (3) motif diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian motif merupakan  daya pendorong dari dalam diri individu sebagai penyebab terjadinya aktivitas, yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu.

Kelompok Kerja Guru (KKG) adalah suatu wadah bagi guru yang bergabung dalam organisasi gugus sekolah yang bertujuan menjadikan guru lebih profesional dalam upaya peningkatan pendidikan Sekolah Dasar (SD) melalui pendekatan sistem pembinaan profesional dan kegiatan belajar mengajar aktif. Kelompok Kerja Guru (KKG) merupakan bengkel dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan belajar mengajar. Dalam kaitanya dengan hal tersebut, guru dikelompokan dalam wadah Kelompok Kerja Guru (KKG) sesuai dengan minat masing masing. Ada kelompok yang didasarkan atas bidang studi ada juga kelompok yang didasarkan atas kelas sesuai dengan status guru sebagai guru kelas.

Melalui wadah KKG inilah guru dalam suatu gugus sekolah berkumpul, berdiskusi membicarakan hal yang berkaitan dengan tugas mengajar/mendidik. Kelompok Kerja Guru (KKG) mengadakan pertemuan berkala yang berfungsi untuk meningkatkan mutu kegiatan belajar mengajar.

Dari fenomena yang ditemui di lapangan , mayoritas Peserta Kelompok Kerja Guru (KKG) hadir dalam setiap pelaksanaan Kelompok Kerja Guru (KKG), meski begitu ada beberapa peserta Kelompok Kerja Guru (KKG) yang hadir setelah jam pelaksanaan Kelompok Kerja Guru (KKG) dimulai, peserta Kelompok Kerja Guru (KKG) terlihat tidak aktif dalam pelaksanaan Kelompok Kerja Guru (KKG), narasumber dalam pelaksanaan Kelompok Kerja Guru (KKG) berasal dari perangkat gugus, dan narasumber menyajikan materi dengan metode ceramah dan diskusi.

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan dua bentuk metode penelitian. Pertama, penulis menggunakan metode penelitian library research, melalui penelitian ini penulis berusaha mengkaji buku-buku serta tulisan ilimiah yang berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam proposal tesis ini. Kedua, menggunakan penelitian field research, yaitu penelitian yang dilakukan secara langsung ke Gugus Sekolah Inti III Kecamatan Long Ikis. Teknik pengumpulan data yang penulis lakukan yaitu melalui wawancara yang diberikan kepada para guru yang tergabung dalam Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus Sekolah Inti III Kecamatan Long Ikis yang dipilih secara acak, kemudian dengan observasi wawancara dan dengan studi dokumentasi. Selanjutnya penulis menyimpulkan hasil penelitian dalam bentuk analisis interpretasi data.

Kata kunci : Profesionalisme Guru, Motivasi Guru, dan Pertemuan Kelompok Kerja Guru (KKG).

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, aspek utama yang ditentukan adalah kualitas guru. Untuk itu, upaya awal yang dilakukan dalam peningkatan mutu pendidikan adalah kualitas guru. Kualifikasi pendidikan guru sesuai dengan prasyarat minimal yang ditentukan oleh syarat-syarat seorang guru yang professional.

Guru profesional yang dimaksud adalah guru yang berkualitas, berkompetensi, dan guru yang dikehendaki untuk mendatangkan prestasi belajar serta mampu mempengaruhi proses belajar mengajar siswa yang nantinya akan menghasilkan prestasi belajar siswa yang baik

Kamal Muhammad ‘Isa mengemukakan : bahwa guru atau pendidikan adalah pemimpin sejati, pembimbing dan pengarah yang bijaksana, pencetak para tokoh dan pemimpin umat. Adapun pengertian guru menurut Undang-Undang No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yakni sebagaimana tercantung dalam Bab I Ketentuan Umum pasal 1 ayat (1) sebagai berikut : guru adalah pendidikan profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan dasar dan menengah. Selanjutnya Moh Uzer Usman dalam bukunya menjadi Guru Profesional mendefinisikan bahwa : guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal.

Pendapat lain dikemukakan oleh Asrorun Ni’am Sholeh dalam buku yang berjudul Membangun Profesionalisme Guru, mengungkapkan bahwa : dalam proses pendidikan, guru tidak hanya memjalankan fungsi alih ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi juga berfungsi untuk menanamkan nilai (values), serta membangun karakter (character bulding) peserta didik secara berkelanjutan. Dalam terminology Islam, guru diistilahkan dengan murabby, satu akar kata dengan rabb yang berarti Tuhan. Jadi fungsi dan peran guru dalam sistem pendidikan merupakan salah satu manifestasi dari sifat ketuhanan. Demikian mulia posisi guru, sampai-sampai Tuhan, dalam pengertian rabb mengidentifikasi diri-Nya sebagai rabbul amalin “Sang Maha Guru”, “Guru seluruh jagad raya”. Untuk itu, kewajiban pertama yang dibebankan setiap hamba sebagai murid. “Sang Maha Guru” adalah belajar, mencari pengetahuan. Setelah itu, setiap orang yang telah mempunyai ilmu pengetahuan memiliki kewajiban untuk mengajarkannya kepada orang lain. Dengan demikian, profesi mengajar adalah sebuah kewajiban yang merupakan manifestasi dari ibadah. Sebagai konsekuensinya, barang siapa yang menyembunyikan sebuah pengetahuan maka ia telah melangkah kaki menuju jurang api neraka.

Menanggapi apa yang telah dikemukakan oleh Asrorun Ni’am Shaleh, penulis memahami bahwa profesi mengajar adalah suatu pekerjaan yang memiliki nilai kemuliaan dan ibadah. Mengajar adalah suatu kewajiban bagi setiap orang yang memiliki pengetahuan. Selanjutnya, mengingat mengajar adalah merupakan kewajiban bagi orang yang memiliki pengetahuan, maka sudah sepantasnya bagi orang yang tidak menyampaikan ilmu pengetahuannya maka akan berakibat dosa bagi dirinya.

Selanjutnya Asrorun Ni’am Sholeh mengatakan bahwa di sisi lain, profesi mengajar merupakan kewajiban tersebut, hanya dibebankan kepada setiap orang yang berpengetahuan. Dengan kata lain, profesi mengajar harus didasarkan pada adanya kompetensi dengan kualifikasi akademik tertentu. Mengajar, bagi seseorang yang tidak mempunyai kempetensi profesional untuk itu justru akan berbuah dosa. Kemudian, “apabila sesuatu dilakukan oleh sesuatu yang bukan ahlinya, maka tunggunlah suatu kehancurannya”. Penggalan hadits Rasulullah SAW, ini seolah memberikan warning bagi guru yang tidak memenuhi kompetensi profesionalnya.

Dari penjelasan yang dikemukakan Asrorun Ni’am Sholeh, penulis dapat menyimpulkan bahwa profesi mengajar merupakan kewajiban yang hanya dibebankan kepada orang yang berpengetahuan. Dengan demikian, profesi mengajar harus didasarkan pada adanya kompetensi dan kualifikasi tertentu bagi setiap orang yang hendak mengajar.

Menurut Asrorun Na’am Sholeh, secara konseptual, deskripsi dua kondisi di atas memberikan dua hal prinsip dalam konteks membicarakan mengenai profesi guru dan dosen. Pertama, adanya semangat keterpanggilan jiwa, pengabdian, dan ibadah. Profesi pendidikan merupakan profesi yang mempunyai kekhususan dalam membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dan memerlukan keahlian, idealisme, kearifan, dan keteladanan melalui waktu yang panjang. Kedua adanya prinsip profesionalitas, keharusan adanya kompetensi dan kualifikasi akademik yang dibutuhkan, serta adanya penghargaan terhadap profesi yang diemban. Maka prinsip idealisme dan keterpanggilan jiwa serta prinsip profesionalitas harus mendasari setiap perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat guru dan dosen. Dengan demikian  profesi guru dan dosen merupakan profesi tertutup yang harus sejalan dengan prinsip-prinsip idealisme dan profesionalitas secara berimbang. Jangan sampai akibat pada perjuangan dan penonjolan aspek profesionalisme berakibat perciptaan gaya hidup materialisme dan pragmatisme yang menafikan idealisme dan keterpanggilan jiwa.

Secara konseptual, unjuk kerja guru menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Johnson, sebagaimana yang dikutif oleh Martinis Yamin mencakup tiga aspek, yaitu ; (a) kemampuan profesional, (b) kemampuan sosial, (c) kemampuan personal (pribadi).

Menyadari akan pentingnya profesionalisme dalam pendidikan, maka Ahmad Tafsir mendefinisikan bahwa profesionalisme adalah paham yang mengajarkan bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan oleh orang yang profesional.

Akan tetapi melihat realita yang ada, keberadaan guru profesional sangat jauh dari apa yang dicita-citakan. Menjamurnya sekolah-sekolah yang rendah mutunya memberikan suatu isyarat bahwa guru profesional hanyalah sebuah wacara yang belum teralisasi secara merata dalam seluruh pendidikan yang ada di Indonesia. Hal itu menimbulkan suatu keprihatian yang tidak hanya datang dari kalangan akademisi, akan tetapi orang awam sekalipun ikut mengomentari ketidakberesan pendidikan dan tenaga pengajar yang ada. Kenyataan tersebut menggugah kalangan akademisi, sehingga mereka membuat perumusan untuk meningkatkan kualifikasi guru melalui pemberdayaan dan peningkatan profesionalisme guru dari pelatihan, baik dari pelatihan regular yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan atau juga lewat Kelompok Kerja Guru (KKG) sampai dengan instruksi agar guru memiliki kualifikasi pendidikan Strata 1 (S1).

Yang menjadi permasalahan baru adalah, guru hanya memahami instruksi tersebut hanya sebagai formalitas untuk memenuhi tuntutan kebutuhan yang sifatnya administratif. Sehingga kompetensi guru profesional dalam hal ini tidak menjadi prioritas utama. Dengan pemahaman tersebut, kontribusi untuk siswa menjadi kurang terperhatikan bahkan terabaikan.

Masalah lain yang ditemukan penulis adalah, minimnya tenaga pengajar dalam suatu lembaga pendidikan juga memberikan celah seorang guru untuk mengajar yang tidak sesuai dengan keahliannya. Sehingga yang menjadi imbasnya adalah siswa sebagai anak didik tidak mendapatkan hasil pembelajaran yang maksimal. Padahal siswa ini adalah sasaran pendidikan yang dibentuk melalui bimbingan, keteladanan, bantuan, latihan, pengetahuan yang maksimal, kecakapan, keterampilan, nilai, sikap yang baik dari seorang guru. Maka hanya dengan seorang guru profesional hal tersebut dapat terwujud secara utuh, sehingga akan menciptakan kondisi yang menimbulkan kesadaran dan keseriusan dalam proses kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, apa yang disampaikan seorang guru akan berpengaruh terhadap hasil pembelajaran. Sebaliknya, jika hal di atas tidak terealisasi dengan baik, maka akan berakibat ketikpuasan siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar.

Tidak kompetennya seorang guru dalam menyampaikan bahan ajar secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap hasil pembelajaran. Karena proses pembelajaran tidak hanya dapat tercapai dengan keberanian, melainkan faktor utamanya adalah kompetensi yang ada dalam pribadi seorang guru. Keterbatasan pengetahauan guru dalam penyampaian materi baik dalam hal metode ataupun penunjang pokok pembelajaran lain akan berpengaruh terhadap pembelajaran. Untuk itu sangat dibutuhkan motivasi yang sangat tinggi untuk menigkatkan profesionalisme tersebut.

Tidak bisa dipungkiri setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia dalam hal ini guru selalu dimulai dengan motivasi atau niat. Keadaan seperti inilah yang diharapkan agar guru dapat bertahan dengan profesinya. Karena  profesi guru adalah pilihan bukan pelarian. Oleh sebab itu menjadi seorang guru sekalian menjadi guru yang baik dan handal, walaupun belum meliputi seluruh standar kebaikan dan standar ideal menjadi seorang guru.

Guru sebagai tenaga kependidikan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan tujuan pendidikan, karena guru yang langsung bersinggungan dengan peserta didik, untuk memberikan bimbingan yang akan menghasilkan tamatan yang diharapkan. Guru merupakan sumber daya manusia yang menjadi perencana, pelaku dan penentu tercapainya tujuan pendidikan. Untuk itu dalam menunjang kegiatan guru diperlukan iklim sekolah yang kondusif dan hubungan yang baik antar unsur-unsur yang ada di sekolah antara lain kepala sekolah, guru, tenaga administrasi dan siswa. Serta hubungan baik antar unsur-unsur yang ada di sekolah dengan orang tua murid/masyarakat.

Berdasarkan uraian di atas, maka kinerja guru harus selalu ditingkatkan mengingat tantangan dunia pendidikan untuk menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing di era global semakin ketat. Kenerja guru (performance) merupakan hasil yang dicapai oleh guru dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan serta penggunaan waktu. Upaya-upaya untuk meningkatkan kinerja itu biasanya dilakukan dengan cara memberikan motivasi di samping cara-cara yang lain.

Winardi (2001: 207) menyatakan motivasi merupakan suatu kekuatan potensial yang ada pada diri seseorang manusia, yang dapat dikembangkannya sendiri, atau dikembangkan oleh sejumlah kekuatan luar yang pada intinya sekitar imbalan moneter, dan imbalan non moneter, yang dapat mempengaruhi hasil kinerjanya secara positif atau negatif, hal mana tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi orang yang bersangkutan. Motivasi juga bukan merupakan hal yang mudah dilakukan, karena seorang pimpinan sulit untuk mengetahui kebutuhan (needs) dan keinginan (wants) yang diperlukan oleh seorang bawahan dalam menyelesaikan pekerjaannya. Motivasi bukan timbul dari dalam diri manusia saja melainkan juga dari kekuatan-kekuatan lingkungan yang mempengaruhi individu untuk melakukan sesuatu berdasarkan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya untuk dicapai. Dorongan tersebut dapat berdampak positif maupun negatif bagi individu kalau tidak diarahkan, baik oleh diri sendiri maupun orang lain yang juga mengetahui potensi-potensi yang dimiliki oleh individu tertentu. Dorongan ke arah positif akan meningkatkan hasil yang optimal bagi diri sendiri maupun orang lain yang merupakan rekan kerja maupun yang berada di luar lingkungan kerja tersebut. Sebaliknya, kalau yang terjadi dorongan ke arah yang negatif maka yang  terjadi adalah kerugian kegiatan-kegiatan yang yang dijalankan baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain dan lingkungan sekitarnya sehingga dampak seperti ini secepatnya diarahkan kembali  ke arah demi kepentingan yang sebenarnya untuk kemajuan.

Ada berbagai macam motivasi dalam diri manusia yang tergantung kepada kebutuhan mana yang akan diutamakan. Apabila kebutuhan utama tersebut telah terpenuhi maka akan timbul kebutuhan lain yang sebelumnya dimiliki, sehingga akan berlanjut terus sampai kepada kebutuhan yang belum pernah dimiliki oleh orang lain. Artinya, manusia dapat saja menggunakan orang lain sebagai patokan terhadap suatu kebutuhan untuk memotivasi mencapai hal yang sama tetapi dapat juga untuk mencapai hal-hal lain karena berbeda terhadap sesuatu yang diinginkan. Manusia umumnya cendrung mendapat sesuatu yang sama atau berbeda dengan orang lain bila kondisi internal maupun kondisi eksternal mendukung ke arah tersebut. Hal ini yang secara tidak langsung menunjukkan kuatnya motivasi berupa kemampuan diri guna meraih apa yang pernah maupun yang belum pernah diraih oleh orang lain atau dengan kata lain bahwa individu tersebut juga mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu. Dengan demikian, motivasi yang diharapkan dari guru adalah bahwa fungsi dari motivasi tersebut dapat mempengaruhi kinerja guru. Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya gairah kerja guru, agar guru mau bekerja keras dengan menyumbangkan segenap kemampuan, pikiran, keterampilan untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Para guru mempunyai cadangan energi potensial, bagaimana energi tersebut akan dilepaskan atau digunakan pada kekuatan dorongan motivasi seseorang dan situasi serta peluang yang tersedia.

Dalam Hasibuan (2003:162-163), Mc.Clelland mengemukakan teorinya yaitu Mc. Clelland’s Achievement Motivation Theory atau Teori Motivasi Prestasi Mc. Clelland. Teori ini berpendapat bahwa karyawan mempunyai cadangan energi potensial. Bagaimana energi dilepaskan dan digunakan tergantung pada kekuatan dorongan motivasi seseorang dan situasi serta peluang yang tersedia. Energi akan dimanfaatkan oleh karyawan karena dorongan oleh : (1) kekuatan motif dan kekuatan dasar yang terlibat, (2) harapan keberhasilannya, dan (3) nilai insentif yang terletak pada tujuan. Menurut pendapat dari Maslow yang dikenal dengan “Teori Kebutuhan Manusia” adalah bahwa seseorang mempunyai lima (5) tipe kebutuhan dan kebutuhan ini akan digunakan untuk menyusun hirarki. Artinya, kebutuhan dibangun atas dasar dari bawah ke atas atau dengan kata lain kebutuhan harus dipenuhi sebelum dipicu oleh kebutuhan selanjutnya. Adapun kebutuhan tersebut adalah  :

  1. Kebutuhan Fisiologis
  2. Kebutuhan Keamanan
  3. Kebutuhan Sosial
  4. Kebutuhan Penghargaan

5.Kebutuhan Aktualisasi diri

Apabila kebutuhan-kebutuhan tersebut terpenuhi, maka seseorang akan termotivasi dalam melakukan serta menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya termasuk profesi sebagai guru. Teori ini menyatakan bahwa seseorang berprilaku karena didorong oleh adanya keinginan untuk memperoleh pemenuhan dalam bermacam-macam kebutuhan. Berbagai kebutuhan yang diinginkan oleh seseorang berjenjang, artinya apabila kebutuhan pada jenjang pertama telah dapat dipenuhi, maka kebutuhan jenjang kedua akan mengutamakan apabila kebutuhan pada jenjang kedua telah dapat dipenuhi, maka kebutuhan jenjang ketiga akan menonjol, demikian seterusnya sampai dengan kebutuhan jenjang kelima. Jika kebutuhan guru tersebut terpenuhi berarti guru memperoleh dorongan dan daya gerak untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Ini berarti kinerja guru dapat tercapai dengan baik. Kinerja yang tercapai dengan baik itu terlihat dari guru yang rajin hadir di sekolah dan rajin dalam mengajar, guru mengajar dengan sungguh-sungguh menggunakan rencana pelajaran, guru mengajar dengan semangat dan senang hati, menggunakan media dan metode mengajar yang sesuai dengan materi pelajaran, melakukan evaluasi pengajaran dan menindaklanjuti hasil evaluasi. Apa yang dilakukan oleh guru ini akan berdampak kepada keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar.

Dengan motivasi yang tinggi diharapkan nanti dapat menjadi guru yang profesional. Profesionalisme guru sangat tergantung pada cita-citanya saat memutuskan diri untuk menjadi guru. Oleh sebab itu perlu dibina dalam suatu organisasi yang disebut dengan Kelompok Kerja Guru (KKG). Dengan upaya ini masing-masing guru dapat memotivasi dirinya untuk bertanggung jawab atas profesi yang telah dipilihnya, yaitu sebagai seorang guru yang profesional.

Keberadaan manusia di muka bumi ini mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk memimpin dan mengelola segala sesuatu yang ada di alamnya. Agar tanggung jawab dan amanat itu dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya sesuai dengan ketentuan Penciptanya, maka manusia diberi kelengkapan dengan potensi, akal dan nafsu yang berfungsi sebagai pengontrol agar tidak terjadi penyelewengan dari semua ketentuan Allah.

Untuk mengembangkan potensi akan tersebut diperlukan pendidikan dalam bentuk apapun, baik itu formal, informal, atau non formal, serta dari jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, atau perguruan tinggi. Mengikuti perkembangan zaman yang semakin maju, pendidikan juga diharuskan untuk fleksibel dalam memenuhi kebutuhan akan peningkatan kualitas pendidikan tersebut.

Peningkatan mutu pendidikan khususnya sekolah dasar merupakan salah satu fokus perhatian dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Sekolah Dasar adalah satuan pendidikan formal pertama yang mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan sikap dan kemampuan dasar serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar. Dalam melaksanakan tanggung jawab tersebut komponen sekolah mempunyai peranan dalam menentukan tujuan yang ditetapkan, untuk itu kualitas profesi tenaga kependidikan perlu ditingkatkan.

Sekolah dasar sebagai suatu lembaga pendidikan menganut sistem guru kelas, namun pada gilirannya setiap guru harus mampu melaksanakan tugas mengajar pada setiap jenjang kelas. Hal tersebut secara tidak tersurat berlaku di sekolah dasar mengingat setiap tahun diperlukan rotasi memegang kelas baik sebagai akibat penerapan sistem rotasi sebagai upaya penyegaran dalam melaksanakan tugas.

Guru memegang peranan penting dalam kegiatan pembelajaran guna menentukan dan mengarahkan segala kegiatan  belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar tersebut diarahkan dan diupayakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah direncanakan, bukan sekadar formalitas saja akan tetapi harus diikuti dengan kemampuan pendidik itu sendiri sesuai tugas-tugasnya. Seorang guru yang beriteraksi dengan anak didik di sekolah tidak hanya menyampaikan ilmu pengetahuan melainkan juga menanamkan sikap serta nilai-nilai moral dan keterampilan yang baik. Keberhasilan suatu proses belajar mengajar erat kaitannya dengan pola dan strategi pendidikan yang diterapkan oleh guru dalam mengorganisasikan dan mengelola kelas. Seorang guru yang berinteraksi dengan anak didik di sekolah tidak hanya menyampaikan ilmu pengetahuan melainkan juga menanamkan sikap serta nilai-nilai yang baik

Sehubungan dengan hal tersebut maka wawasan, pengetahuan, serta keterampilan mengajar guru harus terus ditingkatkan melalui pola pembinaan profesional baik secara vertical maupun horizontal. Mengingat hal tersebut, maka perlu adanya suatu sistem pembinaan profesional dalam suatu pola dan mekanisme yang lebih dinamis dengan dilandasi suatu cita-cita untuk menjadi  lebih baik.

Dalam sistem pembinaan ini terdapat berbagai program atau pola pendekatan yang mampu meningkatkan dan mendorong guru untuk belajar, baik sikap, kemampuan, pengetahuan maupun keterampilan sehingga memberikan dampak positif dalam melaksanakan proses belajar mengajar yang akhirnya dapat meningkatkan profesional guru, salah sistem pembinaan profesional tersebut adalah program KKG (Kelompok Kerja Guru)

Fattah (2000:60-61), mengatakan bahwa kemampuan profesional guru (professional capacity) terdiri dari kemampuan intelegensi, sikap, dan prestasinya dalam bekerja. Dalam berbagai penelitian, kemampuan profesional guru sering ditunjukkan dengan tinggi rendahnya hasil pengukuran kemampuan menguasai materi pelajaran yang diajarkan. Secara sederhana, kemampuan profesional ini bisa ditunjukkan dengan kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan tentang materi pelajaran yang diajarkan termasuk upaya untuk selalu memperkaya dan meremajakan pengetahuan tersebut. Salah satu upayanya, dapat melalui kegiatan dalam Kelompok Kerja Guru (KKG).

Depdikbud dalam bukunya Pedoman Pengelolaan Gugus Sekolah menyatakan KKG berfungsi: (1) menyusun kegiatan KKG satu tahun dibimbing pengawas, Tutor dan guru pemandu; (2) Menampung dan memecahkan masalah yang dihadapi guru dalam kegiatan belajar-mengajar melalui pertemuan, diskusi, contoh mengajar, demonstrasi penggunaan dan pembuatan alat peraga. Sedangkan tujuan dari KKG adalah membantu meningkatkan kemampuan guru secara profesional dalam melaksanakan tugasnya yaitu keberhasilan kegiatan belajar mengajar (Depdikbud 1995/1996:17-21).

KKG adalah suatu wadah bagi guru yang bergabung dalam organisasi gugus sekolah yang bertujuan menjadikan guru lebih profesional dalam upaya peningkatan pendidikan Sekolah Dasar melalui pendekatan sistem pembinaan dan kegiatan belajar aktif. KKG merupakan bengkel dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan belajar mengajar (KBM).

Dalam kaitannya dengan hal tersebut, guru dikelompokkan dalam wadah KKG sesuai dengan minat masing-masing. Ada kelompok yang didasarkan atas bidang studi ada juga kelompok yang didasarkan atas kelas sesuai dengan status guru sebagai guru kelas.

Melalui wadah KKG ini guru dalam suatu gugus sekolah berkumpul, berdiskusi membicarakan hal yang berkaitan dengan tugas mengajar atau mendidik. KKG mengadakan pertemuan berkala yang berfungsi untuk meningkatkan mutu kegiatan belajar mengajar (KBM).

Dari fenomena yang ditemui di lapangan, mayoritas peserta Kelompok Kerja Guru (KKG) hadir dalam setiap pelaksanaan Kelompok Kerja Guru (KKG), meski begitu ada beberapa peserta Kelompok Kerja Guru (KKG) yang hadir setelah jam pelaksanaan Kelompok Kerja Guru (KKG) dimulai, peserta Kelompok Kerja Guru (KKG) terlihat tidak aktif dalam pelaksanaan Kelompok Kerja Guru (KKG), narasumber dalam pelaksanaan Kelompok Kerja Guru (KKG) berasal dari perangkat gugus, dan narasumber menyajikan materi dengan metode ceramah dan diskusi. Melihat gambaran fenomena Kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) tersebut di atas sangat diperlukan motivasi yang sangat besar baik dari dirinya sendiri (internal) dan dari lingkungannya sendiri, atasan, teman-teman seperjuangan (Eksternal) untuk meningkatkan profesionalisme.

Melihat wacana di atas, sangat terlihat bahwa profesionalisme guru dapat dibina di suatu kelompok, yaitu Kelompok Kerja Guru (KKG). Atas dasar wacara yang ada di lapangan, maka penulis ingin membuktikan apakah persepsi yang ada di kalangan masyarakat mengenai masalah profesionalisme guru itu benar atau sebaliknya, dengan melakukan penelitian.

Berdasarkan dugaan penulis, pada umumnya kondisi sekolah yang ada masih terdapat guru yang belum profesional. Kempetensi guru yang ada di sekolah tersebut belum sepenuhnya memenuhi kreteria sebagaimana yang diinginkan oleh persyaratan guru profesional. Oleh karena itu, pemerintah mengadakan program sertifikasi keguruan dengan mensyaratkan pengajar memiliki kualifikasi pendidikan minimal Strata 1 (S1) sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dan membahasnya dalam bentuk tesis yang berjudul “ UPAYA PENINGKATAN PROFESIONALISME DAN MOTIVASI GURU GUGUS SEKOLAH INTI III KECAMATAN LONG IKIS MELALUI PERTEMUAN KELOMPOK KERJA GURU (KKG)”

Alasan penulis mengambil judul tesis ini adalah : Pertama, penulis sangat tertarik dengan pembahasan yang berkaitan dengan masalah profesionalisme guru. Karena penulis berpendapat bahwa profesinalisme guru dalam pendidikan sangat berpengaruh terhadap proses kegiatan belajar mengajar. Kedua, penulis berpendapat bahwa kegagalan pendidikan di Indonesia salah satu penyebabnya adalah tingkat profesionalisme guru yang kurang baik. Untuk itu, penulis ingin mengetahui pembenaran asumsi tersebut melalui penelitian langsung ke Gugus Sekolah Inti III Kecamatan Long Ikis. Ketiga, berawal dari kasus yang ada di wilayah Kabupaten Paser yang berkaitan dengan adanya instruksi pemerintah dalam penyetaraan standar kualifikasi tenaga pendidik minimal S1. Penulis melihat, instruksi tersebut ditanggapi tenaga pendidik hanya sebagai pemenuhan administrasi mengikuti sertifikasi jabatan guru yang tanpa memperhatikan peningkatan mutu atau tingkat profesionalisme dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian apakah tenaga pengajar Gugus Sekolah Inti III Kecamatan Long Ikis termasuk guru yang mementingkan tingkat profesionalisme ataukah tidak. Keempat, penulis tertarik terhadap kegiatan pertemuan Kelompok Kerja Guru (KKG). Penulis ingin mengetahui apakah ada pengaruhnya terhadap motivasi guru dan peningkatan profesionalisme guru. Kelima, adanya tenaga pengajar yang mengajar tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya akan berdampak terhadap kualitas pendidikan. Penulis ingin mengetahui apakah tenaga pengajar di Gugus sekolah Inti III Kecamatan Long Ikis mengalami masalah yang sama atau tidak. Namun itu hanyalah gambaran secara umum, bagaimana dengan realitanya di lapangan, dan bagaimana pandangan guru selaku subjek dari program Kelompok Kerja Guru (KKG) ini.

Untuk itu penulis memilih Gugus Sekolah Inti III Kecamatan Long Ikis, sebagai tempat menguji dan mengkaji lebih jauh apakah peningkatan profesionalisme dan motivasi guru dapat dibina dalam pertemuan Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus sekolah Inti III Kecamatan Long Ikis.

BAB II

KERANGKA BERPIKIR.

Profesinalisme berasal dari kata profesion yang menagdung arti pekerjaan yang memerlukan keahlian yang dapat diperoleh melalui jenjang pendidikan atau latihan tertentu.

Berbicara masalah profesionalisme, guru adalah termasuk suatu profesi yang memerlukan keahlian tertentu dan memiliki tanggung jawab yang harus dikerjakan secara profesional. Kerena guru adalah individu yang memiliki tanggung jawab moral terhadap kesuksesan anak didik yang berada di bawah pengawasannya, maka keberhasilan siswa sangat dipengaruhi oleh kinerja yang dimiliki seorang guru. Oleh karena itu, guru profesional diharapkan akan memberikan sesuatu yang positif berkenaan dengan keberhasilan siswa.

Dalam pelaksanaannya, tanggung jawab guru tidak hanya terbatas kepada proses dalam pentransperan ilmu pengetahuan. Banyak hal yang menjadi tanggung jawab guru, yang salah satunya adalah memiliki kompetensi idealnya sebagaimana guru profesional. Kompetensi di sini meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan profesional, baik yang bersifat pribadi, sosial , dan akademis. Dengan kata lain, guru yang profesional ini memiliki keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga dia mampu melaksanakan tugasnya secara maksimal dan terarah.

Dalam pelaksanaan kegiatan belajar, seorang guru profesional harus terlebih dahulu mampu merencanakan program pengajaran. Kemudaian melaksanakan program pengajaran dengan baik dan mengevaluasi hasil pembelajaran sehingga mampu memcapai tujuan pembelajaran. Selain itu, seorang guru profesional akan menghasilkan anak didik yang mampu menguasai pengetahuan baik kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Dengan demikian, seorang guru dikatakan profesional apabila memiliki motivasi yang kuat untuk meningkatkan dan mengembangkan profesionalismenya.  Demikian pula guru dikatakan memiliki motivasi yang kuat apabila didukung  oleh motivasi  yang kuat dari dalam dirinya (instrinsik) dan motivasi yang berasal dari luar dirinya (ekstrinsik).

Motivasi bukan timbul dari dalam diri manusia saja melainkan juga dari kekuatan-kekuatan lingkungan yang mempengaruhi individu untuk melakukan sesuatu berdasarkan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya untuk dicapai. Dorongan tersebut dapat berdampak positif maupun negatif bagi individu kalau tidak diarahkan, baik oleh diri sendiri maupun orang lain yang juga mengetahui potensi-potensi yang dimiliki oleh individu tertentu. Dorongan ke arah positif akan meningkatkan hasil yang optimal bagi diri sendiri maupun orang lain yang merupakan rekan kerja maupun yang berada di luar lingkungan kerja tersebut. Sebaliknya, kalau yang terjadi dorongan ke arah yang negatif, maka yang  terjadi adalah kerugian kegiatan-kegiatan yang yang dijalankan baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain dan lingkungan sekitarnya sehingga dampak seperti ini secepatnya diarahkan kembali  ke arah demi kepentingan yang sebenarnya untuk kemajuan.

Sebuah Situasi yang Memotivasi

Sumber: Winardi. (2002:41)

Menunjukkan sebuah situasi yang memotivasi, di mana motif-motif seorang individu, diarahkan ke arah pencapaian tujuan. Motif terkuat, menimbulkan prilaku, yang bersifat diarahkan kepada tujuan atau aktivitas tujuan. Mengingat bahwa tidak semua tujuan dapat dicapai, maka para individu tidak selalu mencapai aktivitas tujuan, terlepas dari kekuatan motif yang ada. Jadi dengan demikian aktivitas tujuan dinyatakan dalam gambar berupa garis putus-putus.

Demi mencapai peningkatan profesionalisme dan motivasi guru salah satunya dapat dilakukan pada kegiatan pertemukan Kelompok kerja guru. Kelompok kerja guru adalah sebuah forum/organisasi atau perkumpulan guru-guru kelas dan mata pelajaran yang mempunyai kegiatan khusus memberikan informasi-informasi pendidikan dalam rangka meningkatkan kualitas pribadi guru dalam proses belajar mengajar.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

  1. Tujuan Khusus Penelitian

Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah :

  1. Mengidintifikasi berbagai permasalahan profesionalisme guru, motivasi guru, dan kelompok kerja guru (KKG).
  2. Mengkaji berbagai persoalan tentang permasalahan profesionalisme guru, motivasi guru, dan kelompok kerja guru (KKG).
  3. Alternatif mengatasi permasalahan profesionalisme guru, motivasi guru, dan kelompok kerja guru (KKG).
  1. Pendekatan Penelitian

Fokus penelitian ini adalah untuk mengungkap sejauh mana  peningkatan profesionalisme dan motivasi guru melalui pertemuan  pertemun Kelompok Kerja Guru (KKG) pada Gugus Sekolah Inti III Kecamatan Long Ikis. Bagaimana orang-orang yang terlibat di dalam kelompok kerja guru (KKG) profesionalisme dan motivasinya dapat ditingkatkan dalam pertemuan Kelompok Kerja Guru (KKG) tersebut. Oleh karena itu untuk mendapatkan data yang lengkap, mendalam dan memberi jawaban yang tepat terhadap masalah yang akan diteliti digunakan penelitian kualitatif.

Bogdan dan Biklen (1982) mengemukakan beberapa karakteristik tentang penelitian kualitatif, antara lain :

Qualitative research has the natural setting as the direct of data and the researcher is the key instrument ;

Qualitative research is descriptive ;

Qualitative researchers are concerned with process rather than simply with outcame of products;

Qualitative researchers tend to analyze their data inductiyely ;

“Meaning” is of essential concern to qualitative approach.

Gambaran karakteristik yang dijelaskan tersebut sesuai dengan maksud dari penelitian ini, karena yang amati adalah konsep peningkatan profesionalisme dan motivasi guru melalui pertemuan kelompok kerja guru (KKG) pada Gugus Sekolah Inti III Kecamatan Long Ikis. Hal ini apabila mengunakan pendekatan kuantitatif kuarang sesuai karena penelitian ini bersifat independent,  tidak terintegrasi langsung dengan subyek sehingga akan sangat sulit sekali diungkapkan proses kegiatan yang berlangsung.

Nasution (1992) mengemukakan bahwa “Pada hakikatnya penelitian kualitatif mengamati orang dalam lingkungannya, berinteraksi dengan mereka dan berusaha memahami bahasa serta tafsiran mereka sendiri tentang dunia yang ada di sekitarnya.

Dengan menggunakan metode kualitatif, dapat ditemukan data yang tidak teramati dan terukur secara kuantitatif, seperti nilai, sikap mental, kebiasaan, keyakinan dan budaya yang dianut oleh seseorang atau kelompok dalam lingkungan tertentu. Demikian pula Mc. Cracken (1988) dalam Julia Brannen (1997) mengemukakan : “ Di dalam penelitian kualitatif konsep dan kategorilah yang dipersoalkan bukan kejadian atau frekuensinya. Dengan kata lain penelitian kualitatif tidak meneliti lahan kosong, tetapi ia menggalinya”.

Dalam kaitan ini Hamaesly dan Atkinson yang dikutif oleh Silverman (1993), mengemukakan bahwa penelitian kualitatif telah berkembang dalam beberapa versi, dan versi terakhir mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

  1. 1. A preference for “natural” setting as primary source of data;
  2. 2. A fidelity to the phenomena under study his requires a cultural description of meaning of phenomena to participant ;
  3. 3. The use of an inductivity methodology which avoid the premature testing of hypothesis.

Dalam hal ini peneliti akan mengumpulkan data dalam situasi wajar, langsung apa adanya tanpa dipengaruhi oleh unsur-unsur lain dari luar lingkungan. Untuk itu peneliti berhubungan langsung dengan situasi dan sumber data yang akan diselidiki. Peneliti tidak menggunakan angka-angka, tetapi mengumpulkan data deskriptif dalam bentuk laporan dan uraian untuk mencari makna, walaupun tidak menolak angka-angka sebagai penunjang penelitian. Penelitian kualitatif menggunakan pendekatan analisis induktif dengan mengesampingkan hipotesis awal penelitian, tetapi mencari pola, bentuk tema-tema untuk dapat mengungkapkan data secara sistematik.

  1. Latar Penelitian

Penelitian ini mengambil tempat di Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus Sekolah Inti III Kecamatan Long Ikis. Adapun penelitian akan dilaksanakan pada bulan Mei 2010 sampai dengan Juli 2010.

  1. Subyek Penelitian

Sesuai dengan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini, maka yang ditetapkan sebagai subyek penelitian adalah guru-guru yang tergabung dalam Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus Sekolah Inti III Kecamatan Long Ikis dan seluruh komponen yang terlibat dengan Organisasi Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus Sekolah Inti III Kecamatan Long Ikis.

  1. Data dan Sumber Data
    1. Data primer yang dihasilkan dalam penelitian ini anatara lain :

a.  Data hasil wawancara dengan pengurus KKG dan guru.

b.  Dokumentasi dari kegiatan dan pertemuan KKG.

c. Catatan observasi tindakan (proses petemuan dan kegiatan), baik observasi untuk guru maupun pengurus KKG

  1. Data Sekunder yang dalam penelitian ini adalah :
  2. Hasil kegiatan dan laporan kegiatan KKG sebelum penelitian dilaksanakan yang diambil dari pertemuan-pertemuan yang dilakukan sejak awal penelitian hingga beberapa kali pertemuan dengan kondisi yang sama.
  3. Laporan pengamatan hasil wawancara dengan guru yang tidak secara langsung dalam pertemuan Kelompok Kerja Guru (KKG).
  1. Prosedur Pengumpulan dan Perekaman data

Kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif selain sebagai perencana sekaligus juga sebagai pelaksana pengumpul data atau sebagai instrument (Moeloeng, 1998:121). Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan observasi, wawancara dan dekumentasi.

  1. Observasi

Tujuan dari observasi adalah dengan mendeskripsikan setting yang diamati, tempat kegiatan orang-orang yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut dan makna apa yang diamati menurut perspektif pengamat (Patton, 1990:202).

Menurut Guba dan Lincoln (1981) ada beberapa alasan mengapa dalam penelitian kualitatif, pengamatan dimanfaatkan secara optimal, karena :

  1. Teknik pengamatan didasarkan atas pengalaman secara langsung.
  2. Teknik pengamatan sangat dimungkinkan pengamat melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku dan kejadian seperti keadaan yang sebenarnya.
  3. Pengamatan memungkinkan peneliti mencatat peristiwa dalam situasi yang berkaitan dengan pengetahuan yang langsung diperoleh dari data lapangan.
  4. Pengamatan merupakan jalan terbaik untuk mengecek kepercayaan data.
  5. Teknik pengamatan memungkinkan peneliti memahami situasi-situasi yang rumit dan perilaku yang kompleks.
  6. Teknik pengamatan dapat dijadikan alat yang sangat bermanfaat ketika komunikasi lain tidak dimungkinkan.

Pengamatan dapat diklasifikasikan atas pengamatan melalui cara berperan serta dan yang tidak berperan serta (Moeloeng, 1998 : 126). Pada pengamatan berperan serta, pengamat melakukan dua peran sekaligus, yaitu sebagai pengamat dan sekaligus menjadi anggota resmi dari kelompok yang diamati. Sedangkan pengamatan tanpa berperan serta pengamat hanya melakukan satu fungsi, yaitu mengadakan pengamatan.

Pada penelitian ini penulis memposisikan sebagai pengamat yang berperan serta karena disamping sebagai peneliti, penulis juga secara resmi menjadi anggota Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus Sekolah Inti III Kecamatan Long Ikis.

  1. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan dilakukan antara peneliti yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moeloeng, 1998 : 135).

Patton (1990 : 135 -136) mengemukakan pilihan teknik wawancara, yaitu :

  1. Wawancara pembicara informal ( the informal conversational interview). Pertanyaan yang diajukan sangat tergantung pada pewawancara itu sendiri dan spontanitasnya dalam mengajukan pertanyaan. Wawancara dilakukan pada latar alamiah.
  2. Menggunakan petunjuk umum wawancara (the general interview guide approach). Wawancara dilakukan berdasar pada kerangka dan garis besar pokok-pokok yang dituangkan dalam pertanyaan disesuaikan dengan keadaan responden dalam konteks wawancara sebenarnya.
  3. Wawancara baku terbuka (the standardized open-ended interview). Wawancara ini menggunakan seperangkat pertanyaan baku. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan terjadinya bias-bias atau “kemencengan”.

Dalam penelitian ini teknik wawancara yang digunakan adalah teknik pertama dan kedua. Wawancara informal banyak digunakan dengan para guru yang tergabung dalam Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus Sekolah Inti III Kecamatan Long Ikis. Begitu juga terhadap mereka dilakukan wawancara dengan menggunakan panduan wawancara.

  1. Instrumen pengumpulan data

Penelitian dengan menggunakan metode kualitatif, asumsi yang digunakan dalam memandang realitas adalah bahwa realitas bersifat menyeluruh (holistic), tidak dapat dipisahkan-pisahkan ke dalam variable-variabel, seperti pada pandangan dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif. Peneliti mengutamakan pengamatan kejadian ada adanya, sehingga dalam metode penelitian ini tidak ada pilihan lain selain manusia sebagai instrument utama penelitian, seperti juga diungkapkan oleh Bodgan dan Biklen (1982) bahwa, “the researcher is key instrument”. Bentuk instrument lain mungkin digunakan dalam penelitian, tetapi unsur manusia adalah tetap merupakan instrument yang paling utama.

Dalam melakukan penelitian, pengamatan dilakukan secara langsung terhadap aktivitas guru pada Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus Sekolah Inti III Kecamatan Long Ikis.

  1. Prosedur pengumpulan data

Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan melalui : a) observasi (pengamatan) lapangan secara langsung untuk mendapatkan data sebenarnya, b) wawancara secara terbuka, tak berstruktur dan mendalam, serta mengutamakan pandangan dan pendirian responden, c) studi dokumentasi juga dilakukan untuk mendapatkan data yang tidak diperoleh melalui teknik lainnya. Subyek yang menjadi sumber informasi dipilih sesuai dengan focus dan tujuan penelitian.

Untuk meliput sumber data, dibutuhkan adanya informan yang dipilih guna memdapatkan informasi sebanyak mungkin sesuai dengan kemampuannya, sehingga diperoleh keadaan studi dalam konteks tertentu. Pemilihan informan dihentikan setelah variasi dan kedalaman informasi telah diperoleh secara maksimal, yaitu ditandai dengan tidak adanya variasi informasi baru yang diperoleh.

Metode wawancara digunakan guna memperoleh keterangan tentang kejadian yang oleh peneliti tidak dapat diamati sendiri secara langsung, baik itu terjadi di masa lampau ataupun karena tidak memungkinkan untuk hadir di tempat kejadian. Operasionalisasikan dilakukan di mengadakan wawancara secara mendalam kepada berbagai informan lain sehubungan dengan pokok masalah yang akan diteliti.

Dalam pelaksanaannya, pengumpulan data di lapangan menggunakan alat Bantu berupa alat rekam dan alat potret. Alat rekam yang digunakan adalah kamera, karena mungkin peneliti tidak mampu mencatat secara langsung di lapangan hasil awawncara dengan responden. Alat potret digunakan untuk mengambil gambar kejadian atau situasi yang dianggap penting dan sesuai dengan tujuan penelitian.

  1. Analisis Data

Penelitian kualitataif menekankan pada analisis secara induktif. Sehingga data yang dikumpulkan bukan untuk mendukung atau menolak hipotesis yang diajukan sebelum penelitian dilakukan, tetapi data dikumpulkan dan dikelompokkan dalam pola, tema atau kategori untuk selanjutnya ditarik suatu kesimpulan sementara dengan cermat dan hati-hati. Selanjutnya kesimpulan sementara dirumuskan secepat mungkin menjadi kisimpulan-kesimpulan yang kokoh, kuat, dan mengandung makna sebelum data tersebut tertumpuk. Kesimpulan tersebut bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian serta dapat dijadikan sebagai temuan-temuan penelitian yang bermanfaat.

Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan secara terus menerus selama pengumpulan data berlangsung sampai pada akhir penelitian atau penarikan kesimpulan. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui empat kegiatan utama, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.

  1. Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data.

Bagian ini memuat uraian tentang usaha-usaha peneliti untuk memperoleh keabsahan temuannya. Pemerikasan atau pengecekan keabsahan data dalam penelitian ini meliputi empat teknik, antara lain :

  1. Kredibilitas (credibility) yaitu kreteria untuk memenuhi nilai kebenaran dari data dan informasi yang dikumpulkan. Artinya, hasil penelitian harus dapat dipercaya oleh semua pembaca secara kritis dan dari responden sebagai informan. Untuk hasil penelitian yang kredibel, terdapat tujuh teknik yang diajukan yaitu : (a) perpanjangan kehadiran peneliti/pengamat (prolonged engagement), (b) pengamatan terus menerus (persistent observation), (c) triangulasi (triangulation), (d) diskusi teman sejawat (peer debriefing), (e) analisis kasus negatif (negative case analysis, (f) pengecekan atas kecukupan referensial (referencial adequacy checks), dan (g) pengecekan anggota (member checking). Untuk lebih jelasnya akan dibahas cara memperoleh tingkat kepercayaan hasil penelitian, yaitu :
    1. Memperpanjang masa pengamatan memungkinkan peningkatkan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan, bisa mempelajari kebudayaan dan dapat menguji informasi dari responden, dan untuk membangun kepercayaan para rensponden terhadap peneliti dan juga kepercayaan diri peneliti sendiri.
    2. Pengamatan yang terus menerus, untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang diteliti, serta memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.
    3. Triangulasi, pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut. Triangulasi juga bisa disebut sebagai teknik pengujian yang memanfaatkan penggunaan sumber yaitu membandingkan dan mengecek terhadap data ayang diperoleh. Teknik triangulasi yang digunakan adalalah teknik pemeriksaan yang memnafaatkan penggunaan sumber (wawancara dan triangulasi) dengan sumber berarti membandingkan dengan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. Triangulasi ini dilakukan dengan cara :
  • Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi.
  • Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang saling berkaitan.
  • Mengadakan perbincangan dengan banyak pihak untuk mencapai pemahaman tentang suatu atau berbagai hal.
  1. Peer debriefing (membicarakannya dengan orang lain) yaitu mengekpos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat.
  2. Mengadakan member check yaitu dengan menguji kemungkinan dugaan-dugaan yang berbeda dan mengembangkan pengujian-pengujian untuk mengecek analisis, dengan mengaplikasikannya pada data, serta dengan mengajukan pertanyan-pertanyaan tentang data.
  3. Transferabilitas (transferability). Kreteria ini digunakan untuk memenuhi kreteria bahwa hasil penelitian yang dilakukan dalam konteks (setting) tertentu dapat ditranfer ke subyek lain yang memilki tipologi yang sama. Teknik ini menuntut peneliti agar melaporkan hasil penelitiannya sehingga uraiannya itu seteliti dan secermat mungkin yang menggambarkan konteks tempat  penelitian diselenggarakan. Jelas laporan itu harus mengacu pada fokus penelitian. Uraiannya harus mengungkapkan secara khusus sekali segala sesuatu yang dibutuhkan oleh pembaca agar ia dapat memahami temuan-temuan yang diperoleh. Temuan itu sendiri tentunya bukan bagian dari uraian rinci, melainkan penafsirannya yang dilakukan dalam bentuk uraian rinci dengan segala macam pertanggungjawaban berdasarkan kejadian-kejadiannya. Moeloeng : (2006 : 327).
  4. Dependabilitas (dependability). Kreteria ini dapat digunakan untuk menilai apakah proses penelitian kualitatif bermutu atau tidak, dengan mengecek : apakah si peneliti sudah cukup hati-hati, apakah membuat kesalahan dalam mengkonseptualisasikan rencana penelitiannya, pengumpulan data, dan penginteprestasiannya. Teknik terbaik yang digunakan adalah dependability audit dengan meminta dependent dan independent auditor untuk mereview aktifitas peneliti.
  5. Konfirmabilita (confirmability). Merupakan kreteria untuk menilai mutu tidaknya hasil penelitian. Jika dependabilitas digunakan untuk menilai kualitas hasil penelitian, dengan tekanan pertanyaan apakah data dan informasi serta interpretasi dan lainnya didukung oleh materi yang ada dalam audit trail.

BAB IV

PEMBAHASAN

Istilah profesionalisme berasal dari profession. Dalam Kamus Inggris Indonesia, profession berarti pekerjaan. Arifin dalam buku Kapita Selekta Pendidikan mengemukakan bahwa profession mengandung arti yang sama dengan occupation atau pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan atau latihan khusus. Dalam buku yang ditulis oleh Kunandar yang berjudul Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan disebutkan pula bahwa profesionalisme berasal dari kata profesi yang artinya suatu bidang pekerjaan yang ingin atau akan ditekuni oleh seseorang. Profesi juga diartikan sebagai suatu jabatan atau pekerjaan tertentu yang mengisyaratkan pengetahuan dan keterampilan khusus yang diperoleh dari pendidikan akademis yang intensif. Jadi profesi adalah suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian tertentu.

Menurut Martinis Yamin profesi mempunyai pengertian seseorang yang menekuni pekerjaan berdasarkan keahlian, kemampuan, teknik, dan prosedur berlandaskan intelektualitas. Jasin Muhammad yang dikutif oleh Yunus Namsa, beliau menjelaskan bahwa profesi adalah suatu lapangan pekerjaan yang dalam melakukan tugasnya memerlukan teknik dan prosedur ilmiah, memiliki dedikasi serta cara menyikapi lapangan pekerjaan yang berorientasi pada pelayanan yang ahli. Pengertian profesi ini tersirat makna bahwa di dalam suatu pekerjaan profesional diperlukan teknik serta prosedur yang bertumpu pada landasan intelektual yang mengacu pada pelayanan yang ahli. Berdasarkan definisi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa profesi adalah suatu pekerjaan atau keahlian yang mengisyaratkan kompetensi intelektualitas, sikap dan keterampilan tertentu yang diperoleh melalui proses pendidikan secara akademis. Dengan demikian, Kunandar mengemukakan profesi guru adalah keahlian dan kewenangan khusus di bidang pendidikan, pengajaran, dan pelatihan yang ditekuni untuk menjadi mata pencaharian dalam memenuhi kebutuhan hidup yang bersangkutan. Guru sebagai profesi berarti guru sebagai pekerjaan yang mengisyaratkan kompetensi (keahlian dan kewenangan) dalam pendidikan dan pembelajaran agar dapat melaksanakan pekerjaan tersebut secara efektif dan efesien serta berhasil guna.

Adapun mengenai kata “Profesional”, M. Uzer Usman memberikan suatu kesimpulan bahwa suatu pekerjaan yang bersifat profesional memerlukan beberapa bidang ilmu yang secara sengaja harus dipelajari dan kemudian diaplikasikan bagi kepentingan umum, kata “Profesional”, itu sendiri berasal dari kata sifat yang berati pencaharian dan sebagai kata benda yang berarti orang yang mempunyai keahlian seperti guru, dokter, hakim, dan sebagainya. Dengan kata lain, pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat memperoleh pekerjaan lain. Dengan bertitik tolak pada pengertian guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. H.A.R Tilaar menjelaskan pula bahwa seorang profesional menjalankan pekerjaannya sesuai dengan tuntutan profesi atau dengan kata lain memiliki kemampuan dan sikap sesuai dengan tuntutan profesinya. Seorang profesional menjalaskan kegiatannya berdasarkan profesionalisme, dan bukan secara amatiran. Profesionalisme bertentangan dengan amatirisme. Seorang profesional akan terus-menerus meningkatkan mutu karyanya secara sadar, melalui pendidikan dan pelatihan.

Adapun mengenai pengertian profesionalisme itu sendiri adalah suatu pandangan bahwa suatu keahlian tertentu diperlukan dalam pekerjaan tertentu yang mana keahliannya itu hanya diperoleh melalui pendidikan khusus atau latihan khusus. Profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian. Sementara itu guru yang profesional adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Dengan kata lain, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian guru profesional adalah orang yang memililki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Guru yang profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya. Sedangkan Oemar Hamalik mengemukakan bahwa guru profesional merupakan orang yang telah menempuh program pendidikan guru dan memiliki tingkat master serta telah mendapat ijazah negara dan telah berpengalaman dalam mengajar pada kelas-kelas besar.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, profesi adalah suatu jabatan, profesional adalah kemampuan atau keahlian dalam memegang suatu jabatan tertentu, sedangkan profesionalisme adalah jiwa dari suatu profesi dan profesional. Dengan demikian, profesionalisme guru dalam penelitian ini adalah profesionalisme guru sekolah dasar, yaitu seorang guru yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam mengajar di sekolah dasar khususnya guru kelas serta telah berpengalaman dalam mengajar di sekolah dasar sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru sekolah dasar dengan kemampuan yang maksimal serta memiliki kompetensi sesuai dengan kreteria guru profesional, dan profesinya itu telah menjadi sumber mata pencaharian.

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja guru adalah motivasi. Oleh karena itu upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kinerga guru adalah dengan meningkatkan faktor motivasi yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri.

Istilah motivasi berasal dari bahasa Latin “movere” yang berarti “menggerakkan”. Artinya motivasi dapat dipahami sebagai suatu usaha untuk menggerakkan suatu obyek (manusia) yang pada akhirnya akan menimbulkan suatu perilaku, mengarahkan perilaku dan mempertahankan intensitas perilaku. Berdasarkan pengertian ini makna motivasi menjadi berkembang.

Untuk lebih memperjelas pembahasan tentang motivasi, berikut pengertian motivasi menurut beberapa para ahli, diantaranya yaitu : Secara etimologis, Winardi (2002 :1) menjelaskan istilah motivasi (motivation) berasal dari perkataan bahasa latin, yakni movere yang berarti menggerakkan (to move). Diserap dalam bahasa Inggris menjadi motivation berarti pemberian motif, penimbulan motif atau hal yang menimbulkan dorongan atau keadaan yang menimbulkan dorongan. Selanjutnya Winardi (2002:33) mengemukakan, motivasi seseorang tergantung kepada kekuatan motifnya. Berdasarkan hal tersebut diskusi mengenai motivasi tidak bisa lepas dari konsep motif. Pada intinya dapat dikatakan bahwa motif merupakan penyebab terjadinya tindakan. Steiner sebagaimana dikutif Hasibuan  (2003:95) mengemukakan motif adalah “suatu pendorong dari dalam untuk beraktivitas atau bergerak dan secara langsung mengarah kepada sasaran akhir”. Ali sebagaimana dikutif oleh Arep dan Tanjung (2004:12) mendefinisikan motif sebagai “sebab-sebab yang menjadi dorongan tindakan seseorang”.

Winardi (2002:33) menjelaskan, motif kadang-kadang dinyatakan orang sebagai kebutuhan, keinginan, dorongan, yang muncul dalam diri seseorang. Motif diarahkan ken arah tujuan-tujuan yang dapat muncul dalam kondisi sadar atau dalam kondisi bawah sadar. Motif-motif merupakan “mengapa” dari perilaku. Mereka muncul dan mempertahankan aktivitas, dan mendeterminasi arah umum perilaku seorang individu. Hubungan antara motif, tujuan, dan aktivitas dapat ditunjukkan pada gambar berikut ini

Gambar 1

Sebuah Situasi yang Memotivasi

Sumber: Winardi. (2002:41)

Gambar 1 menunjukkan sebuah situasi yang memotivasi, di mana motif-motif seorang individu, diarahkan ke arah pencapaian tujuan. Motif terkuat, menimbulkan prilaku, yang bersifat diarahkan kepada tujuan atau aktivitas tujuan. Mengingat bahwa tidak semua tujuan dapat dicapai, maka para individu tidak selalu mencapai aktivitas tujuan, terlepas dari kekuatan motif yang ada. Jadi dengan demikian aktivitas tujuan dinyatakan dalam dambar berupa garis putus-putus.

Berdasarkan uraian di atas, dalam konsep motif terkandung makna (1) motif merupakan daya pendorong dari dalam diri individu, (2) motif merupakan penyebab terjadinya aktivitas, dan (3) motif diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian motif dapat didefinisikan sebagai daya pendorong dari dalam diri individu sebagai penyebab terjadinya aktivitas, yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu.

Motivasi telah dirumuskan dalam sejumlah definisi yang berlainan. Walaupun begitu, tentang subtansinya tidak banyak berbeda. Istilah motivasi menurut Sumantri (2001;53), biasanya digunakan untuk menunjukkan suatu pengertian yang melibatkan tiga komponen utama, yaitu (1) pemberi daya pada prilaku manusia (energizing); (2) pemberi arah pada perilaku manusia (directing); (3) bagaimana prilaku itu dipertahankan (sustaining). Campbell dalam Winardi (2002:4) menyatakan bahwa motivasi berhubungan dengan (1) pengarahan prilaku, (2) kekuatan reaksi setelah seseorang karyawan telah memutuskan arah tindakan-tindakan tertentu, dan (3) persistensi prilaku, atau berapa lama orang yang bersangkutan melanjutkan pelaksanaan perilaku dengan cara tertentu.

Mitchell (1982) dalam Winardi (2002:28-29) menjelaskan, motivasi memiliki sejumlah sifat yang mendasarinya, yaitu : (1) merupakan fenomena individual, artinya masing-masing individu bersifat unik, dan fakta tersebut harus diingat pada riset motivasi, (2) motivasi bersifat intensional, maksudnya apabila seseorang karyawan melaksanakan suatu tindakan, maka hal tersebut disebabkan karena orang tersebut secara sadar, telah memilih tindakan tersebut, (3) motivasi memiliki bermacam-macam fase. Para ahli telah menganalisis berbagai macam aspek motivasi, dan termasuk di dalamnya bagaimana motivasi tersebut ditimbulkan, bagaiman ia diarahkan, dan pengaruh apa menyebabkan timbulnya persistensinya, dan bagaimana motivasi dapat dihentikan.

Berendoom dan Stainer dalam Sedarmayanti (2000:45), mendefinisikan motivasi sebagai kondisi mental yang mendorong aktivitas dan memberi energi yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan memberi kepuasan atau mengurangi ketidakseimbangan. Hasibuan (2003:95) mendefinisikan motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang, agar mereka mau bekerja sama, efektif dan terintegrasi dengan segala upayanya untuk mencapai kepuasan. Vroom dalam Gibson (1991:185) mendefinisikan motovasi sebagai suatu proses yang menentukan pilihan antara beberapa alternatif dari kegiatan sukarela. Sebagai prilaku dipandang sebagai kegiatan yang dapat dikendalikan orang secara sukarela, dan karena itu dimotivasi. Mathis dan Jachson (2000: 89) mengemukan motivasi adalah merupakan hasrat di dalam seseorang yang menyebabkan orang tersebut melakukan tindakan. Wahjosumidjo (1984:50) mengemukakan motivasi dapat diartikan sebagai suatu proses psikologi yang mencerminkan interaksi antara sikap, kebutuhan, persepsi, dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang. Proses psikologi timbul diakibatkan oleh faktor di dalam diri seseorang itu sendiri yang disebut intrisnsik dan ekstrinsik. Faktor di dalam diri seseorang bisa berupa kepribadian, sikap, pengalaman dan pendidikan, atau berbagai harapan, cita-cita yang menjangkau ke masa depan sedang faktor dari luar diri dapat ditimbulkan oleh berbagai factor-faktor lain yang sangat kompleks. Tetapi baik faktor ekstrinsik maupun faktor intrinsik motivasi timbul karena adanya rangsangan.

Chung dan Megginson dalam Gomes (2001: 177) menjelaskan motivation is defined as goal-directed behavior. It concerns the level of effort one exerts ini pursuing a goal….it is closely related to employee satisfaction and job performance (motivasi dirumuskan sebagai prilaku yang ditujukan pada sasaran motivasi berkaitan dengan tingkat usaha yang dilakukan oleh seseorang dalam mengejar suatu tujuan….motivasi berkaitan erat dengan kepuasan pekerjaan dan performansi pekerjaan). Jones sebagaimana dikutip Indrawijaya (1989:68) merumuskan “motivation is concerned with how behavior is activated, maintained, directed, and stopped”. Duncan (dalam Indrawijaya, 1989:68) mengatakan bahwa “from a managerial perspektif, motivation refers to any conscious attempt to influence behavior toward the accomplishment of organization goals”.

Wlodkowski (1985) menjelaskan motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan prilaku tertentu, dan yang memberi arah dan ketahanan pada tingkah laku. Motivasi juga dapat dijelaskan sebagai “suatu tujuan yang ingin dicapai melalui prilaku tertentu”. Pengertian ini lebih condong ke arah behaviorism.

Ames dan Ames (1954) menjelaskan motivasi dari pandangan kognitif. Menurut pandangan ini, motivasi difinisikan sebagai perspektif yang dimiliki seseorang mengenai dirinya sendiri dan lingkungannya. Sebagai contoh, seorang guru yang percaya bahwa dirinya memiliki kemampuan yang diperlukan untuk melakukan tugas, akan termotivasi untuk melakukan tugas tersebut. Konsep diri yang positif ini menjadi motor penggerak bagi kemauannya.

Memperhatikan uraian di atas, Gibson dalam Wanardi (2002:4) menjelaskan bahwa apabila kita mempelajari berbagai macam pandangan dan pendapat mengenai motivasi, dapat ditarik sejumlah kesimpulan (1) para teoritisi menyajikan penafsiran-penafsiran yang sedikit berbeda tentang motivasi dan mereka menitikberatkan factor-faktor yang berbeda-beda, (2) motivasi berkaitan dengan prilaku dan kinerja, (3) motivasi mencakup pengarahan ke arah tujuan, dan  (4) dalam hal mempertimbangkan motivasi, perlu memperhatikan faktor-faktor fisiologikal, psikologikal, dan lingkungan sebagai faktor-faktor penting.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. A. Kesimpulan

Pembinaan Profesional Guru melalui pembentukan gugus sekolah di sekolah dasar, maka telah jelas bahwa, salah satu wadah atau tempat yang dapat digunakan untuk membina dan meningkatkan profesional guru sekolah dasar di antaranya melalui Kelompok Kerja Guru (KKG), selain peningkatan profesional melalui jenjang akademik berupa sekolah atau pendidikan formal.

Kelompok Kerja Guru (KKG) sebagai kelompok kerja seluruh guru dalam satu gugus, pada tahap pelaksanaannya dapat dibagi ke dalam kelompok kerja guru yang lebih kecil, yaitu kelompok kerja guru berdasarkan jenjang kelas, dan kelompok kerja guru berdasarkan atas mata pelajaran. Untuk itu Kelompok Kerja Guru (KKG) memiliki tujuan, (1) memfasilitasi kegiatan yang dilakukan di pusat kegiatan guru berdasarkan masalah dan kesulitan yang dihadapi guru, (2) memberikan bantuan profesional kepada para guru kelas dan mata pelajaran di sekolah, (3) meningkatkan pemahaman, keilmuan, keterampilan serta pengembangan sikap profesional berdasarkan kekeluargaan dan saling mengisi (sharing), (4) meningkatkan pengelolaan proses pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan (Pakem).

Melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) dapat dikembangkan beberapa kemampuan dan keterampilan mengajar, seperti yang di ungkapkan Turney (Abin, 2006), bahwa keterampilan mengajar guru sangat mempengaruhi terhadap kualitas pembelajaran di antaranya; keterampilan bertanya, keterampilan memberi penguatan, keterampilan mengadakan variasi, keterampilan menjelaskan, keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan memimpin diskusi kelompok kecil dan perorangan.

Menurut Hasibuan Botung dikutip oleh Ginting, Kelompok Kerja Guru (KKG) merupakan suatu wadah dalam pembinaan kemampuan profesional guru, pelatihan dan tukar menukar informasi, dalam suatu mata pelajaran tertentu sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menurut Julia Kelompok Kerja Guru (KKG) merupakan wadah dalam pembinaan profesional guru yang dapat dimanfaatkan untuk berkomunikasi, bertukar pikiran dan berbagi pengalaman, melaksanakan berbagai demonstrasi, aktraksi dan simulasi dalam pembelajaran. Sedangkan menurut Din Wahyudin : ”KKG merupakan wadah profesional guru yang aktif, kompak dan akrab. Di dalam wadah ini para guru dapat membahas permasalahan dari mereka dan untuk mereka”

Pendapat lain, Kelompok Kerja Guru (KKG) adalah suatu wadah pembinaan profesional bagi para guru yang tergabung dalam organisasi gugus sekolah dalam rangka peningkatan mujtu pendidikan (Anonim, 1997 :37). Kelompok Kerja Guru (KKG) yang anggotanya semua guru di dalam gugus, yang bersangkutan dimaksud sebagai wadah pembinaan profesional bagi para guru dalam upaya meningkatkan kemampuan profesional guru khususnya dalam melaksanakan dan mengelola kemampuan profesional guru khususnya dalam  melaksanakan  dan mengelola pembelajaran di sekolah dasar (Anonim, 1996 : 14). Secara operasional Kelompok Kerja Guru (KKG) dapat dibagi lebih lanjut menjadi kelompok yang lebih kecil bersadarkan jenjang kelas (misalnya kelompok guru kelas I dan seterusnya) dan berdasarkan mata pelajaran. Selanjutnya dalam sitem gugus Kelompok Kerja Guru (KKG) selain mendapat pembinaan secara langssung oleh Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah juga dari para tutor dan guru pemandu mata pelajaran. Mekanisme pembinaan profesional guru secara terus menerus dan berkesinambungan.

Menurut Ditjen Dikdasmen Tahun 1996/1997, Kelompok Kerja Guru (KKG) adalah kelompok kerja yang berorientasi pada peningkatan kualitas pengetahuan, penguasaan materi, teknik mengajar, interaksi guru murid, metode mengajar, dan lain-lain yang berfokus pada penciptaan kegiatan belajar mengajar yang aktif. Dari pengertian tersebut di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa Kelompok Kerja Guru adalah ajang perkumpulan untuk membicarakan masalah-maslah yang dihadapi dalam proses belajar mengajar sehingga guru tersebut lebih profesional dan meningkatkan mutu dari proses pembelajaran itu sendiri.

Berdasarkan tujuan dan sasarannya, KKG akan mampu memberikan solusi, dan sebagai sarana meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru SD sesuai harapan dan tuntutan. Semoga!

  1. Saran

Dalam penelitian ini, penulis memberikan beberapa saran kepada para guru. Hal ini untuk meningkatkan  profesionalisme dan motivasi guru dalam menjalankan tugas profesionalnya. Adapun saran yang diajukan penulis adalah sebagai berikut :

  1. Memperhatikan peran guru dan tugas guru sebagai salah satu faktor determinan bagi keberhasilan pendidikan, maka keberadaan dan peningkatan profesi guru menjadi wacana yang sangat penting. Pendidikan di abad pengetahuan menuntut adanya manajemen pendidikan modern dan profesional dengan bernuansa pendidikan.
  2. Kemerosotan pendidikan bukan diakibatkan oleh kurikulum tetapi oleh kurangnya kemampuan profesionalisme guru dan keengganan belajar siswa. Profesionalisme menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya. Profesionalisme bukan sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan.
  3. Guru yang profesional pada dasarnya ditentukan oleh attitudenya yang berarti pada tataran kematangan yang mempersyaratkan willingness dan ability, baik secara intelektual maupun pada kondisi yang prima. Profesionalisasi harus dipandang sebagai proses yang terus menerus. Usaha meningkatkan profesionalisme guru merupakan tanggung jawab bersama antara LPTK sebagai pencetak guru, instansi yang membina guru (dalam hal ini Depdiknas atau yayasan swasta), PGRI dan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta : Rineka Cipta, 1996.

Busuki, Wibawa, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Tenaga kependidikan, 2003.

Bogdan, Robert C, dan Biklen, Qualitative Research For Education to Theory dan Methode, Basoton : Allyn Bacon, Inc, 1982

Bogdan, Robert dan Steven J,  Kualitatif Dasar-Dasar Penelitian (Terjemhan A. Khozin Afandi), Surabaya : Usaha Nasional, 1991

Creswell, John W, Research Design Qualititave & Qualitative Approaches, London : Sage Publication, 1994

Depdikbud, Petunjuk Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar, Jakarta : Depdikbud,1995/1996

Depdikbud, Didaktik/Metodik Umum, Jakarta : Depdikbud, 1992/1993

Depdikbud, Kurikulum Pendidikan Dasar, Jakarta : Depdikbud, 1993

Depdikbud, Peran dan Fungsi Pusat Kegiatan Guru (PKG) dalam Sistem Pembinaan Profesional Guru, Jakarta : Depdikbud, 1994/1995.

Depdikbud, Pedoman Pengelolaan Gugus Sekolah, Jakarta : Depdikbud, 1995/1996.

Depdikbud, Petunjuk Teknis  Penyelenggaraan Kelompok Kerja Guru Mata Pelajaran PPKn SD, Jakarta : Depdikbud, 1996.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka. 2002. Cet. Ke-2.

Fattah, Nanang, Manajemen Berbasis Sekolah, Bandung : Andira, 2000.

Gibson, James L., John M.Ivancevich dan James H. Donneslly, Jr., Organisasi, Prilaku, Struktur, Proses (Alih Bahasa Nunuk Adiarni), Jakarta : Binarupa Akasara, 1996.

Gomes Faustino Cardoso, Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogyakarta : Andi Offset, 2001.

Hamalik, Oemar, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2006, cet, ke-4

Hasibuan, Melayu SP., Organisasi dan Motivasi Dasar Peningkatan Produktivitas, Jakarta : Bumi Aksara, 2003.

http:/www.unissula.ac.id/v1/download/Peraturan/PP_19_2005_STANDAR_NAS_PENDDKN.PDF/2010/02/25/.

http:/www.setjen.depdiknas.go.id/prodhukum/dokumen/5212007134511 Permen_162007.pdf/2010/02/25/.

http:/suciptoadi.wordpress.com.2007/12/29/profesionalisme-dunia-pendidikan-oleh-winarno-surakhmad/2010/02/25/.

Indrawijaya, Adam I., Prilaku Organisasi, Bandung : Sinar Baru, 1989.

‘Isa, Kamal Muhammad, Manajemen Pendidikan Islam, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2007, Cet.Ke-1.

Joni, T. Raka, Pendekatan Kompetensi Integralistik, Jakarta : Dirjen Dikti,1980.

Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan(KTSP) dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2007, Cet. Ke-1.

Miler, Matthes B dan Huberman, Michael, Analisis Data Kualitatif (Terjemahan Tjetjep Rohendi Rohidi), Jakarta : UI-Press, 1992.

Moeloeng, J. Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : Remaja Rosdakarya, 1994.

Mulyasa, E, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2008, Cet. Ke-3.

Namsa, M. Yunus, Kiprah Baru Profesi Guru Indonesia Wawasan Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta : Pustaka Mapan, 2006, Cet. Ke-1.

Noeng, Moehadjir, Metode Penelitian Kualitatif, Yogyakarta : Rake Sarasin, 1989.

Nugroho, Hasil Penelitian (Ruang Lingkup Psikologis dan Kinerja Guru SD di Jateng 1993/1994), tidak dipublikasikan, 1993.

Pedoman Pelaksanaan Sistem Pembinaan Profesional Guru Sekolah Dasar Melalui Gugus Sekolah, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah, 1997.

Psikologi Pendidikan, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2003, Cet. Ke-19.

Psikologi Pendidikan, Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya, 1996, Cet. Ke-2.

Robert L. Mathis and John H. Jackson, Human Resource Management, New York : South – Western College Publishing.

Sabri, Alisuf, Mimbar Agama dan Budaya, Jakarta : Pusat penelitian dan pengabdian Pada Masyarakat IAIN, 1992, Cet. Ke-1.

Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2001.

Sedarmayanti, Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja, Bandung : Mandar Maju, 2001.

Sholeh, Asrorun, Ni’am, Membangun Profesionalisme Guru Analisis Kronologis atas Lahirnya Undang-Undang Guru dan Dosen, Jakarta : elSAS, 2006, Cet. Ke-1.

Sudjana, Nana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung : PT Sinar Baru Algesindo, 1998, Cet. Ke-4.

Suryana, Sumatri, Prilaku Organisasi, Bandung : Universitas Padjajaran, 2001.

Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan Perspektif Islam, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2005, Cet. Ke-6

Tilaar, H.A.R, Membanahi Pendidikan Nasional, Jakarta : PT.Reneka Cipta, 2002, Cet.Ke-1.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005, Tentang Guru dan Dosen, Bandung : Citra Umbara, 2006, Cet. Ke-1.

Usman, M. Uzer, Menjadi Guru Profesional, Bandung : PT. remaja Rosdakarya, 2006, Cet. Ke-20.

Wahjosumidjo, Kepemimpinan dan Motivasi, Jakarta : Ghalia Indonesia, 1994.

Winardi, Motivasi dan Motivation dalam Manajemen, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2002.

Winkel, W.S, Psikologi Pengajaran, Jakarta : Grasindo, 1996, Cet. Ke-4

Yamin, Martinis, Profesionalisasi guru dan Implementasi KTSP, Jakarta : Gaung Persada Press, 2007, Cet.Ke-2.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: